Twitter Blogger :

Diberdayakan oleh Blogger.

Who's the blogger?

Foto saya
Truth is about discovery and fun adventure.
Senin, 03 Desember 2012
Agar anda tak bosan dan jujur saya bosan memakai bahasa zaman roman, ada kalanya saya memakai bahasa sederhana namun lebih mementingkan kesegaran esensi dan minat baca anda semua... hehehe^_^ Insya Allah.

Dulu kala (sebenarnya beberapa tahun kebelakang). Saya pernah mendengar suatu kisah kehidupan Unggas paling perkasa di angkasa bumi, Tak lain ialah Elang yang menginspirasikan aktivitas saya, dan yang notabene merupakan pemakan terakhir dalam Ekosistem jaringan makanan di Alam liar. Contohnya :


Ekosistem Alam (Default)

Alam membuktikan bahwa Elang merupakan pemangsa dalam posisi puncak, ada homogen dalam perihal konsumsi dengan manusia, tapi Elang yang bukan mahluk berakal baik seperti manusia mempunyai semangat hidup yang cocok untuk dijadikan ilmu bahkan proses transformasinya hampir mirip dengan kehidupan orang sukses.

Secara biologis Elang bisa hidup sampai usia 70+ tahun namun harus menjalani proses yang perih dan menyakitkan, bahkan saya sendiri 'Linu' untuk membayangkannya. Di usia 30 tahun, tubuh elang mengalami penuaan, dimana pada bagian Paruh menjadi panjang bahkan mengenai dada, Cakar menjadi panjang hingga sulit mencengkram mangsa dan Bulu menjadi lebat hingga sulit untuk terbang tinggi.

Ada solusi natural, efisien, cepat, efektif dan tidak perlu operasi plastik. Pertama-tama, elang harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari mulutnya. Kemudian berdiam beberapa lama menunggu tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yang baru tumbuh, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu per satu.

Suatu proses yang panjang dan menyakitkan. Lima bulan kemudian, bulu-bulu elang yang baru sudah tumbuh. Elang mulai dapat terbang kembali. Dengan paruh dan cakar baru, elang tersebut mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi.

Pertanyaan sederhananya, Maukah kita mengambil keputusan perih seperti Elang?

Walau kita mempunyai perspektif masing-masing, tapi ada kalanya proses yang kita ambil bukanlah proses yang kita suka, bahkan kalau Elang bisa bicara (dan berakal) dia 'mungkin’ berkata :

Mematahkan paruh, cakar dan mencabut bulu sendiri itu menyakitkan. Tapi hasilnya adalah petualangan baru yang lebih panjang dalam hidup.

Hikmah Elang menjadi inspirasi bagi saya, sebagai pribadi tangguh dan pengambil keputusan yang berani walau terkesan agak konyol, Alhamdullilah kita dianugerahi pikiran yang bertugas menyaring dan mengkomposisi proses tersebut. Dan hati-hati karena pikiran kita sendiri yang kerap menjebak kita. Untuk menghadapinya saya terus belajar, mencari, berpetualang dan melakukan untuk mendapatkan Ilmu agar memahaminya.


.regads Yongkru
Jumat, 16 November 2012
Scene awal - sisa Waktu nyawa Will
Terilham oleh salah satu rekan sejawat saya yang mempunyai kapabilitas jurnalisme yang cakap, membuat saya tak ragu untuk menulis resensi sebuah film yang boleh terbilang sudah out of date namun syarat akan pesan dan hikmah, terlebih lagi turut merubah pola pikir positif seseorang dan membuat rasa seakan berada di kehidupan film tersebut.

Seiring mekarnya kesadaran masyarakat tentang pengendalian pola pikir manusia terhadap hal mainstream dan hal yang menyangkut pola pikir konsumtif, ada sebuah film ajaib (kata saya) yang bisa membuat kita semua menghargai nyawa dan pola konsumtif di kehidupan sehari-hari.

Bisa anda bayangkan ketika mata uang berganti dengan waktu pada nyawa anda? Bisa anda bayangkan bila memesan secangkir kopi, dibayar dengan lima menit nyawa anda? Bisa anda bayangkan sekali ongkos bepergian anda harus membayar dua jam nyawa anda? Sebentar! Sebelum anda mencetuskan gerakan apa yang anda lakukan, lebih baik mari kita ulas film berjudul ‘In Time’ ini. Terutama ulasan kacamata saya dari segi Teknologi, Hukum, Ekonomi dan Sosial.

Film ini dinaungi oleh 20th Century Fox, rumah produksi Regency Enterprise pictures, disutradari oleh Andrew Niccol di tahun 2011 dan Uniknya film ini dibintangi oleh Justin Timberlake yang notabene kita kenal sebagai boyband di tahun 2000-an. Kenapa unik? Perdana waktu saya mendengar namanya, ada keraguan tentang film bergenre thriller-drama yang dibintangi singer boyband terkenal, namun akhirnya saya keliru, karena film ini saya kategorikan awesome dari segi ide cerita, akting hingga rasa menegangkan.

Sebelumnya saya berterima kasih pada beberapa adik-adik dari SMKN 1 Ciamis yang bisa saya tuduh sebagai penyebar soft-copy film berdurasi 1,5 jam dan berformat AVI bajakan alias kagak original karena lagi-lagi berbagai tulisan di blog saya ini belum membuahkan apapun, bahkan untuk beberapa batang rokok Marlboro merah yang saya hisap (T____T) hiduppp.

Sungguh etika terpuji apabila anda adalah seseorang yang memberi harga pada analisa saya yang tertuang di tulisan ini. Hehehee….

Film ini diawali gradiasi bewarna hijau zamrud yang berkedip, detik demi detik diiringi lagu Piano Harlequin dan narasi suram Will Sallas (tokoh utama/Justin Timberlake) yang berbunyi :
“Aku tidak punya waktu”
“Aku tidak punya waktu untuk bertanya-tanya bagaimana hal ini bisa terjadi”
“Apa ini, apa itu”
“Hal ini tak memberi kehidupan lebih jauh setelah 25 tahun, masalahnya kita hanya memiliki satu tahun sesudahnya”
“Waktu adalah mata uang”
“Kita layak dan menghabiskannya”
“Orang kaya bisa menikmatinya”
“Tapi sisanya?”
“Aku berharap terbangun di pagi hari dengan lebih banyak waktu”
Semakin lama nampak fade in sebuah jam digital 14 digit yang berkomposisi :
0000.00.0.00.00.00
(tahun).(bulan).(hari).(jam).(menit).(detik)

Dan jelas terlihat bahwa jam tersebut berada di lengan sebelah kiri, dan itu bukan jam, melainkan sisa nyawa yang berjalan mundur. Lalu nampak wajah kembaran jauh saya yang baru bangun tidur (Justin Timberlake (maksa :D)).

Awal film ini sudah terlihat sangat menarik ketika Will Sallas terbangun di pagi hari dengan rasa gelisah untuk menjalani hari-hari kelabu, terbayang lagi apabila dia tidak hidup bersama Rachel Sallas (Ibu Will, diperankan Olivia Wilde). Di awal film ini saya sudah merasakan aura resah karena waktu nyawa di tangan Will tersisa 23 jam.

Tapi tak usah khawatir (masa lakon mati pas awal? hehe), rasa ketegaran ala survivor handal sukses diperankan Justin Timberlake di awal scene.

Lanjut cerita Will bangun, wajahnya tak bisa dibedakan antara bangun tidur dan sudah mandi (liciknya make-up perfilm-an yang slalu terlihat oke), tak lama di dapur sudah menunggu Rachel dan wajah Rachel sama sekali tidak nampak tua padahal tadinya saya menyangka bahwa Olivia berperan sebagai Istri Will.

Kebetulan hari tersebut adalah hari ulang tahun Rachel yang ke-50, itulah edannya teknologi di zaman tersebut. Tidak bisa membedakan yang mana manula. Bahkan Nenek-Ibu dan Anak Perempuan (contohnya Silvia Weis yang diperankan Amanda Seyfriend) tidak bisa dibedakan.

Berhubung saya malas mengulas secara naratif, jadi lebih baik langsung saya analisa dari berbagai segi makro (maklum baru pulang kuliah, pengen langsung nulis tapi males kontruksi teks hehe….).

Dari segi Teknologi & Sains Umum (karena film ini bergenre Sci-Fi) :
1.Manusia takkan mengalami penuaan karena ‘katanya’ hormon pertumbuhan tubuh berhenti di usia 25 tahun.
2.Setiap orang punya jam digital tambahan di lengan kiri yang berfungsi sebagai nyawa, waktu mulai berjalan mundur setelah usia 25 tahun dengan sisa waktu satu tahun.
3.Terdapat alat seukuran handphone touch-screen yang berfungsi sebagai Time Bank atau alat portable pembawa waktu.
4.Transaksi waktu melalui pergelangan tangan kanan.
5.Sayangnya tidak ada rincian tanggal berapa pada film tersebut.
6.Semua mobil berjenis vintage semacam Corvette Classic, mustang GT, RR Limousine dll.
Time Bank milik Philip Weis berjumlah 1 Millenium
Dari Segi Hukum :
1.Polisi berganti nama menjadi Biro Penjaga waktu, tugasnya tak lain adalah mengatasi dan mengawasi kriminalitas khususnya ber-objek waktu.
2.Masyarakat cenderung taat pada hukum.
3.Masyarakat bertingkah saling sinis dan enggan saling mengusik.
4.Legalnya Gengster penantang bermain panco waktu.
Transaksi Waktu menggunakan Time Bank
Dari Segi Ekonomi :
1.Nilai pembayaran diganti dengan waktu-nyawa di tangan
2.Gerak usaha orang miskin terbatas
3.Bank menjual waktu (tidak ada uang giral atau kartal)
4.Mau hidup terjamin? Kerja di Bank Waktu.
5.Sistem gaji perhari.
6.Prostitusi marak berhubung genetika tubuh tidak mengalami penuaan dan saya melihat dimana para pelacur tidak ada yang bertubuh lebar (maaf... paling banter bertubuh sintal).
Silvia Weis & Will Sallas - Scene membobol bank
Dari segi Sosial :
1.Jumlah populasi penduduk terkontrol.
2.Masyarakat berperilaku produktif (minimal menjadi pekerja kasar) karena tak mau punya sedikit waktu (kecuali satu orang yang memberikan waktu se-abad pada Will secara cuma-cuma).
3.Warna kehidupan kota cenderung dingin karena masyarakat sibuk bekerja.
4.Yang kuat/kaya bertahan hidup (teori Darwin).
5.Waktu sangat teramat sangatx99 berharga (Time is Money), ungkapan sederhana yang orang Indonesia anggap sepele, kuno, malah basi tapi menjadi tak terduga saat dijadikan alas konsep film ini.
6.Bila berniat keluar daerah mesti mengeluarkan biaya banyak (satu bulan waktu).
7.Pemerintahan tak jelas, saya berspekulasi bahwa dinamika negara dijalankan oleh perusahaan.

8.Permainan panco tangan berakhir dengan hilangnya satu nyawa.
Adu panco nyawa
Daftar Tarif, dengan permisif saya hanya akan menulis kontennya  :1.6 botol bir = 1 jam
2.1 cangkir kopi = 4 menit
3.Tarif Bis Carmen – Dayton = 2 Jam
4.Kamar standar hotel New Greenwich = 2 bulan
5.Kamar suite hotel new Greenwich = ???? tidak diperlihatkan
6.Sarapan pagi hotel = 8,5 minggu
7.Donasi non-anggota kasino = minimal 1 tahun
8.Mobil Corvette klasik = 59 tahun (termasuk pajak + biaya pengiriman)

9.Menangkap satu penjahat waktu = 5 bulan
Daftar harga kopi di Pabrik tempat Will bekerja
Bisa anda bayangkan hidup dizaman tersebut? Dimana uang adalah nyawa. Film ini mengandung pesan moral bahwa ‘Waktu adalah uang’ malah saya berani metamorphosis-kan ungkapan itu menjadi :
 
‘Waktu adalah nyawa dan kehidupan’

Terdengar sepele bukan? Tapi apa jadinya bila kita merasakan? paling tidak membayangkan hidup di dunia ‘In Time’?.

Saya sendiri membayangkan apabila saya berada di dunia tersebut, saya akan berperang dan mempertaruhkan nyawa membasmi orang/golongan yang mencetuskan ide waktu nyawa itu. Bila terlanjur basah, saya menjadi gangster yang menjebol perbatasan Daerah ekonomi atas (New Greenwich) kemudian saya akan berjuang membuat/mencari cara menghapus sistem waktu nyawa.
 

Intinya mau di dunia itu atau di dunia nyata sekarang ini, saya tak akan membiarkan hidup saya sia-sia. 

Bagaimana dengan anda?

Para warga berebut waktu gratis

‘Waktu adalah nyawa & kehidupan’
(Yongkru)

.regards Yongkru
Selasa, 23 Oktober 2012
"Penulisan ini bersifat Jurnal Naratif yang Santai, maka bila anda mencari deskripsi yang formal, mending ke Om Wiki aja! hehehee..."

Ana dan Lisa.... di kampus
Kekasih para mahasiswa/i jomblo kala menghimpun materi
Kendaraan para mahasiswa/i kala menempuh ujian atau kuis
Candu para mahasiswa/i kala memperjuangkan skripsi/tugas akhir
Nikotin para mahasiwa/i kala begadang mengerjakan paper
Senjata para mahasiswa/i kala menyajikan presentasi
Karangan direktorif para mahasiswa/i kala menyimpulkan persoalan

Sepenggal sajak Romantisinting tersebut menjadi jawaban atas kejengahan saya pada beberapa rekan kerja saya yang enggan mengerjakan paper beberapa saat lalu dengan dalih "Analisis itu kayak gimana yong? Analisa itu kayak gimana?" Gubragggg... #nepaktarang, sepele memang.... ternyata terkuak kebenaran bahwa tak semua mahasiswa akrab dengan Ana dan Lisa. So! Postingan kali ini saya persembahkan untuk mahasiswa yang 'aya kahayang'.

Oke! tampaknya saya harus mulai memakai bahasa sederhana.

Ana dan Lisa (Vocab khas saya) yang disingkat menjadi Analisa (Analisis in Process) adalah salah satu fitur penting dalam otak manusia, Analisa ini pula yang menjadi pena saya dalam menulis blog. Analisa ini juga yang bisa dijadikan parameter seorang Mahasiswa terbilang cerdas dalam konteks falsafah.

Tiada bermaksud riya atau sombong karena Daya Analisa saya masih saya kembangkan seiring dengan mood yang rentan malas. Tapi Insya Allah di postingan kali ini akan saya share Pengertian Analisa secara casual dan sederhana.

Jawaban pengertian Analisis dalam kamus besar bahasa indonesia adalah :

"penyelidikan thd suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dsb) untuk mengetahui keadaan yg sebenarnya (sebab-musabab, duduk perkaranya, dsb); (nomina)"
Dalam menganalisa suatu materi/permasalahan/kasus/bahan kajian, terdapat mitos yang mengatakan bahwa Hasil analisa itu bisa didapatkan di Mbah Google (Memang dan 99% mitos ini benar) tapi 1% yang menjadi kunci yakni Analisa Ideal itu berasal dari kajian kita sendiri, karena analisa yang dicari di Google adalah hasil orang lain, maka bila mengambil seluruh analisa dari Mbah Google itu namanya 'nyontek'.


Manusiawi memang.... tapi akan lebih ideal apabila analisa yang didapatkan dari luar, kita modifikasi lagi oleh otak kita sendiri maka bahan kajian yang rampung tersebut menjadi Analisis yang idealis.
Teknis analisa antara lain :

1.Persiapkan kajian materi utama
 Dalam mempersiapkan hasil kajian perlu kita ambil topik utama dari kajian tersebut, misalnya saya akan mengambil contoh : Pengaruh Muka Kegantengan terhadap Semangat kuliah. =)). sudah terlihat bahwa ada dua kajian disini yaitu 'Muka Ganteng dan Semangat kuliah'.

2.Persiapkan faktor yang terdapat didalamnya atau yang mempengaruhinya
Kelebihan, daya guna, daya fungsi, kekurangan, kelebihan, dampak umum pada kajian tersebut  yang mempengaruhi (bisa memecahkan masalah atau menambah masalah) pada suatu hal. So telaah dengan objektif dan real tanpa mengambil kesan.

Misalnya : 
- muka saya yang bisa ganteng merupakan polesan antara bedak marcks dan lotion vaseline
- muka saya yang ganteng dipengaruhi oleh intensitas berkenalan dengan para dayang-dayang atau ayam-ayam di kampus.

3.Blending atau Analisa
Nah ini dia yang saya maksud, dua point diatas yaitu dua point diatas disatukan hingga ditarik kesimpulan hingga menjadi Teori yang bisa dijadikan Ilmu Praktis di realita

4.Jadi deh Analisis Ideal
sekali lagi bahwa Analisa secara objektif adalah hasil pengamatan kita sendiri, komponen utama yang sangat menentukan adalah daya pakai otak dan materi yang sudah kita baca dan kaji, maka dari itu saya mengambil kesimpulan bahwa apa yang sudah kita baca dan pelajari akan menjadi satu kesimpulan baik itu berupa data, wacana ataupun perumusan.


Komponen Analisa :
1.Membaca
2.Mengambil intisari
3.Mengorganisir variabel yang berpengaruh
4.Menghubungkan materi yang kita baca terhadap masalah/kasus yang sedang dihadapi.

So... Perbanyak membaca... dari hal sederhana tersebut maka pekerjaan Analisa bukan lagi persoalan pelik....

Masalah terdekat yang sudah menjadi budaya buruk orang Indonesia adalah :
1.Membaca? lebih baik utak-atik blackberry
2.Membaca? Sok rajin euyy... padahal di luar sana ada undang-undang kalau kita mengganggu orang yang sedang membaca.

.regards Yongkru
Jumat, 31 Agustus 2012
Puji Syukur kehadirat Tuhan, bersama dengan Adzan Shubuh yang berkumandang, selalu ada pencerahan ke dalam qolbu dan semangat inspiratif berkat kumandang shalawat toak masjid yang bersuara sampai 110 decible, mungkin teknologi audio efek sudah dikenal atau ‘mungkin saja’ baru dikenal Kelurahan saya, toak masjid ini punya gain dan volume yang pas ditelinga tapi sangat berdistorsi sehingga membuat alis saya naik sebelah, saya yakin sekali Sang Muadzin punya bakat dari sananya, Subhanallah…. Bakat dan Ide selalu datang tiba-tiba.

Oke, sepertinya Rokok dan Teh saya belum habis, tadinya saya sempat bersugesti bahwa Rokok putih yang saya hisap mempunyai kadar nikotin bercampur kanabis sehingga membuat saya sangat enjoy menikmati film The Hangover dan The Hangover part II secara bergiliran. Harus saya akui bila saya sudah mencintai satu produk/item saya akan memakainya berulang-ulang sampai saya menemukan kebosanan di item tersebut.

Kalau saja saya sedang berada di Amerika Serikat, saya akan menyempatkan mengirim kartu lebaran untuk Sutradara Todd Phillips, selain mengucap Taqqballahu Wamina Wamingkum… semoga beliau tetap berkreasi se-kreatif mungkin, saya juga akan mengirimkan permintaan maaf karena saya mendapat file garapan beliau via ‘copas’ alias download dikarenakan tulisan saya belum membuahkan komoditas agar saya bisa membeli DVD yang asli. Se-misal beliau memburu dan menuntut, saya tinggal kembali ke Indonesia dan saya yakin dia sudah mengerti kalau angka pembajakan di Negeri sudah Hangover alias Teler Sekaleee. Hihihihii…

Di Lingkungan saya, saya mengucap terima kasih kepada beberapa Sahabat saya yang akan segera melangsungkan kelulusan Wisudanya bulan depan, untuk Ferry Setiabudhi aka Fei ‘Ridho the Sirkuser Irama’ dan Rumi ‘Blech Petrucci ti tonggong’ Nasution. Dua mahluk penghuni kosant ciwaruga 78A ini rencananya yang akan saya tumbalkan pada Sutradara Todd Philips, karena dua Sarjana Perbankan ini bertanggung jawab atas mengenalkan saya pada Film The Hangover II hehe (ngeless mode on).

Pertamanya saya menonton The Hangover part II, tapi sekarang saya akan meresensikan kedua film ini bersamaan, kronologis secara berurutan dan yang paling penting sudut pandang teknis pola cerita yang membuat film ini mendapat nominasi sebagai Best Comedy.



The Hangover (2009)
 
Film ini saya dapat dengan cara mendownload di studio TV kampus, dimana seluruh penghuni studio pulang bersiap untuk waktu sahur (waktu itu sedang bulan Ramadhan 1433H btw). Di Film ini tidak ada bintang ‘gokil five stars’ sekelas Jim Carey, Chris Tucker, Jackie Chan, Adam Sandler dll. Bahkan saya bilang akting gokil tiga aktor utamanya terbilang tanggung, mereka diantarnya :

Ki-Ka : Phil, Alan, Stu.
Scene akan dijadikan kelinci percobaan oleh Kepolisian
1.    Bradley Cooper (sebagai Phil Wenneck), Guru Sekolah yang sinis pada kehidupannya, sudah beristri dan mempunyai seorang putra.
 
2.    Ed Helms (sebagai Stuart Price), seorang Dokter Gigi yang emosional, mempunyai pacar berperangai egois (Mellisa) yang diperankan Rachael Harris.
 
3.    Zach Galifianakis (sebagai Alan Garner), pria dewasa pengangguran, lemah mental (kalau boleh saya menebak, dia yang karakternya berusia paling tua di antara mereka berempat).
 
Lalu korban yang merupakan sahabat mereka ;
 
4.    Justin Bratha (sebagai Doug Billings), pria pendek yang hendak menikah.
Mereka menamakan Geng mereka dengan sebutan ‘Wolfpack’.
Sisi menarik film ini bukan keliahaian peran yang pada dasarnya non-Komedian karakter, melainkan petualangan yang diwaranai kesialan bertubi-tubi dalam mencari salah satu sahabat yang hilang (dari judul-nya saja sudah mewakili dasar cerita film ini).

Film dimulai dari Tracy Garner (tunangan Doug, adik perempuan Alan, diperankan oleh Sasha Baresse) yang tengah gelisah menunggu tunangannya yang belum juga pulang dari Pesta Bujang di Las Vegas, Tracy mencoba menelepon Phil, Stu dan Doug tapi sama sekali tidak diangkat. Kekhawatiran ini bukan masalah besar bagi Sid (Mertua Doug, Ayah Alan & Tracy, diperankan oleh Jeffrey Tambour), semuanya merasakah kegelisahan berat termasuk pengantar pengantin Tracy kecuali Sid yang bisa saya bilang merupakan Ayah yang sangat pengertian, Akhirnya di tengah kegelisahan ini telepon genggam Tracy berdering dan Phil menelepon.
 
Tracy    : Halo?
Phil    : Ehmm… (mengambil udara) Tracy ini aku Phil
Tracy    : Phil, dimana kalian berada? Aku cemas sekali
Phil    : Ya, Dengar… kami mabuk berat
Tracy     : Apa maksudmu?
Phil    : Pesta bujangannya semalam, semuanya tak terkendali… dan kami kehilangan Doug
Tracy    : Apa?
Phil    : Kami tak bisa menemukan Doug
Tracy    : Apa maksudmu Phil? Kami akan menikah dalam lima jam
Phil    : Benar… itu tak akan terjadi

Rangkaian penyebabnya pun dimulai, dua hari sebelumnya Doug & Alan sedang diukur pakaian untuk kostum Tuksedo, Doug punya Ide untuk merayakan waktu terakhir bujangannya yaitu pergi ke Vegas bersama Wolfpack (Gengnya dengan Phil dan Stu), Alan tadinya keberatan ikut karena dia khawatir atas kecerdasannya, Doug sempat mengurungkan niatnya, tapi Tracy dan Sid mendukung malah sangat mendukung Pesta Bujang Doug.

Akhirnya keberangkatan dimulai menuju Las Vegas oleh Wolfpack, mereka menyewa vila di Hotel Caesar Palace Las Vegas seharga US$ 200. Saat pesta malam dimulai dari sanalah… sebaiknya anda tonton film ini karena saya sulit mengungkapkan apakah kesialan ini karena ulah mereka sendiri atau karena bius yang menyerang mereka sampai mereka sukar mengingat apa yang telah terjadi tadi malam.

Kesialan mereka membawa sejuta warna tawa saat saya menonton film ini, terlebih lagi background masa lalu saya yang Rock n Roll membuat saya bisa merasakan kerasnya perjuangan mereka. Pagi hari Vila mereka sudah seperti bangkai kapal yang pecah diterjang Kraken ganas, Alan menemukan seekor Harimau di dalam kamar mandi, ada Bayi di dalam lemari pakaian, satu Gigi seri Stu hilang dan di tangan Phil ada sebuah gelang penanda Rumah sakit.

Yang paling gawat adalah Doug tidak ada di temapt, dari sinilah petualangan dimulai mengingat keesokan harinya Doug akan menikah. Selayaknya tim Detektif amatir, mereka menelusuri jejak Doug, kesialan mereka seakan terus menerjang, mobil Mercedes kepunyaan Sid hilang, mereka menemukan bayi di lemari pakaian, Stu tiba-tiba mempunyai Istri seorang penari striptis, mereka dijadikan kelinci percobaan karyawisata sekolah oleh kepolisian, Alan harus rela ditinju Mike Tyson, mereka harus berurusan dengan gerombolan Leslie Chow (Gengster Oriental, diperankan Ken Jeong) dan Alan melakukan sesuatu tak terduga yang membuat saya menyebut Alan sebagai tokoh paling jenius di film ini.

 
The Hangover part II 
Pertamanya saya menonton sekuel dua ini terlebih dahulu, sewaktu itu pukul sebelas malam di kosant sahabat saya (Ableh Petrucci ti tonggong btw), saya sedang dilemma antara ingin pulang dan mengantuk lalu sahur di kosant ableh. Terjadi percakapan antara kami…
 
“Anjeer…. hoream kieu balik ka imah” kata sayah.
 
“Kari sare!” ucap Ableh singkat, padat sambil memainkan gitar merah kesayangannya.
 
“Aya pelem deui teu maneh di laptop maneh?” lanjut Ableh, sepertinya otaknya berpijar 
kembali seperti rembulan di malam bete.
“Kunaon kitu?”

“Urang aya pelem The Hangover dua, urang ge karek nonton satengahna, rame ceuanh pelemna!” urai Ableh panjang, tak singkat, tak padat dan tak jelas maka saya bertanya balik.
 
“Mana pelemna?” kata saya, Ableh seketika menuju kamar Kosant Fei dan mengambil film tersebut di komputer Fei.
Atas ki-ka : Alan, Stu
Bawah : Phil
Ternyata benar sabda beliau, dalam durasi 01:41:49 mood saya bangkit kembali berkat film ini, di film ini akting para bintangnya tak kalah seru pada sekuel pertama, hal ini terlihat dari akting para bintang yang lebih bingung karena kesialan mereka lebih keren lagi dan terasa lebih real.

Pagi cerah di salah satu resort Thailand, Lauren Srisay (diperankan Jamie Chung) tengah gelisah menanti tunangannya yang belum kembali (Stuart Price) sewaktu itu Stu telah mengakhiri hubungannya dengan Mellisa, Lauren menelepon berkali-kali ditemani Tracy yang tengah hamil, Ibu Lauren dan Ayah Lauren yang tak suka pada Stu, Ayah Lauren bertipe konservatif dan sangat comparisoner sehubungan putranya Teddy Srisay (adik Lauren, diperankan Mason Lee) tengah kuliah di Kedoteran Bedah Stanford sedangkan Stu hanya Dokter Gigi biasa.

Mungkin ada benarnya karena Stu adalah tokoh emosional, panikan dan sukar berpikir jernih. Tapi perhatian itu langsung buyar pada kenyataan yang mengatakan bahwa Stu, Alan dan Phil harus berpetualang menelusuri jejak Teddy. Pikiran tentang kecilnya sudut pandang seorang Ayah Mertua konservatif berhasil diperankan Nirut Sirinchaya.

Kembali lagi ke Lauren, kedua Orang Tua Lauren dan Tracy. tak lama kemudian telepon genggam Tracy berdering dan anda bisa menebak siapa yang menelepon.

Alkisah awal dimulai, Stu berencana akan menikah di Thailand tapi tidak menginginkan adanya pesta bujang dan sangat tidak menginginkan Alan ikut ke Thailand. Tentu hal ini membuat Phil dan Doug mendesak agar Alan diajak ke Thailand. Desakan Doug membuat Stu akhirnya rela mengajak Alan ikut ke Thailand.

Geng Wolfpack akhirnya berangkat ke Thailand, pola alur cerita di film ini nyaris sama dengan sekuel sebelumnya. Perbedaannya adalah tempat lebih variatif, bila scenegrafi sekuel pertama lebih didominasi perkotaan, di sekuel kedua terdapat lokasi Wihara Buddha khas Thailand dan tempat hiburan malam khas Thailand. Sang korban di film ini adalah Teddy dan Leslie Chow menjadi sekutu mereka.

Kesialan mereka dimulai dari Phil yang terbangun di kamar Losmen sewaan Chow, Alan yang tiba-tiba botak, dahi Stu yang tiba-tiba bertato seperti Mike Tyson, ditemukan sebuah jari buntung, ditemukannya seekor kera di kamar mereka. Mereka bingung seribu bingung lalu menemukan Chow yang tengah tertidur, ketika Chow akan menjelaskan apa yang terjadi, mendadak dia tewas dan mereka menyembunyikan mayat Chow dalam Lemari Es.

Setelah itu penelusuran berlanjut, mereka menemukan seorang pria paruh baya bisu yang diklaim sebagai Teddy, mereka dipukuli biksu, Alan menunjukan kebolehannya lagi sebagai tokoh pamungkas di film ini, Stu disetubuhi Ladyboy, Phil tertembak, mereka dikejar Geng Narkoba.

Kedua film ini cocok untuk dijadikan teman santai, tapi karena adanya beberapa scene 17+ film ini tidak cocok ditonton oleh orang kaku (orang yang sudut pandang asusilanya sempit) atau anak dibawah umur. Secara literature Film ini sangat direkomendasikan untuk yang ingin melatih Listening English karena vocabulary dan artikulasi bahasanya terbilang sederhana tapi asik, sangat disayangkan dialek Inggrisnya kasar, sering kali kata-kata umpatan ala amerika muncul. Maka dari itu sangat disarankan untuk berfikir fleksibel dan dinamis ketika menonton .

Nama Hangover di kamus bahasa inggris adalah Mabok Berat, orang awam mungkin mengira film ini diwarnai Sex, Drugs & Rock n Roll. Tapi Film ini sebenarnya mengartikan rasa ‘Setia Kawan’. Dimana mereka membuat kesenangan, mereka akan menikmatinya bersama, dimana mereka terus tertimpa kesialan dan kehilangan teman, mereka tetap mengarungi petualangan ini bersama-sama. Sangat mencirikan jiwa solidaritas yang tinggi.

.Regards
.Yongki Yessa aka Yongkru
Minggu, 18 Maret 2012
Part 1 - Jas Menyanyi UTS Praktikum Metris dan Intro ke Visit KP/KS 2012.

Figure 1 : Saya, Kevin dan Baim.
Sabtu Pagi jam 10.10 saya dibangunkan oleh bisikan 2 adik saya (Kevin Sadyri dan Zidane Ibrahim) yang sedang khidmat menonton film Tarix Jabrix 2. Naluri seorang Abang yang egois membuat otak saya otomatis berteriak mengusir dua bocah keras kepala ini... hahaha... wajarlah, karena seorang Putra sulung memiliki sedikit arogansi usia dan status. Sebagai apology kepada mereka, laptop tidak saya bawa, maka adik saya bebas memperlakukan laptop sekalipun mereka memandang monitor dengan sinis dan penuh kebencian.

Notes di handphone menunjukan adanya kegiatan tour approach hari ini bersama empat sejawat seperjuangan saya di dunia pria petualang. Adalah Ketut, Junior, Ady dan Agus.

Petualangan hari ini dimulai dari kekagetan saya karena adanya UTS praktikum Metode Riset di kampus, haduhhh.... karena saya baru tahu, so! saya jalani 'Ujian Tak Serius' ini dengan JAS MENYANYI (jawab asal menarik dan berbunyi). Ujian dilaksanakan hingga pukul 1 siang lebih.

Kemudian saya tancapkan si jago merah menuju Universitas Kristen Maranatha untuk singgah dan pergi bersama Junior, menuju Pendopo Politeknik Negeri Bandung, kami memilih Polban karena sedang berlangsungnya acara Visit Keuangan Perbankan dan Keuangan Syariah 2012. Schedule utama saya sendiri hari itu adalah :
1.Menonton performance band Oyster (aborted, karena saya telat datang)
2.Silaturahmi dengan teman-teman di Himakaps beserta Alumni (terlaksana, seperti bertemu saudara-saudara lama).
3.Memenuhi janji pada dua sahabat saya (terlaksana, dalam keadaan teler).
4.Berharap diberi tester dimsum oleh Edablues alias Bisma Smash (karepku saja...)
5.Menemani Junior bernostalgia dan bertemu kembaran jauhnya (lihat figure 3 dan pada akhirnya, Junior menjadi bintang instant di himakaps)
5.App, App dan App... mari kita bahas di Part 2.

===================================================================================

 Part 2 - Memories of Junior dan Petualangan di POLBAN.

Figure 2 : Si Jago Merah
Tatkala perjalanan menuju Polban bersama Junior, hawa duka cerita berakhirnya masa kasmaran Junior mengisi perjalanan kami. Si Jago Merah diparkir di depan pendopo dan Junior merasakan hawa tak enak, faktornya adalah motor 'mio merah' terparkir jelas di depan Si Jago Merah, Mio merah tersebut dimiliki seorang gadis mantan pujaan hati Junior.

Benar saja! 10 menit pertama kami di pendopo, saya dikenalkan pada mantan pujaan Junior, analisa saya adalah: Tanpa bermaksud menyinggung perasaan junior :

1.Dengan normal/nonhomo saya mengakui bahwa Junior merupakan perpaduan Gantengnya Afgan dan Gagahnya 'Fahmy Eupeung' (lihat figure 3 untuk jelasnya) . So! Gadis tersebut terlihat kontras dengan rapihnya penampilan Junior.
Figure 3 : Sense jazz-nya Afgan + Gagahnya Fahmy Eupeung = Junior

2.Junior berkulit putih, sedikit terlihat metrosexual (sekali lagi ini objektif!), sedangkan gadis ini terlihat sangat sporty, saya rasa belum cakap untuk menjadi bidadari penjaga kebersihan penampilan Junior.

3.Secara usia dan menurut penuturan Junior, gadis ini masih harus menikmati masa remaja (punya banyak fans) menjelang menghadapi masa dewasa. Kontras dengan Junior yang riang dan bersahaja.

Kesimpulan saya adalah masih ada 109.999 materi praktikum yang menunggu untuk Junior coba.

Sedangkan saya sendiri ketika app hanya ada dua kata 'Nekat' dan berhenti menganalisa materi praktikum kemudian berhasil!, walau adanya hipotesa ganjil tentang target saya, seperti tidak lajang dan menjadi target banyak pemburu seperti saya. Tak apalah! yang penting nekat... dan 109.999 materi praktikum masih menanti saya.
Figure 4 : Para Petualang hari ini, Saya, Agus, Junior, Ketut dan Ady.

Kedatangan Ketut, Ady dan Agus membuat kami ber-5 (saya, Junior, Ketut, Ady dan Agus) melangkah menuju Pujasera Polban dengan maksud kembali ke tujuan awal yaitu 'App'. Kami mengambil satu tempat duduk dan memesan lima gelas kopi. Terbelakaklah wajah Ketut karena menemukan 2 target dari arah kanan belakang meja kami.

Pemilik warna hijau seingat saya bernama 'Witri' dan pemilik warna biru adalah 'Riska'. Mereka merupakan tipikal dari Ketut, maka giliran kedua adalah Ketut, alhasil Ketut tidak cocok memiliki salah satu diantara mereka maka mereka menanggapi dengan dingin kemudian suasana gelak tawa menghujani meja kami dilanjutkan tepuk tangan salut atas nyali Ketut.


Evaluasi kami tentang aksi Ketut antara lain :
1.Jangan bilang permisi, langsung tentukan apa mau kita.
2.Hindari senyum duluan, bisa-bisa disangka ada maunya.
3.Perhatikan bahasa tubuh kita, dianjurkan supaya tidak langsung menyerang

Ketika kami hendak beranjak pergi, Ketut memberi 2 gadis itu sebuah kalimat jujur dari lubuk hati paling dalam dan sepertinya Ketut pantas dipenjara oleh Briptu Eka Frestya karena mengucap mantra pembunuh kepedean dua gadis tak bersalah ini.

"Eh sorry yang tadi ya! Saya tadi latihan mental doang!" Tanpa bermaksud merendahkan kaum perempuan, mungkin dua gadis tersebut harus menginstall ulang kepedean mereka dan hendaknya memberikan kecocokan fun pada lelaki yang mengajak berkenalan dengan mereka. Merasa tidak cukup ketika hari menunjukan jam 5 sore, kami pindah venue ke Paris Van Java.


===================================================================================

Part 3 - Paris Van Java venue.

Figure 5 : Break Sejenak di Oh-lala
Dikarenakan Junior ada keperluan di jam 8, kami ber-empat yang melanjutan petualangan. hasilnya adalah Ady dan Agus berhasil melakukan perkenalan tapi belum sampai tahap meminta nomor handphone.

Saya sempat berhasil ketika di venue Polban karena fokus saya tertuju pada acara visit kp/ks, tapi sekarang di paris van java, entah kenapa saya langsung kaku dan sedikit tegang karena fokus saya berubah.

Ketika disini saya tidak mendapat apapun, walau saya mencoba sekali app namun dalam jangka 2 detik langsung aborted, karena suara saya kurang jelas ketika memanggil target.

Hasil hari ini adalah semuanya mendapat giliran untuk melakukan app, langkah yang naik drastis menuju seorang pw. Ingat! masih ada 109.999 materi praktikum yang harus kita App di petualangan selanjutnya. Kesimpulan Nekat/Berani + Fun = App.

.regards Yongkru
Rabu, 29 Februari 2012
Dunia Perpartneran bersama Rendi da Blues alias 'Bisma smash mini' rupanya tidak hanya berputar di atas bendera 'anak rantau', juga tak berputar di atas bendera 'Blues'. Namun jiwa pedagang dan seniman yang mengalir di darah kami turut memanggil hasrat untuk melebarkan sayap di Bisnis makanan ringan.

Unsur seniman dan jiwa pebisnis dipadukan dalam suatu seni berdagang, seni berdagang ini direalisasikan pada Booth 'Arena Dimsum' di Politeknik Negeri Bandung, Ciwaruga, Bandung barat (lihat Figure 1).

Okeh! Nampaknya saya harus pakai bahasa sederhana, singkatnya saya jadi rekan bisnis juragan Dimsum Bandung (FA Rendianto).
Figure 1, Dimsum di Booth Visit KP/KS Polban 2012.
Dimsum merupakan hidangan kecil seperti siomay namun rasanya lebih pekat, gurih dan lebih kenyang. Biasanya Dimsum ini menjadi hidangan minum teh oleh rakyat China.


Seiring zaman berjalan ke arah modernisasi, makanan ini tenar di seluruh dunia sampai ke Indonesia, tapi penjualannya masih terbatas di Hotel-hotel tertentu, bistro-bistro khusus dan restoran elite. Ironisnya tidak semua restaurant China menjual Dimsum .


So! Jikalau anda ingin mencoba Dimsum dengan harga terjangkau tapi tidak meninggalkan cita rasa gurih, lezat dan elite ini, datang saja ke Visit KP/KS Politeknik Negeri Bandung tanggal 15-17 Maret 2012.


Rasanya lezat mengenyangkan dengan budget Rp.12.000/porsi, terdapat 7 varian rasa, diantaranya Ayam, Smoke Beef, Udang, Cumi, Kepiting, Telur, Jamur (Klik pada rasa untuk melihat gambar Dimsum) dan 3 tingkat kepedasan (Mild, Spicy dan Hot). Sedangkan untuk rasa rendang masih dalam tahap eksperimen hehehee....

Figure 2. Peta dari Ged.Sate - Polban.
Tatkala kaki melangkah ke Bandung, lajukan kendaraan anda menuju daerah Sarijadi. Bandung Barat, kemudian (lihat Figure 2 untuk jelasnya).Tanyakan saja Kampus Politeknik Negeri Bandung dan setelah sampai Polban, anda akan langsung melihat Gedung Pendopo, disinilah tempat booth kami bersemayam selama acara Visit KP/KS 2012

Lebih gampang lagi kalau anda (kaum hawa) ikut datang kesini karena survey membuktikan anda akan lebih peka mengenali Booth Arena Dimsum karena wajah si Juragan sangat familiar di belantara boyband indonesia (lihat Figure 3 untuk jelasnya). 

Figure 3. Kembaran dan Sang Juragan.
Foto ini bukan rekayasa atau reaksi ke-alay-an saya, suatu kenyataan bahwa Sang Juragan ini merupakan kembaran jauh Bisma Smash. Maaf saya enggan mengulas lebih lanjut, karena saya tak mau ikut-ikutan disangka Morgan Smash.

Maka dari itu kapan lagi anda mencoba dimsum dengan harga ekonomis...??
Tetap IRIT dengan makanan ELITE.
Follow us on Twitter @arenadimsum


Selasa, 28 Februari 2012
Sekeren-kerennya gengsi seorang TOEFL breaker, masih keren tutur bahasa Indonesia yang kita cintai. Karena akan saya limpahkan berbagai segi catatan hari ini oleh bahasa yang sangat saya kuasai selama 23 tahun ini. Maksud penggunaan bahasa indonesia di catatan sekarang mungkin akan membagi malu pada anda semua, tapi hakikatnya komposisi malu pada diri saya sudah terpakai untuk mengobati penyakit kegatengan saya.

Siang selasa, mood sedang semangatnya untuk memperhatikan mata kuliah Ek.Mikro bersama para sejawat yang wajahnya masih sama dengan para wajah muda, kalau saya masih ingat nama para sejawat saya antara lain : Adam, Momon, Rizal, Adit, Nui dll (yang gak kesebut mohon maaf... saya lupa).


Sekonsen-kosennya mata saya terjurus kepada Dosen yang bersahaja ini, membuat mood menjadi fluktuatif dan tak terkendali sehingga menyebabkan rasa malas luar biasa bagi sebagian besar mahasiswa di kelas, maka tak jarang pintu menjadi lalu lintas para mahasiswa yang mencuri waktu untuk mabal ke luar kelas.


Kebosanan di kelas sedikit terobati oleh faktor yang tak ada korelasinya dengan mata kuliah, tapi kalau saja ada mata kuliah Manajemen Pemandangan mungkin objek ini akan menjadi bahan kasus (Lihat Figure 1).


Figure 1, Akar perkara faktor X.
Seringkali Hukum di negara kita mengadili seorang pemerkosa dengan pidana dan undang-undang keras tanpa meninjau terlebih dahulu faktor X penyebab pemerkosaan.


Agar lebih jelas beginilah matematis persamaanya :


a = X + Yx . Z


a = Terjadinya tindak bejad.
X = Faktor yang variablenya tetap/tak berubah, dideskripsikan sebagai Wanita berpakaian sensual.
Y = Faktor yang variblenya dapat berubah, dideskripsikan sebagai Nafsu birahi lelaki.
Z = kemampuan skill objek X dan sarana.


Disini saya tidak mencoba untuk merendahkan kaum perempuan, karena saya sadari Wanita yang kecantikan alami adalah harta karun dunia. 


Berkat Wanita anggun, Don Juan berhenti jadi playboy, tapi berkat Wanita sensual, Julius Caesar menjadi Jenderal Perang yang jatuh drastis.


Kembali lagi ke kelas C120, enam mahasiswa di kelas mencurahkan pandangan ke mahasiswi ini, kami serba salah bila harus menyebutkan kata-kata kotor! daripada kami berpikir kotor lebih jeuh, ada baiknya kami mengambil hikmah, bahwa semoga saja mahasiswi ini memaklumi para lelaki biasa.


.regards yongkru
Minggu, 26 Februari 2012
Minggu malam tanggal 25/02, di jalan cikutra 204A Bandung, aba-aba Pak Krisna Murti untuk mengakhiri Seminar Terlama 39 Jam diikuti oleh meriahnya tepuk tangan dari para audience. Scene tepuk tangan ini adalah bagian kecil rangkaian yang dibuat Universitas Widyatama sebagai pemilik rekor Seminar terlama di Indonesia.

Saya, Bos Gagan, Igo dan Ivan sedang duduk di belakang mewakili pihak dokumentasi dari UTamaTv, sedangkan Helmi dan Budi mengambil scene di sisi kanan panggung. Kebersamaan kami tidak hanya sampai situ saja, sesudah berakhirnya acara pada jam 12 malam, kami melanjutkan kegiatan para bujangan senang dengan cara bermain kartu remi di luar studio UTamaTv.

Seperti kata pepatah orang Amerika bahwa bermain di meja judi pada hakikatnya adalah mempererat silaturahmi antar pemain dan ajang obrolan sarat tantangan, bedanya dengan kami saat ini adalah, kami menghilangkan unsur judi pada permainan lalu mengganti essensinya dengan keakraban dan gurauan.

Gurauan yang variatif seputar 'Ivan Homo', 'Igo telat angkat' dan saya yang 'Gay Suspicious' memunculkan satu pertanyaan miris seputar peneltian wanita yang basicly from true story di semester kemarin, untuk jelasnya mari kita flashback sebentar :



=====================================================================================
Kelas Pak Arri Hutomo di Mata Kuliah 'Teori Pengambilan Keputusan' pada hari jumat di kelas K202 berlangsung sedikit ricuh karena komando untuk membuat kelompok baru saja diluncurkan Pak Arri. 

Kericuhan yang terjadi disebabkan bukan karena arogansi antar mahasiswa yang berdebat siapa paling ganteng, melainkan perkenalan antar mahasiswa yang dibuat harus sesegera mungkin agar terciptanya kerjasama yang kondusif antar anggota kelompok.

Saya menjabat tangan satu-persatu teman baru yang mengisi kelompok saya, kalau saya masih ingat, kelompok saya terdiri dari : (secara urutan jabat tangan) :
1.Alfi Sahrin (sebenarnya sudah lama kenal).
2.Nurul Huda Hidayat.
3.Vina Ria
4.saya lupa lagi, karena gadis asing berpakaian glamour girlie ini mengaku bernama 'SIAPA AJA BOLEH...' dengan intonasi yang centil. Kalau saja waktu itu Pak Arri tidak ada di kelas saya akan berkata lagi "Siapa elu cewek aneh!?" saya hanya tersenyum pahit mendengar perkataan gadis yang tidak masuk ke dalam relativitas tipikal perempuan idaman saya. (malah maaf... sama sekali tidak menarik bagi saya).

=====================================================================================


Contoh kasus nyata diatas menimbulkan pertanyaan "Tuh cewek kok bisa-bisanya ngomong kayak gitu?" kepada para sejawat yang sedang memegang kartu. Otomatis pertanyaan ini saya titik beratkan pada Bos Gagan yang secara usia sudah 3 tahun di atas saya. Bos Gagan menjawab "Seperti itulah wanita, ingin digoda".

Setelah itu saya memberikan sample kasus lagi (maaf, saya tidak bermaksud ria atau sombong), pengalaman ini tentang seorang gadis yang pernah menanyakan beberapa pertanyaan ganjil kepada saya :

Kita sebut namanya Sofia, Sofia ini adalah gadis cantik seangkatan saya, bahkan sekarang sudah memperoleh gelar S.E., dulu saya berkenalan via pacarnya (mantan tepatnya saat ini), semenjak perkenalan itu malah saya lebih dekat dengan Sofia ketimbang dengan pacarnya.


=====================================================================================
Pada suatu siang saya sedang mengurus rencana studi di ruang Prodi FBM (Program Studi Fakultas Bisnis dan Manajemen), kebetulan saat itu Sofia juga hendak menghadap pembimbingnya, sambil menunggu Bapak Pipin Sukandi, S.E., M.M. (Dosen wali saya) datang, otomatis saya duduk di samping sofia dengan posisi mesra (maksudnya kami mengobrol dengan teknis seperti berbisik untuk menjaga keheningan ruangan prodi).

Obrolan ngalor-ngidul sampai Sofia bertanya aneh pada saya (sekali lagi saya tidak bermaksud ria atau sombong) :
1."Kamu udah punya pacar yong?" Belum Fi, aku masih mengidap penyakit kegantengan.
2."Pernah jadian gak dikampus?" Enggak, ditolak sering! silahkan tanya Boy atau Fahmy (sejawat dekat saya di kampus).
3."Kepikiran gak jadian sama yang seumuran?" Bukannya enggak pengen, cewek yang mau ama saya gak ada. T_T.
4.Kami membisu
5..... giliran saya yang bertanya, "Emang kenapa Fi?"
6."Gak apa-apa" jawabnya sambil tertunduk lalu langsung membisu, setelah itu saya beranikan memegang tangannya dan dia tidak melepaskan tangannya dari genggaman saya.

     = Sofia         = Saya


Sewaktu itu saya mengerti dengan keadaan Sofia yang mungkin menginginkan lelaki yang sesuai dengan hasratnya, karena dari gerakan tubuh, bahasa tubuh dan pertanyaan ganjil tersebut, Sofia mengundang saya untuk mendekatinya. Di pikiran saya saat itu adalah :
1.Saya tidak tampan.
2.Saya tidak berkendara roda empat.
3.Saya tidak punya Black*erry.
4.IPK saya jeblok (Silahkan konfirmasi di akademik kampus saya, itupun kalau anda tak punya malu).
5.Sofia gadis cantik.
6.Sofia gadis sexy (tingginya hampir sama dengan saya).
7.Sofia gadis cerdas berkualitas (seorang Foto Model dan Model Catwalk).
8.Saya kurang pantas mendapatkan wanita secantik Sofia.
9.dan Masih banyak Lelaki yang lebih tampan dan menjamin Sofia daripada saya.
=====================================================================================

Dari kasus Sofia di atas Bos Gagan, Helmi dan Igo memberikan satu petunjuk yang menjadi judul catatan hari ini yaitu "MELAWAN KODRAT". 

Kodrat disini dianalogikan seperti remote, 
1.Laki-laki hanya ada dua tombol, yaitu Hiburan dan Nafsu (simple).
2.Sedangkan perempuan seperti tombol Remote DVD (banyak dan ribet).

Baru kali ini saya sadari faktor besar pada kejombloan saya, karena saya sendiri berprinsip sebagai lelaki yang tak kalah ribet dengan perempuan, padahal kampus saya mempunyai akreditasi sebagai kampus SLJJ (setiap langkah jatuh tjinta) dan Setia (Setiap tikungan ada wanita).

Oh My God, Ya Allah... Ampuni hambamu ini, besok saya takkan berpikir seribet perempuan.
.regards Yongkru