Twitter Blogger :
Blog Archive
-
▼
2012
(16)
-
▼
Januari
(6)
- Pangandaran Records with Various Impression.
- [Shocked Confession] Intro untuk Astrid
- Unsur non-fisik dalam tidur dan Pola subjek film P...
- Korelasi antara Matematika-Wanita dan kerennya say...
- Eksistensi Budaya Damai di Tempat dan Sinopsis Cat...
- Review saudara Pitoy,S.E. dan Review daya nalar UA...
-
▼
Januari
(6)
Diberdayakan oleh Blogger.
Blog saya yang lain
Who's the blogger?
Senin, 16 Januari 2012
14-15
Januari 2012
Part 1 - How to make Chemistry of
Travelling.
Alhamdullilah
atas Rahmat dan Karunia dari Sang Maha Kuasa karena telah menganugerahi otak yang
Professor tukang bikin harddisk-pun belum menemukan angka kuantitas memori otak,
kalau saya asumsikan secara ngasal mungkin sekitar 999TB (Terra byte). Sedangkan
yang menjadikan otak berguna atau tidak adalah seberapa besar daya ingat dan
daya pakainya. Selagi masih ingat saya menyegerakan menulis jurnal tatkala 11
Mahasiswa membayar masa penat kuliahnya dengan mengunjungi salah satu objek
wisata membanggakan di daerah Jawa Barat.
Untuk
sebagian orang mungkin menganggap bahwa travelling ke objek wisata lokal adalah
sesuatu nan tak aneh, tapi variable lain yang membuat kesan berbeda adalah ;
‘bersama siapa pergi’, ‘dengan apa anda pergi’, ‘kadar seru (reureuseupan in
sundanese btw) dalam petualangan’ dan terutama ‘pengalaman dan hikmah apa yang
para pelancong dapatkan’.
| Atas ki-ka : Yongkru, Fikri, Ucup, Aul, Arif, Dem, Adang, Fahmy. Bawah ki-ka : Aris, Boy, Bebek. |
Dari
variable diatas akan didapat kualitas kegiatan di tempat wisata, dan memang sangat panjang untuk dijabarkan hehehee…. Maka mending dijurnalkan secara special saja
seperti saat ini. 11 Mahasiswa yang membayar penat tersebut adalah : Boy,
Fahmy, Aul, Aris, Fikri, Ucup, Adang, Dem, Bebek, Arif dan saya sendiri. Namun
saya ambil 9,09% sample yang mewakili jurnal liburan ini.
Foto-foto yang ditampilkan di blog ini telah lulus uji sensor berdasarkan kesepakatan para pihak terkait. Untuk zooming foto, silahkan membukanya di tab baru.
Part 1 - Kuda Besi part 1.
Alkisah
Ibu saya sempat mendumel dan mendenguskan nafas panjang tatkala saya pamit
pergi rekreasi ke Pangandaran menggunakan ‘Motor Dosen’ (julukan motor saya
oleh Saudara Fahmy dan Bebek btw. Hayo ngaku siahhh? ‘Aslining ceesku’
(tagwords baru oleh Saudara Aul dan Boy btw)). Okeh kembali fokus. Hari jumat
tanggal 13 januari, Boy mengajak ke bengkel untuk check-up motor.
Motor
saya dilahirkan tahun 2002 di Jepang, walau motor tersebut belum pernah lagi
pulang ke kampung halamannya, dia selalu sabar dan bahagia berada di Indonesia.
Motor merah tersebut sempat mengalami regenerasi bentuk sesuai tangan
pemiliknya, awalnya dipakai oleh Kakak-kakak saya bernama Teh Ira dan Bang Heru,
kemudian tahun 2010 jatuh ke tangan saya hingga kini.
Saya
pikir ketika hari jumat tersebut Boy hanya menyarankan untuk mengsetting carburator
agar lebih enak dipakai selama perjalanan, rupanya kaki shockbreaker depan
mengalami cedera cukup menyebalkan sehingga tangan si pengendara serasa membawa
kuda sungguhan berkaki baja. Berkat cedera tersebut kocek yang dirogoh cukup membuat
keuangan berkeringat.
| Istirahat sejenak di Banjar |
| 3 dari enam Kuda Besi |
| Rechecking salah satu Motor |
| Istirahat lagi |
Yang
membuat Ibu saya mendumel sangat keras yaitu maksud menservis motor
tersebut untuk ke pangandaran. Tapi saya bersikeras pergi dengan dana
‘seadanya’, sampai di daerah Kota Tasikmalaya tak ada yang aneh pada performa
si ‘Motor Dosen’ kecuali jok motor yang dihiasi kresek hitam, tapi tiba-tiba
feeling saya gak enak tentang kesehatan si Motor Dosen ini.
Faktor
feeling tak enak didukung oleh kurang sehatnya salah satu motor personil ketika
kami menempuh perjalanan, berkali-kali kami harus istirahat untuk mengecek
kesehatan para kuda besi dan benar saja! ketika kami sampai di banjarsari lampu
motor saya ngadat, hipotesa teknisnya oleh saudara Aris ; Kabel socket terminal
lampu nyaris putus. Mari
kita berhenti sejenak tentang Kuda Besi dan langsung menuju tempat tujuan.
Part 3 - Man of The Match
dan Hipotesa Lagu Evening Avoid (Original Javanese version).
Setahun
tiga belas hari dua puluh jam diri ini tak menatap laut, hawa hangat angin
pantai menuju laut menyambut kami di gerbang utama Pangandaran, saudara
Valditya alias Adang mewakili kami untuk bernegosiasi agar mendapat angka tiket
yang adil, dan deal lima ribu rupiah dirasa cukup untuk 11 mahasiswa lajang.
Malam
itu mungkin saya tak bisa merasakan seluruh aura kumpulan orang yang sama-sama
berlibur seperti kami, tapi aura antusias untuk membayar penat sangat terasa
tatkala pemandangan ceria orang lalu lalang di pantai pangandaran. Belum lagi
sense fun yang diciptakan masing-masing rombongan mungkin tidak saya dengar
jelas tapi bagi kami suasana fun di dalam atau di luar kampus berbeda jauh.
Kalau perbincangan kampus ada sedikit jaringan dengan mata kuliah atau UAS yang
belum selesai sedangkan kalau diluar persentasenya sangatlah kecil untuk
membicarakan kuliah. Kami menyewa 2 kamar bersebelahan di satu penginapan.
Sesudah
berjalan-jalan menyusuri pantai sambil menyiapkan logistik pertandingan ‘Swing
Bottle cause Mellow Faint’ baru kami tersadar ketika kembali ke tempat
menginap, bahkan hal ini baru tersadar oleh saudara Adang dan Dem ketika tau
bahwa pemilik penginapan merupakan Bapak Haji yang semarga dengan saudara Ahmad Dzikri Fauzi alias Boy bin Asep Billy
Douglas Mahdar (Boy mengaku keturunan Koboi Texas btw) . Ahhhh....... kami
menyesalkan Boy yang tidak bernegosisasi harga dengan Bapak Haji Asep Dopla,
siapa tahu dengan marga Ayahnya tersebut kami bisa menekan biaya pengeluaran. “Yang
terhormat Bapak Haji Asep Dopla, mohon tunggu kedatangan kami yang selanjutnya,
saudara Boy akan mengeluarkan skill bicara bak petasan china di malam imlek”.
| @Pak Haji Asep Dopla place, run a Swing Bottle of Mellow Faint match. |
Karpet
digelar di teras kamar, kami memulai pertandingan ‘Swing Bottle cause Mellow
Faint’. Satu persatu tak menginginkan kebolehan menuju goal, beberapa menit
berlalu tiga personil menyerah dan semoga saja saya tidak keseringan mendapat
giliran dan ternyata permintaan saya tidak dikabulkan. Bisa dibilang di malam
tersebut saya menjadi Man of The Match, hal ini sangat jelas tatkala saya harus
berkali-kali membuang ludah dikamar mandi dengan diikuti kejaran paparazzi yang
menginginkan foto saya melakukan jackpot. Bagusnya Jackpot tak terlaksana.
Ludah
berat yang dirasakan menjadi pertanda bahwa enzim leukosit di tubuh melakukan
pertahanan terhadap efek karbon dioksida. Agar asam lambung di tubuh tidak
berkontraksi dengan efek tersebut, tubuh harus melakukan kinetika sederhana
untuk menyerap cairan dioksida. Maka mau tak mau dan kebetulan saya ingin
merokok, saya harus jalan-jalan sendirian ketika seluruh personil beranjak
tidur.
Di
kamar gelap nomor 2 tempat kami menginap, 5 personil lain (ki-ka ; Fahmy,
Fikri, Aris, Boy dan Aul) memanggil tidur, saya membasahi rambut dan wajah
menahan udara panas laut dan dalam keadaan 70% stabil saya keluar dari
penginapan. Angin terasa sepoi-sepoi hangat di pantai, rokok mild dibakar untuk
menstabilkan trombosit yang mengalir terlalu tegang di otak.
Aw….
Dua gadis berselendang warna saya lupa lagi btw, tempat menginap saya lupa
lagi, namanya juga saya lupa lagi dan kertas berisi nomor handphonenya hilang
entah kemana (rasanya cukup wajar apabila saya lupa saat itu), yang masih saya
ingat adalah mereka kuliah di UK Maranatha (semoga kita berjumpa lagi hei
gadis!).
| Kamar nomor 2. |
| Kamar nomor 3. |
Sesudah
setengah jam saya berjalan-jalan agar menetralkan asam lambung, saya kembali ke
penginapan, untung saja Aul yang belum tertidur membukakan pintu untuk turis
berwajah jepang setengah gila yang tengah dimabuk asmara karena nekat
berkenalan dengan dua gadis asing. Saya mengambil posisi diantara Fikri dan
Aris, sepertinya benar kata iklan salah satu perusahaan rokok di jawa tengah
yang membuat tagwords; ‘sempit karena
badan, muat karena teman’. Tubuh ini bisa merebah nyaman di kasur dengan posisi horizontal seperti ikan pindang.
Seperti
biasa salah satu anak Adam yang mungkin belum menemukan batas antara candaan
dan keseriusan melakukan hal enteng yang disebut dengan ‘bercanda’, apabila
anda sering melihat film yang kisahnya berisikan akibat hukum karma bermain-main dengan kenyataan, di kamar penginapan kami mungkin terjadi kisah
yang serupa namun tak sama, sederhana dan tidak berakibat besar. Alhamdullilah
sampai saat ini kami semua hidup tenang.
Anak
Adam jail berambut sikat gigi tersebut menyalakan satu bait lagu Evening Avoid
melalui handphonenya dengan maksud norak ‘bercanda’, dia pikir mungkin mitos
kidung tersebut tidaklah benar adanya, sekalipun jahil saya keterlaluan tapi saya
tidak mau bermain-main dengan mitos tersebut.
Setelah
5 menit satu bait lagu tersebut dinyalakan, saya mendengar satu suara misterius…
ah! Mungkin hanya sugesti akibat pengaruh kadar karbon yang belum hilang, tapi tiba-tiba
satu suara lagi bertanya dengan intonasi antusias.
“yong maneh ngadenge teu!?” tanya Aul
yang masih terjaga.
“heu’euh!” kata saya lirih dan cuek,
tapi tiba-tiba saya membuka mata penuh karena terkejut Aul juga mendengar suara
tersebut.
“anteupkeun we lah! sugesti maneh
eta mah ul!” kata Fahmy yang belum tidur juga.
“urang ge ngadenge mi!” kata saya
kembali.
"barudak di sabeulah eta mah!” kata
Aris yang juga mendengar suara misterius tersebut.
"huaaaaaaahhhhhh……..!!!!” teriak boy
dengan suara petasan diantara Aul dan Aris. Tapi suara misterius itu tetap
terdengar lirih.
“cik ningal di luar” kata Fikri, dan
ternyata kami ber-enam belum tertidur karena mendengar suara misterius tersebut.
“huaaaaaaahhhhhh……..!!!!” teriak Boy
kembali ketika dia mengintip Jendela. Tapi sayang suara misterius itu masih ada
dan bukan perbuatan orang iseng di jendela, ada kecurigaan teman-teman penghuni
sebelah memasang lagu tersebut dengan posisi speaker dihadapkan ke tembok.
Saya pun bangkit dan mengkonfirmasi
ke kamar sebelah dengan perasaan agak kesal.
"cik atuh euy! Tong jarail!” kata
saya yang membuka pintu.
"jahil naon ari maneh!?” kata Bebek
diikuti Dem lalu Ucup yang belum tertidur.
“oh…. sorry atuh bro!” Kata saya
heran dan meminta maaf karena mengira mereka jahil.
“aya naon ai maneh?” tanya Bebek
kembali.
“denge we ka sabelah!” kata saya
seraya pergi kembali ke kamar.
Dan
kami pun melanjutkan kembali tidur sambil menghiraukan suara apapun yang
muncul, dan lagi-lagi suara misterius itu muncul kembali. Terpaksa kami
dengarkan dengan seksama, ada beberapa hipotesa saya mengenai suara tersebut ;
1.Suara
adegan artis menangis dari film sinetron, tapi tidak mungkin tayang karena hari
sudah jam 1 malam dan semua kamar di lantai 2 ini tidak ada yang menyalakan
tivi.
2.Suara
gadis yang bertengkar dengan pacarnya di kamar bawah, tidak mungkin juga karena
kamar dilantai 1 kosong.
3.Suara
ringtone hape, ada kemungkinan! lalu saya mencoba menelepon satu-persatu
handphone yang dipunyai 6 orang di kamar ini. Hasilnya ;
1.Aul ;
nomor tidak aktif.
2.Aris ; nomor tidak aktif.
3.Fahmy ; nomor tidak aktif.
4.Fikri ; aktif, tapi ringtonenya bukan suara isak tangis.
5.Boy ; aktif, bahkan memperlihatkan hp yang berdering di tangannya.
2.Aris ; nomor tidak aktif.
3.Fahmy ; nomor tidak aktif.
4.Fikri ; aktif, tapi ringtonenya bukan suara isak tangis.
5.Boy ; aktif, bahkan memperlihatkan hp yang berdering di tangannya.
Tapi
tetap saja suara tersebut ada, sekali-kali suara tersebut berhenti dan ada
lagi, setelah 10 menit berlalu tiba-tiba satu suara lain terdengar dari balik
pintu.
‘tok
tok tok….’ Pintu yang diketuk sopan tersebut saya buka perlahan, ternyata saudara
Ucup dari kamar sebelah masih penasaran dengan maksud kedatangan saya sepuluh
menit lalu.
“aya naon sih?” tanya Ucup lirih.
“dengekeun geura!” ucap Boy, lalu
saya masih mendengar jelas suara misterius berbisik tersebut. Namun hanya berdurasi
10 detik ketika Ucup berada di kamar kami.
“naon sih? Euweuh ah!” kata Ucup dan
seraya pergi ke kamar sebelah.
Setelah
ucup pergi kami masih mendengar suara tersebut dan saya punya satu spekulasi
lagi bahwa suara tersebut merupakan rekaman dari speaker entah dimana, hal ini
dibuktikan oleh pola lagu yang terdiri dari 4 bar dan ketukannya yang kadang
sama berulang-ulang. Tapi saya hanya bisa berdoa, apabila suara itu memang ‘Tetangga dari Dunia Lain’, semoga diberikan
ketenangan oleh Sang Maha Kuasa dan mempersilahkan kami menginap semalam itu.
Keesokan
harinya hanya 2 orang dari kamar sebelah yang mengaku sebentar mendengar adanya
suara misterius pada jam 1 malam,
tapi anehnya saudara Bebek yang terjaga
sampai jam empat pagi tidak mendengar suara misterius apapun.
Cari
batasan antara bercanda dan serius. Don’t so serious but make high quality joke
to warm it because Life without Joke like Night without light.
Part 3 - Kuda Besi part 2,
Flashback SMA & Me as Man of The Match like Dono.
Hari-hari
di pangandaran dibatasi kegiatan yang harus dilakukan beberapa
personil dalam rutinitas penting pada awal pekan depan, ada yang harus UAS lagi, ada yang harus
mengumpulkan tugas dll. Kegiatan pagi esok hari diantaranya bermain di pantai lalu
menikmati wahana pantai seperti naik banana boat dll.
Dalam
perjalanan ke bandung, tak sedikit juga problematika yang harus dihadapi untuk
menunjang perjalanan pulang. Dahulu kala sewaktu muda, dunia harus dihiasi oleh
sentuhan dunia gangster dan attribute gangster, paling tidak punya kenalan
gangster mungkin sesuatu yang bergengsi oleh beberapa anak SMA yang ingin
eksis. Saya akui itu karena saya dulu pernah muda dan sampai sekarang belum
pantas disebut Tua.
Attribute
gangster yang dulu membuat saya iri mungkin motor keren dengan suara knalpot
garang. Ciri motor gangster yang paling mencolok adalah tidak adanya lampu
belakang dan ya! Entah kenapa lampu belakang motor saya lepas tanpa permisi
terlebih dahulu, bahkan lepasnya lampu motor dosen bukan disadari oleh
pemiliknya.
| Perjalanan Pulang, di Banjar |
| Istirahat di Rumah Sanak Adang |
Yah!
Berkat lepasnya lampu tersebut, Motor Dosen naik pangkatnya menjadi Motor
Gengster (entah siapa yang memberi gelar), sampai sekarang saya tidak
menyempatkan diri untuk mengganti lampu motor,
| Istirahat di Malangbong |
| Lupa lagi entah dimana^^ |
agar motor saya tau rasanya
disebut Motor gangster. Alhamdullilah Senin jam 2 dini hari, enam personil
(Boy, Aul, Aris, Fikri, Fahmy dan saya) tiba di Kota Bandung dengan selamat
wal’afiat, kami berkendara menyusuri Nagreg-Ujung Berung-Soekarno Hatta dengan
kecepatan tinggi dan nyaris seperti gangster SMA.
Ketika
kami menyusuri Metro-Soekarno Hatta, kecepatan motor saya sudah berada di
ambang kecepatan yaitu sekitar 110 km/jam, saudara Fahmy yang semotor dengan
saya sudah mewanti-wanti agar tetap konsentrasi berhubung keadaan fisik yang
menuntut istirahat.
Sehebat-hebatnya
tupai melompat pasti jatuh juga dan sejago-jagonya Valentino Rossi berpacu di
landasan balap pasti mengalami jatuh juga, lampu saya yang layak disebut lampu
lilin membuat motor saya yang sedang melaju kencang menginjak lubang aspal dan tiba-tiba
terbanglah satu benda misterius di atas kepala saya.
Setelah
benda itu jatuh dengan frekuensi treable fiber barulah saya tersadar helm saya
jatuh dibawa angin, belum cukup saat itu kabel gas saya terlilit dengan
sendirinya hingga motor saya menarik gas secara otomatis. Karena kejadian itu
saya dan fahmy menepi untuk memanggil bantuan kepada rombongan di depan.
10
menit berlalu Boy, Aul, Aris dan Fikri datang untuk memperbaiki motor saya, Boy
dan Aul berspekulasi kejadian ini mengingatkan kami kepada Almarhum Pelawak
Legendaris yang membintangi film ‘Chief’, di film tersebut terdapat scene Dono
berkendara dengan kecepatan tinggi kemudian Helmnya terbang dibawa angin lalu
hinggap di kepala pengendara dibelakangnya.
.Regard
Yongkru
Label:
automotive,
mystique,
travelling
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar