Twitter Blogger :

Diberdayakan oleh Blogger.

Who's the blogger?

Foto saya
Truth is about discovery and fun adventure.
Kamis, 09 Februari 2012
Bukan karena rasa bosan saya mengubah bahasa catatan menjadi Indonesia, bukan pula karena TOEFL score yang belum mencapai angka 550. Bukan juga karena tidak menemukan judul pas untuk hari ini.

Hakikatnya hari ini terasa kenangan tentang ruang pergaulan saya dahulu kala, berhubung konten sekarang sangat Vulgar dan penuh dengan kebencian, ada baiknya sebelumnya mari kita berdoa (serius).

Ya Allah…. Hamba dulu seorang pesimis yang kini paranoid dengan kesombongan, maka izinkan hamba bercerita sekalipun dendam ini hamba endapkan selama 5 tahun. Hamba tak berniat membagi kebencian, namun hamba hanya ingin mengungkap kebenaran dari fakta yang telah terjadi. 

PERLU ANDA INGAT bahwa tidak semua yang terlibat di dalam pergaulan ini saya cap berunsur borjuis.


Langkah Kaki tertuju ke Food Court kampus bersama sejawat saya yang bernama Ilyas Mudjib untuk menunggu kelas Ilyas berikutnya. Di food court saya bertemu ‘Ivan Noerman’ sejawat kampus sekaligus produser tv kampus. Ivan juga membawa seorang temannya. Tak disangka melalui Ivan, takdir mempertemukan saya dengan kawan lama yang saya samarkan namanya.

Ketika teman Ivan memperkenalkan nama “Leon…”, saya tercengang habis-habisan sambil bertanya “Leon 2007….!? SMA Taruna Bakti…!? Temennya Capruk, Ramadhan, Naya, Ubay, Anjani, Sekar dkk?” dia mengangguk heran ketika terus saya serang dengan pertanyaan bertubi-tubi, sampai saya yakinkan Leon bahwa saya bukan orang asing baginya “ini Yongki yang dulu bro…”

Jabat tangan yang dalam dan teriakan tawa kami ledakan di depan ruangan Utama TV setelah 5 tahun tak bertemu. Rupanya Leonard satu almamater dengan saya dan sedang dalam masa skripsi, Leonard merupakan kawan lama saya di salah satu Pelatihan Pemulihan Nurani (tentu saya samarkan namanya).

Pelatihan Pemulihan Nurani disini akan saya singkat menjadi Perani, Dunia sosial alumni Perani ini sempat membuat hidup saya berwarna dan sampai detik ini hati kecil saya berbisik untuk kembali ke dunia ini. Untuk memperjelasnya saya akan flashback 8 tahun kebelakang.


Tahun 2004. Alkisah.
Perdananya Ayah saya mengikuti kegiatan ini di Jakarta dengan hasil perubahan aspek Spiritualitas dan Emosionalitas. Alhamdullilah…. Berkat itu keluarga (termasuk saya) sering menghadiri pelatihan tersebut dan merasa hidup lebih tenang, tentunya yang intens mengikuti pelatihan ini bukan hanya kami, para Alumni lain juga merasakannya.
Seiring intensitas pelatihan tersebut di Bandung terciptalah kehidupan sosial di luar pelatihan yang menarik dan elegan.


Tahun 2005. Semakin ramainya Dunia Remaja Perani.

Di Bandung, pelatihan ini terselenggara sesuai usianya, ada Remaja, Dewasa, Mahasiswa hingga anak-anak. Tatkala itu saya sangat bersyukur mengikutinya karena saya punya ruang lingkup baru dengan suasana agamis dan elegan. Setiap ada pelatihan saya jarang absen sekalipun sedang hari sekolah.

Intensitas pelatihan yang diadakan juga merambah ke level Remaja/Teens, waw…. Saya semakin bahagia karena banyak mendapat teman baru. Dan tercipta lagi kehidupan Dunia sosial Perani di usia remaja (kalau tak salah, saat inilah saya berkenalan dengan Leonard).

Namun karena biaya pelatihan ini tidaklah murah, maka 90% para Alumni kegiatan ini bisa dikatakan adalah masyarakat menengah keatas.

Pelatihan demi pelatihan saya hadiri dengan status alumni dan makin banyaknya peserta pelatihan, pihak penyelenggara membutuhkan bantuan teknis di lapangan, maka para alumni yang aktif mengikuti pelatihan bersedia untuk turut serta dalam panitia lapangan yang disebut ATS (Alumni Training Support, nama asli).


Tahun 2006. Lahirnya Alumni Perani Remaja

Syukur kepada Sang Maha Kuasa karena alumni dari taraf usia remaja semakin banyak, untuk menghimpun lalu mengorganisir ruang lingkup di kalangan remaja, dibuatlah wadah silaturahmi yang disebut Alumni Perani Remaja (APR, lagi-lagi harus saya samarkan namanya). Di waktu inilah tumbuh cikal bakal kecanggungan saya di Dunia Sosial Perani.

Secara material saya bukanlah anak orang kaya berkendaraan, sewaktu itu saya hanyalah pejalan kaki yang hobi nebeng pulang. Hingga di satu waktu salah seorang APR yang sempat menjabat sebagai Ketua APR merasa kesal, karena saya adalah penebeng yang teramat merepotkan.

Ada satu sahabat seperjuangan yang harus saya samarkan lagi namanya (Pampam), Pampam secara darah mungkin bukan kerabat ataupun saudara, namun saya masih mengingat persahabatan kami ketika Dunia Sosial APR belum muncul. Setiap ada pelatihan di level Professional, Reguler, Mahasiswa, Teens ataupun Kids saya tidak merasa kesepian karena saya punya teman selevelan.

Semakin lama…. lingkungan APR yang terlihat didepan mata seakan tak lagi menunjukan kualitas kecerdasan Emosi dan Spiritual. Para APR aktif berpengaruh yang saya idamkan sebagai pemersatu semua golongan ternyata sudah berbentuk blok borjuis. Saya tak mau harus menggunakan kendaraan roda empat untuk bisa masuk kembali ke APR ini.

Pampam dan Ketua APR kedua semakin lama semakin merasa risih dengan kehadiran saya, yang saya perhatikan disini adalah tertutupnya pintu APR setelah Pampam berkata ‘SOSOK SAYA yang kata Pampam sok senior, MEMBUAT SEBAL PARA APR berpengaruh’. 

SENIOR SEBELAH MANA YA PAM? APA SAYA PERNAH MENGUMBAR DENGAN AROGAN BAHWA SAYA ADALAH ALUMNI TEENS 14 JAKARTA? 

Sayang…. Pertanyaan tersebut tidak sudi saya jawab karena saya tulus mencintai lingkungan ini dan merasa ingin APR selalu ada bagi seluruh Alumni Perani (tanpa adanya blok borjuis), tapi kok kamu juga masuk blok borjuis ya Pam?.


2006 – Sekarang bersama Leonard dan sepenggal Kemunafikan saya.
Rasanya saya tak perlu lagi menjelaskan panjang lebar cerita tentang kenangan masam di Perani ini, saya sangat salut pada Leonard karena beliau termasuk kedalam kategori ‘BUKAN APR blok BORJUIS’. Baru sekali ini saya bercerita pada Leon bagaimana kebencian saya pada APR.

Dulu saya merasa sangat agamis karena berada di lingkungan Perani, namun kini hakikatnya diri saya jauh berbeda dengan yang dulu. 

Untuk Putri Ketua Alumni Perani Jabar pertama (dengan hormat)….. dulu saya salut sekaligus kagum pada sosok sederhana anda sampai pernah saya mencintai sosok anda sebagai ‘Gadis istimewa yang sederhana’. Semoga sosok anda yang sekarang tidak berubah. 

Saya masih ingat nasihat anda di Gedung Wahana Bakti Pos 5 tahun lalu, agar saya tetap mempertahankan kepercayaan diri, tapi kenapa….??? Anda seperti BUTA pada golongan orang-orang biasa seperti saya….??? APAKAH ANDA MERASA NYAMAN DI LINGKUNGAN BLOK BORJUIS….!?


Ketika saya berada diambang kebencian, saya sangat berharap agar anda bisa mempersatukan seluruh golongan, namun sangat disayangkan….. orang yang dipercaya bukanlah ‘anda’.

Kini saya tidak tahu lagi kabar Perani, hanya ada rasa keBENCIan ketika saya ingat nama APR, tapi saya sadari saya munafik karena :
SAYA MERINDUKAN KEHIDUPAN SEDERHANA DI APR TERDAHULU. Rasa yang sama ketika Alumni Teens bisa dihitung jari (Saya, Pampam, Anda, Shinta….)
Saya merindukan senyuman lima sentimeter kiri kanan.
Saya merindukan pelukan doa dari berbagai Alumni.
Saya merindukan teriakan semangat para ATS.
TAPI saya trauma dan paranoid dengan sikap kesombongan blok borjuis. 


Untuk Putri Ketua Alumni Jabar pertama dan Ketua APR Pertama yang dulu pernah saya benci “MAAFKAN SAYA YANG SOK INI.” Saya dulu teramat mencintai lingkungan ini, sampai akhirnya teramat benci pada lingkungan ini. Saya berharap jangan ada lagi orang yang teramat membenci APR seperti saya.

.Ya Allah….. lindungi hamba dari sikap kesombongan dan ampuni orang-orang yang memasukan unsur borjuis di lingkungan para Alumni.

.Regards Yongki Yessa.

0 komentar: