Twitter Blogger :
Diberdayakan oleh Blogger.
Blog saya yang lain
Who's the blogger?
Minggu, 26 Februari 2012
Minggu malam tanggal 25/02, di jalan cikutra 204A Bandung, aba-aba Pak Krisna Murti untuk mengakhiri Seminar Terlama 39 Jam diikuti oleh meriahnya tepuk tangan dari para audience. Scene tepuk tangan ini adalah bagian kecil rangkaian yang dibuat Universitas Widyatama sebagai pemilik rekor Seminar terlama di Indonesia.
Saya, Bos Gagan, Igo dan Ivan sedang duduk di belakang mewakili pihak dokumentasi dari UTamaTv, sedangkan Helmi dan Budi mengambil scene di sisi kanan panggung. Kebersamaan kami tidak hanya sampai situ saja, sesudah berakhirnya acara pada jam 12 malam, kami melanjutkan kegiatan para bujangan senang dengan cara bermain kartu remi di luar studio UTamaTv.
Seperti kata pepatah orang Amerika bahwa bermain di meja judi pada hakikatnya adalah mempererat silaturahmi antar pemain dan ajang obrolan sarat tantangan, bedanya dengan kami saat ini adalah, kami menghilangkan unsur judi pada permainan lalu mengganti essensinya dengan keakraban dan gurauan.
Gurauan yang variatif seputar 'Ivan Homo', 'Igo telat angkat' dan saya yang 'Gay Suspicious' memunculkan satu pertanyaan miris seputar peneltian wanita yang basicly from true story di semester kemarin, untuk jelasnya mari kita flashback sebentar :
=====================================================================================
Kelas Pak Arri Hutomo di Mata Kuliah 'Teori Pengambilan Keputusan' pada hari jumat di kelas K202 berlangsung sedikit ricuh karena komando untuk membuat kelompok baru saja diluncurkan Pak Arri.
Kericuhan yang terjadi disebabkan bukan karena arogansi antar mahasiswa yang berdebat siapa paling ganteng, melainkan perkenalan antar mahasiswa yang dibuat harus sesegera mungkin agar terciptanya kerjasama yang kondusif antar anggota kelompok.
Saya menjabat tangan satu-persatu teman baru yang mengisi kelompok saya, kalau saya masih ingat, kelompok saya terdiri dari : (secara urutan jabat tangan) :
1.Alfi Sahrin (sebenarnya sudah lama kenal).
2.Nurul Huda Hidayat.
3.Vina Ria
4.saya lupa lagi, karena gadis asing berpakaian glamour girlie ini mengaku bernama 'SIAPA AJA BOLEH...' dengan intonasi yang centil. Kalau saja waktu itu Pak Arri tidak ada di kelas saya akan berkata lagi "Siapa elu cewek aneh!?" saya hanya tersenyum pahit mendengar perkataan gadis yang tidak masuk ke dalam relativitas tipikal perempuan idaman saya. (malah maaf... sama sekali tidak menarik bagi saya).
=====================================================================================
Contoh kasus nyata diatas menimbulkan pertanyaan "Tuh cewek kok bisa-bisanya ngomong kayak gitu?" kepada para sejawat yang sedang memegang kartu. Otomatis pertanyaan ini saya titik beratkan pada Bos Gagan yang secara usia sudah 3 tahun di atas saya. Bos Gagan menjawab "Seperti itulah wanita, ingin digoda".
Setelah itu saya memberikan sample kasus lagi (maaf, saya tidak bermaksud ria atau sombong), pengalaman ini tentang seorang gadis yang pernah menanyakan beberapa pertanyaan ganjil kepada saya :
Kita sebut namanya Sofia, Sofia ini adalah gadis cantik seangkatan saya, bahkan sekarang sudah memperoleh gelar S.E., dulu saya berkenalan via pacarnya (mantan tepatnya saat ini), semenjak perkenalan itu malah saya lebih dekat dengan Sofia ketimbang dengan pacarnya.
=====================================================================================
Pada suatu siang saya sedang mengurus rencana studi di ruang Prodi FBM (Program Studi Fakultas Bisnis dan Manajemen), kebetulan saat itu Sofia juga hendak menghadap pembimbingnya, sambil menunggu Bapak Pipin Sukandi, S.E., M.M. (Dosen wali saya) datang, otomatis saya duduk di samping sofia dengan posisi mesra (maksudnya kami mengobrol dengan teknis seperti berbisik untuk menjaga keheningan ruangan prodi).
Obrolan ngalor-ngidul sampai Sofia bertanya aneh pada saya (sekali lagi saya tidak bermaksud ria atau sombong) :
1."Kamu udah punya pacar yong?" Belum Fi, aku masih mengidap penyakit kegantengan.
2."Pernah jadian gak dikampus?" Enggak, ditolak sering! silahkan tanya Boy atau Fahmy (sejawat dekat saya di kampus).
3."Kepikiran gak jadian sama yang seumuran?" Bukannya enggak pengen, cewek yang mau ama saya gak ada. T_T.
4.Kami membisu
5..... giliran saya yang bertanya, "Emang kenapa Fi?"
6."Gak apa-apa" jawabnya sambil tertunduk lalu langsung membisu, setelah itu saya beranikan memegang tangannya dan dia tidak melepaskan tangannya dari genggaman saya.
= Sofia = Saya
Sewaktu itu saya mengerti dengan keadaan Sofia yang mungkin menginginkan lelaki yang sesuai dengan hasratnya, karena dari gerakan tubuh, bahasa tubuh dan pertanyaan ganjil tersebut, Sofia mengundang saya untuk mendekatinya. Di pikiran saya saat itu adalah :
1.Saya tidak tampan.
2.Saya tidak berkendara roda empat.
3.Saya tidak punya Black*erry.
4.IPK saya jeblok (Silahkan konfirmasi di akademik kampus saya, itupun kalau anda tak punya malu).
5.Sofia gadis cantik.
6.Sofia gadis sexy (tingginya hampir sama dengan saya).
7.Sofia gadis cerdas berkualitas (seorang Foto Model dan Model Catwalk).
8.Saya kurang pantas mendapatkan wanita secantik Sofia.
9.dan Masih banyak Lelaki yang lebih tampan dan menjamin Sofia daripada saya.
=====================================================================================
Dari kasus Sofia di atas Bos Gagan, Helmi dan Igo memberikan satu petunjuk yang menjadi judul catatan hari ini yaitu "MELAWAN KODRAT".
Kodrat disini dianalogikan seperti remote,
1.Laki-laki hanya ada dua tombol, yaitu Hiburan dan Nafsu (simple).
2.Sedangkan perempuan seperti tombol Remote DVD (banyak dan ribet).
Baru kali ini saya sadari faktor besar pada kejombloan saya, karena saya sendiri berprinsip sebagai lelaki yang tak kalah ribet dengan perempuan, padahal kampus saya mempunyai akreditasi sebagai kampus SLJJ (setiap langkah jatuh tjinta) dan Setia (Setiap tikungan ada wanita).
Oh My God, Ya Allah... Ampuni hambamu ini, besok saya takkan berpikir seribet perempuan.
.regards Yongkru
Label:
college,
confession,
emotional composition,
social dilema
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar