Twitter Blogger :

Diberdayakan oleh Blogger.

Who's the blogger?

Foto saya
Truth is about discovery and fun adventure.
Jumat, 16 November 2012
Scene awal - sisa Waktu nyawa Will
Terilham oleh salah satu rekan sejawat saya yang mempunyai kapabilitas jurnalisme yang cakap, membuat saya tak ragu untuk menulis resensi sebuah film yang boleh terbilang sudah out of date namun syarat akan pesan dan hikmah, terlebih lagi turut merubah pola pikir positif seseorang dan membuat rasa seakan berada di kehidupan film tersebut.

Seiring mekarnya kesadaran masyarakat tentang pengendalian pola pikir manusia terhadap hal mainstream dan hal yang menyangkut pola pikir konsumtif, ada sebuah film ajaib (kata saya) yang bisa membuat kita semua menghargai nyawa dan pola konsumtif di kehidupan sehari-hari.

Bisa anda bayangkan ketika mata uang berganti dengan waktu pada nyawa anda? Bisa anda bayangkan bila memesan secangkir kopi, dibayar dengan lima menit nyawa anda? Bisa anda bayangkan sekali ongkos bepergian anda harus membayar dua jam nyawa anda? Sebentar! Sebelum anda mencetuskan gerakan apa yang anda lakukan, lebih baik mari kita ulas film berjudul ‘In Time’ ini. Terutama ulasan kacamata saya dari segi Teknologi, Hukum, Ekonomi dan Sosial.

Film ini dinaungi oleh 20th Century Fox, rumah produksi Regency Enterprise pictures, disutradari oleh Andrew Niccol di tahun 2011 dan Uniknya film ini dibintangi oleh Justin Timberlake yang notabene kita kenal sebagai boyband di tahun 2000-an. Kenapa unik? Perdana waktu saya mendengar namanya, ada keraguan tentang film bergenre thriller-drama yang dibintangi singer boyband terkenal, namun akhirnya saya keliru, karena film ini saya kategorikan awesome dari segi ide cerita, akting hingga rasa menegangkan.

Sebelumnya saya berterima kasih pada beberapa adik-adik dari SMKN 1 Ciamis yang bisa saya tuduh sebagai penyebar soft-copy film berdurasi 1,5 jam dan berformat AVI bajakan alias kagak original karena lagi-lagi berbagai tulisan di blog saya ini belum membuahkan apapun, bahkan untuk beberapa batang rokok Marlboro merah yang saya hisap (T____T) hiduppp.

Sungguh etika terpuji apabila anda adalah seseorang yang memberi harga pada analisa saya yang tertuang di tulisan ini. Hehehee….

Film ini diawali gradiasi bewarna hijau zamrud yang berkedip, detik demi detik diiringi lagu Piano Harlequin dan narasi suram Will Sallas (tokoh utama/Justin Timberlake) yang berbunyi :
“Aku tidak punya waktu”
“Aku tidak punya waktu untuk bertanya-tanya bagaimana hal ini bisa terjadi”
“Apa ini, apa itu”
“Hal ini tak memberi kehidupan lebih jauh setelah 25 tahun, masalahnya kita hanya memiliki satu tahun sesudahnya”
“Waktu adalah mata uang”
“Kita layak dan menghabiskannya”
“Orang kaya bisa menikmatinya”
“Tapi sisanya?”
“Aku berharap terbangun di pagi hari dengan lebih banyak waktu”
Semakin lama nampak fade in sebuah jam digital 14 digit yang berkomposisi :
0000.00.0.00.00.00
(tahun).(bulan).(hari).(jam).(menit).(detik)

Dan jelas terlihat bahwa jam tersebut berada di lengan sebelah kiri, dan itu bukan jam, melainkan sisa nyawa yang berjalan mundur. Lalu nampak wajah kembaran jauh saya yang baru bangun tidur (Justin Timberlake (maksa :D)).

Awal film ini sudah terlihat sangat menarik ketika Will Sallas terbangun di pagi hari dengan rasa gelisah untuk menjalani hari-hari kelabu, terbayang lagi apabila dia tidak hidup bersama Rachel Sallas (Ibu Will, diperankan Olivia Wilde). Di awal film ini saya sudah merasakan aura resah karena waktu nyawa di tangan Will tersisa 23 jam.

Tapi tak usah khawatir (masa lakon mati pas awal? hehe), rasa ketegaran ala survivor handal sukses diperankan Justin Timberlake di awal scene.

Lanjut cerita Will bangun, wajahnya tak bisa dibedakan antara bangun tidur dan sudah mandi (liciknya make-up perfilm-an yang slalu terlihat oke), tak lama di dapur sudah menunggu Rachel dan wajah Rachel sama sekali tidak nampak tua padahal tadinya saya menyangka bahwa Olivia berperan sebagai Istri Will.

Kebetulan hari tersebut adalah hari ulang tahun Rachel yang ke-50, itulah edannya teknologi di zaman tersebut. Tidak bisa membedakan yang mana manula. Bahkan Nenek-Ibu dan Anak Perempuan (contohnya Silvia Weis yang diperankan Amanda Seyfriend) tidak bisa dibedakan.

Berhubung saya malas mengulas secara naratif, jadi lebih baik langsung saya analisa dari berbagai segi makro (maklum baru pulang kuliah, pengen langsung nulis tapi males kontruksi teks hehe….).

Dari segi Teknologi & Sains Umum (karena film ini bergenre Sci-Fi) :
1.Manusia takkan mengalami penuaan karena ‘katanya’ hormon pertumbuhan tubuh berhenti di usia 25 tahun.
2.Setiap orang punya jam digital tambahan di lengan kiri yang berfungsi sebagai nyawa, waktu mulai berjalan mundur setelah usia 25 tahun dengan sisa waktu satu tahun.
3.Terdapat alat seukuran handphone touch-screen yang berfungsi sebagai Time Bank atau alat portable pembawa waktu.
4.Transaksi waktu melalui pergelangan tangan kanan.
5.Sayangnya tidak ada rincian tanggal berapa pada film tersebut.
6.Semua mobil berjenis vintage semacam Corvette Classic, mustang GT, RR Limousine dll.
Time Bank milik Philip Weis berjumlah 1 Millenium
Dari Segi Hukum :
1.Polisi berganti nama menjadi Biro Penjaga waktu, tugasnya tak lain adalah mengatasi dan mengawasi kriminalitas khususnya ber-objek waktu.
2.Masyarakat cenderung taat pada hukum.
3.Masyarakat bertingkah saling sinis dan enggan saling mengusik.
4.Legalnya Gengster penantang bermain panco waktu.
Transaksi Waktu menggunakan Time Bank
Dari Segi Ekonomi :
1.Nilai pembayaran diganti dengan waktu-nyawa di tangan
2.Gerak usaha orang miskin terbatas
3.Bank menjual waktu (tidak ada uang giral atau kartal)
4.Mau hidup terjamin? Kerja di Bank Waktu.
5.Sistem gaji perhari.
6.Prostitusi marak berhubung genetika tubuh tidak mengalami penuaan dan saya melihat dimana para pelacur tidak ada yang bertubuh lebar (maaf... paling banter bertubuh sintal).
Silvia Weis & Will Sallas - Scene membobol bank
Dari segi Sosial :
1.Jumlah populasi penduduk terkontrol.
2.Masyarakat berperilaku produktif (minimal menjadi pekerja kasar) karena tak mau punya sedikit waktu (kecuali satu orang yang memberikan waktu se-abad pada Will secara cuma-cuma).
3.Warna kehidupan kota cenderung dingin karena masyarakat sibuk bekerja.
4.Yang kuat/kaya bertahan hidup (teori Darwin).
5.Waktu sangat teramat sangatx99 berharga (Time is Money), ungkapan sederhana yang orang Indonesia anggap sepele, kuno, malah basi tapi menjadi tak terduga saat dijadikan alas konsep film ini.
6.Bila berniat keluar daerah mesti mengeluarkan biaya banyak (satu bulan waktu).
7.Pemerintahan tak jelas, saya berspekulasi bahwa dinamika negara dijalankan oleh perusahaan.

8.Permainan panco tangan berakhir dengan hilangnya satu nyawa.
Adu panco nyawa
Daftar Tarif, dengan permisif saya hanya akan menulis kontennya  :1.6 botol bir = 1 jam
2.1 cangkir kopi = 4 menit
3.Tarif Bis Carmen – Dayton = 2 Jam
4.Kamar standar hotel New Greenwich = 2 bulan
5.Kamar suite hotel new Greenwich = ???? tidak diperlihatkan
6.Sarapan pagi hotel = 8,5 minggu
7.Donasi non-anggota kasino = minimal 1 tahun
8.Mobil Corvette klasik = 59 tahun (termasuk pajak + biaya pengiriman)

9.Menangkap satu penjahat waktu = 5 bulan
Daftar harga kopi di Pabrik tempat Will bekerja
Bisa anda bayangkan hidup dizaman tersebut? Dimana uang adalah nyawa. Film ini mengandung pesan moral bahwa ‘Waktu adalah uang’ malah saya berani metamorphosis-kan ungkapan itu menjadi :
 
‘Waktu adalah nyawa dan kehidupan’

Terdengar sepele bukan? Tapi apa jadinya bila kita merasakan? paling tidak membayangkan hidup di dunia ‘In Time’?.

Saya sendiri membayangkan apabila saya berada di dunia tersebut, saya akan berperang dan mempertaruhkan nyawa membasmi orang/golongan yang mencetuskan ide waktu nyawa itu. Bila terlanjur basah, saya menjadi gangster yang menjebol perbatasan Daerah ekonomi atas (New Greenwich) kemudian saya akan berjuang membuat/mencari cara menghapus sistem waktu nyawa.
 

Intinya mau di dunia itu atau di dunia nyata sekarang ini, saya tak akan membiarkan hidup saya sia-sia. 

Bagaimana dengan anda?

Para warga berebut waktu gratis

‘Waktu adalah nyawa & kehidupan’
(Yongkru)

.regards Yongkru

0 komentar: