Senin, 03 Desember 2012
Agar anda tak bosan dan jujur saya bosan memakai bahasa zaman roman, ada kalanya saya memakai bahasa sederhana namun lebih mementingkan kesegaran esensi dan minat baca anda semua... hehehe^_^ Insya Allah.
Dulu kala (sebenarnya beberapa tahun kebelakang). Saya pernah mendengar suatu kisah kehidupan Unggas paling perkasa di angkasa bumi, Tak lain ialah Elang yang menginspirasikan aktivitas saya, dan yang notabene merupakan pemakan terakhir dalam Ekosistem jaringan makanan di Alam liar. Contohnya :
Dulu kala (sebenarnya beberapa tahun kebelakang). Saya pernah mendengar suatu kisah kehidupan Unggas paling perkasa di angkasa bumi, Tak lain ialah Elang yang menginspirasikan aktivitas saya, dan yang notabene merupakan pemakan terakhir dalam Ekosistem jaringan makanan di Alam liar. Contohnya :
![]() |
| Ekosistem Alam (Default) |
Alam membuktikan bahwa Elang merupakan pemangsa dalam posisi puncak, ada homogen dalam perihal konsumsi dengan manusia, tapi Elang yang bukan mahluk berakal baik seperti manusia mempunyai semangat hidup yang cocok untuk dijadikan ilmu bahkan proses transformasinya hampir mirip dengan kehidupan orang sukses.
Secara biologis Elang bisa hidup sampai usia 70+ tahun namun harus menjalani proses yang perih dan menyakitkan, bahkan saya sendiri 'Linu' untuk membayangkannya. Di usia 30 tahun, tubuh elang mengalami penuaan, dimana pada bagian Paruh menjadi panjang bahkan mengenai dada, Cakar menjadi panjang hingga sulit mencengkram mangsa dan Bulu menjadi lebat hingga sulit untuk terbang tinggi.
Ada solusi natural, efisien, cepat, efektif dan tidak perlu operasi plastik. Pertama-tama, elang harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari mulutnya. Kemudian berdiam beberapa lama menunggu tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yang baru tumbuh, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu per satu.
Suatu proses yang panjang dan menyakitkan. Lima bulan kemudian, bulu-bulu elang yang baru sudah tumbuh. Elang mulai dapat terbang kembali. Dengan paruh dan cakar baru, elang tersebut mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi.
Pertanyaan sederhananya, Maukah kita mengambil keputusan perih seperti Elang?
Walau kita mempunyai perspektif masing-masing, tapi ada kalanya proses yang kita ambil bukanlah proses yang kita suka, bahkan kalau Elang bisa bicara (dan berakal) dia 'mungkin’ berkata :
Mematahkan paruh, cakar dan mencabut bulu sendiri itu menyakitkan. Tapi hasilnya adalah petualangan baru yang lebih panjang dalam hidup.
Hikmah Elang menjadi inspirasi bagi saya, sebagai pribadi tangguh dan pengambil keputusan yang berani walau terkesan agak konyol, Alhamdullilah kita dianugerahi pikiran yang bertugas menyaring dan mengkomposisi proses tersebut. Dan hati-hati karena pikiran kita sendiri yang kerap menjebak kita. Untuk menghadapinya saya terus belajar, mencari, berpetualang dan melakukan untuk mendapatkan Ilmu agar memahaminya.
.regads Yongkru
Label:
emotional composition
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar