Twitter Blogger :

Diberdayakan oleh Blogger.

Who's the blogger?

Foto saya
Truth is about discovery and fun adventure.
Senin, 16 Januari 2012

14-15 Januari 2012

Part 1 - How to make Chemistry of Travelling.

Alhamdullilah atas Rahmat dan Karunia dari Sang Maha Kuasa karena telah menganugerahi otak yang Professor tukang bikin harddisk-pun belum menemukan angka kuantitas memori otak, kalau saya asumsikan secara ngasal mungkin sekitar 999TB (Terra byte). Sedangkan yang menjadikan otak berguna atau tidak adalah seberapa besar daya ingat dan daya pakainya. Selagi masih ingat saya menyegerakan menulis jurnal tatkala 11 Mahasiswa membayar masa penat kuliahnya dengan mengunjungi salah satu objek wisata membanggakan di daerah Jawa Barat.

Untuk sebagian orang mungkin menganggap bahwa travelling ke objek wisata lokal adalah sesuatu nan tak aneh, tapi variable lain yang membuat kesan berbeda adalah ; ‘bersama siapa pergi’, ‘dengan apa anda pergi’, ‘kadar seru (reureuseupan in sundanese btw) dalam petualangan’ dan terutama ‘pengalaman dan hikmah apa yang para pelancong dapatkan’. 

Atas ki-ka : Yongkru, Fikri, Ucup, Aul, Arif, Dem, Adang, Fahmy.
Bawah ki-ka : Aris, Boy, Bebek.



Dari variable diatas akan didapat kualitas kegiatan di tempat wisata, dan memang sangat panjang untuk dijabarkan hehehee…. Maka mending dijurnalkan secara special saja seperti saat ini. 11 Mahasiswa yang membayar penat tersebut adalah : Boy, Fahmy, Aul, Aris, Fikri, Ucup, Adang, Dem, Bebek, Arif dan saya sendiri. Namun saya ambil 9,09% sample yang mewakili jurnal liburan ini.

Foto-foto yang ditampilkan di blog ini telah lulus uji sensor berdasarkan kesepakatan para pihak terkait. Untuk zooming foto, silahkan membukanya di tab baru.


Part 1 - Kuda Besi part 1.

Alkisah Ibu saya sempat mendumel dan mendenguskan nafas panjang tatkala saya pamit pergi rekreasi ke Pangandaran menggunakan ‘Motor Dosen’ (julukan motor saya oleh Saudara Fahmy dan Bebek btw. Hayo ngaku siahhh? ‘Aslining ceesku’ (tagwords baru oleh Saudara Aul dan Boy btw)). Okeh kembali fokus. Hari jumat tanggal 13 januari, Boy mengajak ke bengkel untuk check-up motor.

Motor saya dilahirkan tahun 2002 di Jepang, walau motor tersebut belum pernah lagi pulang ke kampung halamannya, dia selalu sabar dan bahagia berada di Indonesia. Motor merah tersebut sempat mengalami regenerasi bentuk sesuai tangan pemiliknya, awalnya dipakai oleh Kakak-kakak saya bernama Teh Ira dan Bang Heru, kemudian tahun 2010 jatuh ke tangan saya hingga kini.

Saya pikir ketika hari jumat tersebut Boy hanya menyarankan untuk mengsetting carburator agar lebih enak dipakai selama perjalanan, rupanya kaki shockbreaker depan mengalami cedera cukup menyebalkan sehingga tangan si pengendara serasa membawa kuda sungguhan berkaki baja. Berkat cedera tersebut kocek yang dirogoh cukup membuat keuangan berkeringat.

Istirahat sejenak di Banjar
3 dari enam Kuda Besi
Rechecking salah satu Motor
Istirahat lagi
Yang membuat Ibu saya mendumel sangat keras yaitu maksud menservis motor tersebut untuk ke pangandaran. Tapi saya bersikeras pergi dengan dana ‘seadanya’, sampai di daerah Kota Tasikmalaya tak ada yang aneh pada performa si ‘Motor Dosen’ kecuali jok motor yang dihiasi kresek hitam, tapi tiba-tiba feeling saya gak enak tentang kesehatan si Motor Dosen ini.

Faktor feeling tak enak didukung oleh kurang sehatnya salah satu motor personil ketika kami menempuh perjalanan, berkali-kali kami harus istirahat untuk mengecek kesehatan para kuda besi dan benar saja! ketika kami sampai di banjarsari lampu motor saya ngadat, hipotesa teknisnya oleh saudara Aris ; Kabel socket terminal lampu nyaris putus. Mari kita berhenti sejenak tentang Kuda Besi dan langsung menuju tempat tujuan.

Part 3 - Man of The Match dan Hipotesa Lagu Evening Avoid (Original Javanese version).

Setahun tiga belas hari dua puluh jam diri ini tak menatap laut, hawa hangat angin pantai menuju laut menyambut kami di gerbang utama Pangandaran, saudara Valditya alias Adang mewakili kami untuk bernegosiasi agar mendapat angka tiket yang adil, dan deal lima ribu rupiah dirasa cukup untuk 11 mahasiswa lajang.

Malam itu mungkin saya tak bisa merasakan seluruh aura kumpulan orang yang sama-sama berlibur seperti kami, tapi aura antusias untuk membayar penat sangat terasa tatkala pemandangan ceria orang lalu lalang di pantai pangandaran. Belum lagi sense fun yang diciptakan masing-masing rombongan mungkin tidak saya dengar jelas tapi bagi kami suasana fun di dalam atau di luar kampus berbeda jauh. Kalau perbincangan kampus ada sedikit jaringan dengan mata kuliah atau UAS yang belum selesai sedangkan kalau diluar persentasenya sangatlah kecil untuk membicarakan kuliah. Kami menyewa 2 kamar bersebelahan di satu penginapan.

Sesudah berjalan-jalan menyusuri pantai sambil menyiapkan logistik pertandingan ‘Swing Bottle cause Mellow Faint’ baru kami tersadar ketika kembali ke tempat menginap, bahkan hal ini baru tersadar oleh saudara Adang dan Dem ketika tau bahwa pemilik penginapan merupakan Bapak Haji yang semarga dengan saudara Ahmad Dzikri Fauzi alias Boy bin Asep Billy Douglas Mahdar (Boy mengaku keturunan Koboi Texas btw) . Ahhhh....... kami menyesalkan Boy yang tidak bernegosisasi harga dengan Bapak Haji Asep Dopla, siapa tahu dengan marga Ayahnya tersebut kami bisa menekan biaya pengeluaran. “Yang terhormat Bapak Haji Asep Dopla, mohon tunggu kedatangan kami yang selanjutnya, saudara Boy akan mengeluarkan skill bicara bak petasan china di malam imlek”. 
@Pak Haji Asep Dopla place, run a Swing Bottle of Mellow Faint match.


Karpet digelar di teras kamar, kami memulai pertandingan ‘Swing Bottle cause Mellow Faint’. Satu persatu tak menginginkan kebolehan menuju goal, beberapa menit berlalu tiga personil menyerah dan semoga saja saya tidak keseringan mendapat giliran dan ternyata permintaan saya tidak dikabulkan. Bisa dibilang di malam tersebut saya menjadi Man of The Match, hal ini sangat jelas tatkala saya harus berkali-kali membuang ludah dikamar mandi dengan diikuti kejaran paparazzi yang menginginkan foto saya melakukan jackpot. Bagusnya Jackpot tak terlaksana.

Ludah berat yang dirasakan menjadi pertanda bahwa enzim leukosit di tubuh melakukan pertahanan terhadap efek karbon dioksida. Agar asam lambung di tubuh tidak berkontraksi dengan efek tersebut, tubuh harus melakukan kinetika sederhana untuk menyerap cairan dioksida. Maka mau tak mau dan kebetulan saya ingin merokok, saya harus jalan-jalan sendirian ketika seluruh personil beranjak tidur.

Di kamar gelap nomor 2 tempat kami menginap, 5 personil lain (ki-ka ; Fahmy, Fikri, Aris, Boy dan Aul) memanggil tidur, saya membasahi rambut dan wajah menahan udara panas laut dan dalam keadaan 70% stabil saya keluar dari penginapan. Angin terasa sepoi-sepoi hangat di pantai, rokok mild dibakar untuk menstabilkan trombosit yang mengalir terlalu tegang di otak.

Aw…. Dua gadis berselendang warna saya lupa lagi btw, tempat menginap saya lupa lagi, namanya juga saya lupa lagi dan kertas berisi nomor handphonenya hilang entah kemana (rasanya cukup wajar apabila saya lupa saat itu), yang masih saya ingat adalah mereka kuliah di UK Maranatha (semoga kita berjumpa lagi hei gadis!).

Kamar nomor 2.
Kamar nomor 3.
Sesudah setengah jam saya berjalan-jalan agar menetralkan asam lambung, saya kembali ke penginapan, untung saja Aul yang belum tertidur membukakan pintu untuk turis berwajah jepang setengah gila yang tengah dimabuk asmara karena nekat berkenalan dengan dua gadis asing. Saya mengambil posisi diantara Fikri dan Aris, sepertinya benar kata iklan salah satu perusahaan rokok di jawa tengah yang membuat tagwords; ‘sempit karena badan, muat karena teman’. Tubuh ini bisa merebah nyaman di kasur dengan posisi horizontal seperti ikan pindang.

Seperti biasa salah satu anak Adam yang mungkin belum menemukan batas antara candaan dan keseriusan melakukan hal enteng yang disebut dengan ‘bercanda’, apabila anda sering melihat film yang kisahnya berisikan akibat hukum karma bermain-main dengan kenyataan, di kamar penginapan kami mungkin terjadi kisah yang serupa namun tak sama, sederhana dan tidak berakibat besar. Alhamdullilah sampai saat ini kami semua hidup tenang.

Anak Adam jail berambut sikat gigi tersebut menyalakan satu bait lagu Evening Avoid melalui handphonenya dengan maksud norak ‘bercanda’, dia pikir mungkin mitos kidung tersebut tidaklah benar adanya, sekalipun jahil saya keterlaluan tapi saya tidak mau bermain-main dengan mitos tersebut.

Setelah 5 menit satu bait lagu tersebut dinyalakan, saya mendengar satu suara misterius… ah! Mungkin hanya sugesti akibat pengaruh kadar karbon yang belum hilang, tapi tiba-tiba satu suara lagi bertanya dengan intonasi antusias. 

“yong maneh ngadenge teu!?” tanya Aul yang masih terjaga.
“heu’euh!” kata saya lirih dan cuek, tapi tiba-tiba saya membuka mata penuh karena terkejut Aul juga mendengar suara tersebut.
“anteupkeun we lah! sugesti maneh eta mah ul!” kata Fahmy yang belum tidur juga.
“urang ge ngadenge mi!” kata saya kembali.
"barudak di sabeulah eta mah!” kata Aris yang juga mendengar suara misterius tersebut.
"huaaaaaaahhhhhh……..!!!!” teriak boy dengan suara petasan diantara Aul dan Aris. Tapi suara misterius itu tetap terdengar lirih.
“cik ningal di luar” kata Fikri, dan ternyata kami ber-enam belum tertidur karena mendengar suara misterius tersebut.
“huaaaaaaahhhhhh……..!!!!” teriak Boy kembali ketika dia mengintip Jendela. Tapi sayang suara misterius itu masih ada dan bukan perbuatan orang iseng di jendela, ada kecurigaan teman-teman penghuni sebelah memasang lagu tersebut dengan posisi speaker dihadapkan ke tembok.

Saya pun bangkit dan mengkonfirmasi ke kamar sebelah dengan perasaan agak kesal.

"cik atuh euy! Tong jarail!” kata saya yang membuka pintu.
"jahil naon ari maneh!?” kata Bebek diikuti Dem lalu Ucup yang belum tertidur.
“oh…. sorry atuh bro!” Kata saya heran dan meminta maaf karena mengira mereka jahil.
“aya naon ai maneh?” tanya Bebek kembali.
“denge we ka sabelah!” kata saya seraya pergi kembali ke kamar.

Dan kami pun melanjutkan kembali tidur sambil menghiraukan suara apapun yang muncul, dan lagi-lagi suara misterius itu muncul kembali. Terpaksa kami dengarkan dengan seksama, ada beberapa hipotesa saya mengenai suara tersebut ;

1.Suara adegan artis menangis dari film sinetron, tapi tidak mungkin tayang karena hari sudah jam 1 malam dan semua kamar di lantai 2 ini tidak ada yang menyalakan tivi.
2.Suara gadis yang bertengkar dengan pacarnya di kamar bawah, tidak mungkin juga karena kamar dilantai 1 kosong.
3.Suara ringtone hape, ada kemungkinan! lalu saya mencoba menelepon satu-persatu handphone yang dipunyai 6 orang di kamar ini. Hasilnya ;
1.Aul                ; nomor tidak aktif.
2.Aris               ; nomor tidak aktif.
3.Fahmy          ; nomor tidak aktif.
4.Fikri              ; aktif, tapi ringtonenya bukan suara isak tangis.
5.Boy               ; aktif, bahkan memperlihatkan hp yang berdering di tangannya.

Tapi tetap saja suara tersebut ada, sekali-kali suara tersebut berhenti dan ada lagi, setelah 10 menit berlalu tiba-tiba satu suara lain terdengar dari balik pintu.
‘tok tok tok….’ Pintu yang diketuk sopan tersebut saya buka perlahan, ternyata saudara Ucup dari kamar sebelah masih penasaran dengan maksud kedatangan saya sepuluh menit lalu.

“aya naon sih?” tanya Ucup lirih.
“dengekeun geura!” ucap Boy, lalu saya masih mendengar jelas suara misterius berbisik tersebut. Namun hanya berdurasi 10 detik ketika Ucup berada di kamar kami.
“naon sih? Euweuh ah!” kata Ucup dan seraya pergi ke kamar sebelah.

Setelah ucup pergi kami masih mendengar suara tersebut dan saya punya satu spekulasi lagi bahwa suara tersebut merupakan rekaman dari speaker entah dimana, hal ini dibuktikan oleh pola lagu yang terdiri dari 4 bar dan ketukannya yang kadang sama berulang-ulang. Tapi saya hanya bisa berdoa, apabila suara itu memang ‘Tetangga dari Dunia Lain’, semoga diberikan ketenangan oleh Sang Maha Kuasa dan mempersilahkan kami menginap semalam itu.

Akhirnya atas usul Aul, TV dinyalakan untuk mencoba tertidur sayangnya sinyal siaran tidak ada yang bersih. So! Saya memutar lagu di hp, tapi tetap saja suara tersebut ada lagi. Sampai akhirnya saya memutar 3 lagu mellow pengantar tidur dan Alhamdullilah kami bisa tidur nyenyak sampai esok hari.

Keesokan harinya hanya 2 orang dari kamar sebelah yang mengaku sebentar mendengar adanya suara misterius pada jam 1 malam, tapi anehnya saudara Bebek yang terjaga sampai jam empat pagi tidak mendengar suara misterius apapun.

Cari batasan antara bercanda dan serius. Don’t so serious but make high quality joke to warm it because Life without Joke like Night without light.


Part 3 - Kuda Besi part 2, Flashback SMA & Me as Man of The Match like Dono.

Hari-hari di pangandaran dibatasi kegiatan yang harus dilakukan beberapa personil dalam rutinitas penting pada awal pekan depan, ada yang harus UAS lagi, ada yang harus mengumpulkan tugas dll. Kegiatan pagi esok hari diantaranya bermain di pantai lalu menikmati wahana pantai seperti naik banana boat dll.

Dalam perjalanan ke bandung, tak sedikit juga problematika yang harus dihadapi untuk menunjang perjalanan pulang. Dahulu kala sewaktu muda, dunia harus dihiasi oleh sentuhan dunia gangster dan attribute gangster, paling tidak punya kenalan gangster mungkin sesuatu yang bergengsi oleh beberapa anak SMA yang ingin eksis. Saya akui itu karena saya dulu pernah muda dan sampai sekarang belum pantas disebut Tua.

Attribute gangster yang dulu membuat saya iri mungkin motor keren dengan suara knalpot garang. Ciri motor gangster yang paling mencolok adalah tidak adanya lampu belakang dan ya! Entah kenapa lampu belakang motor saya lepas tanpa permisi terlebih dahulu, bahkan lepasnya lampu motor dosen bukan disadari oleh pemiliknya.

Perjalanan Pulang, di Banjar
Istirahat di Rumah Sanak Adang
Yah! Berkat lepasnya lampu tersebut, Motor Dosen naik pangkatnya menjadi Motor Gengster (entah siapa yang memberi gelar), sampai sekarang saya tidak menyempatkan diri untuk mengganti lampu motor,
Istirahat di Malangbong
Lupa lagi entah dimana^^
agar motor saya tau rasanya disebut Motor gangster. Alhamdullilah Senin jam 2 dini hari, enam personil (Boy, Aul, Aris, Fikri, Fahmy dan saya) tiba di Kota Bandung dengan selamat wal’afiat, kami berkendara menyusuri Nagreg-Ujung Berung-Soekarno Hatta dengan kecepatan tinggi dan nyaris seperti gangster SMA. 

Ketika kami menyusuri Metro-Soekarno Hatta, kecepatan motor saya sudah berada di ambang kecepatan yaitu sekitar 110 km/jam, saudara Fahmy yang semotor dengan saya sudah mewanti-wanti agar tetap konsentrasi berhubung keadaan fisik yang menuntut istirahat.

Sehebat-hebatnya tupai melompat pasti jatuh juga dan sejago-jagonya Valentino Rossi berpacu di landasan balap pasti mengalami jatuh juga, lampu saya yang layak disebut lampu lilin membuat motor saya yang sedang melaju kencang menginjak lubang aspal dan tiba-tiba terbanglah satu benda misterius di atas kepala saya.

Setelah benda itu jatuh dengan frekuensi treable fiber barulah saya tersadar helm saya jatuh dibawa angin, belum cukup saat itu kabel gas saya terlilit dengan sendirinya hingga motor saya menarik gas secara otomatis. Karena kejadian itu saya dan fahmy menepi untuk memanggil bantuan kepada rombongan di depan.

10 menit berlalu Boy, Aul, Aris dan Fikri datang untuk memperbaiki motor saya, Boy dan Aul berspekulasi kejadian ini mengingatkan kami kepada Almarhum Pelawak Legendaris yang membintangi film ‘Chief’, di film tersebut terdapat scene Dono berkendara dengan kecepatan tinggi kemudian Helmnya terbang dibawa angin lalu hinggap di kepala pengendara dibelakangnya.

Akhirnya saya pulang seperti Gengster, suara knalpot garang, kecepatan tinggi, tanpa helm dan sampai rumah saya sakit rahang gigi karena menahan dingin. Malam itu terngiang nasihat Ayah yang berbunyi ‘punya barang itu dirawat! Jangan tunggu rusak doang’. Oh Dad…. I feels like teens again. Fungsi Touring selain silaturahmi yang semakin erat antara personil, juga mengikat bathin antara pengendara dengan kuda besinya. maka Kendaraan anda adalah Bagian tubuh anda.

.Regard Yongkru

0 komentar: