Twitter Blogger :
Diberdayakan oleh Blogger.
Blog saya yang lain
Who's the blogger?
Rabu, 29 Februari 2012
Dunia Perpartneran bersama Rendi da Blues alias 'Bisma smash mini' rupanya tidak hanya berputar di atas bendera 'anak rantau', juga tak berputar di atas bendera 'Blues'. Namun jiwa pedagang dan seniman yang mengalir di darah kami turut memanggil hasrat untuk melebarkan sayap di Bisnis makanan ringan.
Unsur seniman dan jiwa pebisnis dipadukan dalam suatu seni berdagang, seni berdagang ini direalisasikan pada Booth 'Arena Dimsum' di Politeknik Negeri Bandung, Ciwaruga, Bandung barat (lihat Figure 1).
Okeh! Nampaknya saya harus pakai bahasa sederhana, singkatnya saya jadi rekan bisnis juragan Dimsum Bandung (FA Rendianto).
![]() |
| Figure 1, Dimsum di Booth Visit KP/KS Polban 2012. |
Dimsum merupakan hidangan kecil seperti siomay namun rasanya lebih pekat, gurih dan lebih kenyang. Biasanya Dimsum ini menjadi hidangan minum teh oleh rakyat China.
Seiring zaman berjalan ke arah modernisasi, makanan ini tenar di seluruh dunia sampai ke Indonesia, tapi penjualannya masih terbatas di Hotel-hotel tertentu, bistro-bistro khusus dan restoran elite. Ironisnya tidak semua restaurant China menjual Dimsum .
So! Jikalau anda ingin mencoba Dimsum dengan harga terjangkau tapi tidak meninggalkan cita rasa gurih, lezat dan elite ini, datang saja ke Visit KP/KS Politeknik Negeri Bandung tanggal 15-17 Maret 2012.
Rasanya lezat mengenyangkan dengan budget Rp.12.000/porsi, terdapat 7 varian rasa, diantaranya Ayam, Smoke Beef, Udang, Cumi, Kepiting, Telur, Jamur (Klik pada rasa untuk melihat gambar Dimsum) dan 3 tingkat kepedasan (Mild, Spicy dan Hot). Sedangkan untuk rasa rendang masih dalam tahap eksperimen hehehee....
Seiring zaman berjalan ke arah modernisasi, makanan ini tenar di seluruh dunia sampai ke Indonesia, tapi penjualannya masih terbatas di Hotel-hotel tertentu, bistro-bistro khusus dan restoran elite. Ironisnya tidak semua restaurant China menjual Dimsum .
So! Jikalau anda ingin mencoba Dimsum dengan harga terjangkau tapi tidak meninggalkan cita rasa gurih, lezat dan elite ini, datang saja ke Visit KP/KS Politeknik Negeri Bandung tanggal 15-17 Maret 2012.
Rasanya lezat mengenyangkan dengan budget Rp.12.000/porsi, terdapat 7 varian rasa, diantaranya Ayam, Smoke Beef, Udang, Cumi, Kepiting, Telur, Jamur (Klik pada rasa untuk melihat gambar Dimsum) dan 3 tingkat kepedasan (Mild, Spicy dan Hot). Sedangkan untuk rasa rendang masih dalam tahap eksperimen hehehee....
![]() |
| Figure 2. Peta dari Ged.Sate - Polban. |
Lebih gampang lagi kalau anda (kaum hawa) ikut datang kesini karena survey membuktikan anda akan lebih peka mengenali Booth Arena Dimsum karena wajah si Juragan sangat familiar di belantara boyband indonesia (lihat Figure 3 untuk jelasnya).
![]() |
| Figure 3. Kembaran dan Sang Juragan. |
Maka dari itu kapan lagi anda mencoba dimsum dengan harga ekonomis...??
Tetap IRIT dengan makanan ELITE.
Label:
entrepreneur
|
0
komentar
Selasa, 28 Februari 2012
Sekeren-kerennya gengsi seorang TOEFL breaker, masih keren tutur bahasa Indonesia yang kita cintai. Karena akan saya limpahkan berbagai segi catatan hari ini oleh bahasa yang sangat saya kuasai selama 23 tahun ini. Maksud penggunaan bahasa indonesia di catatan sekarang mungkin akan membagi malu pada anda semua, tapi hakikatnya komposisi malu pada diri saya sudah terpakai untuk mengobati penyakit kegatengan saya.
Siang selasa, mood sedang semangatnya untuk memperhatikan mata kuliah Ek.Mikro bersama para sejawat yang wajahnya masih sama dengan para wajah muda, kalau saya masih ingat nama para sejawat saya antara lain : Adam, Momon, Rizal, Adit, Nui dll (yang gak kesebut mohon maaf... saya lupa).
Sekonsen-kosennya mata saya terjurus kepada Dosen yang bersahaja ini, membuat mood menjadi fluktuatif dan tak terkendali sehingga menyebabkan rasa malas luar biasa bagi sebagian besar mahasiswa di kelas, maka tak jarang pintu menjadi lalu lintas para mahasiswa yang mencuri waktu untuk mabal ke luar kelas.
Kebosanan di kelas sedikit terobati oleh faktor yang tak ada korelasinya dengan mata kuliah, tapi kalau saja ada mata kuliah Manajemen Pemandangan mungkin objek ini akan menjadi bahan kasus (Lihat Figure 1).
Seringkali Hukum di negara kita mengadili seorang pemerkosa dengan pidana dan undang-undang keras tanpa meninjau terlebih dahulu faktor X penyebab pemerkosaan.
Agar lebih jelas beginilah matematis persamaanya :
a = X + Yx . Z
a = Terjadinya tindak bejad.
X = Faktor yang variablenya tetap/tak berubah, dideskripsikan sebagai Wanita berpakaian sensual.
Y = Faktor yang variblenya dapat berubah, dideskripsikan sebagai Nafsu birahi lelaki.
Z = kemampuan skill objek X dan sarana.
Disini saya tidak mencoba untuk merendahkan kaum perempuan, karena saya sadari Wanita yang kecantikan alami adalah harta karun dunia.
Berkat Wanita anggun, Don Juan berhenti jadi playboy, tapi berkat Wanita sensual, Julius Caesar menjadi Jenderal Perang yang jatuh drastis.
Kembali lagi ke kelas C120, enam mahasiswa di kelas mencurahkan pandangan ke mahasiswi ini, kami serba salah bila harus menyebutkan kata-kata kotor! daripada kami berpikir kotor lebih jeuh, ada baiknya kami mengambil hikmah, bahwa semoga saja mahasiswi ini memaklumi para lelaki biasa.
.regards yongkru
Sekonsen-kosennya mata saya terjurus kepada Dosen yang bersahaja ini, membuat mood menjadi fluktuatif dan tak terkendali sehingga menyebabkan rasa malas luar biasa bagi sebagian besar mahasiswa di kelas, maka tak jarang pintu menjadi lalu lintas para mahasiswa yang mencuri waktu untuk mabal ke luar kelas.
Kebosanan di kelas sedikit terobati oleh faktor yang tak ada korelasinya dengan mata kuliah, tapi kalau saja ada mata kuliah Manajemen Pemandangan mungkin objek ini akan menjadi bahan kasus (Lihat Figure 1).
![]() |
| Figure 1, Akar perkara faktor X. |
Agar lebih jelas beginilah matematis persamaanya :
a = X + Yx . Z
a = Terjadinya tindak bejad.
X = Faktor yang variablenya tetap/tak berubah, dideskripsikan sebagai Wanita berpakaian sensual.
Y = Faktor yang variblenya dapat berubah, dideskripsikan sebagai Nafsu birahi lelaki.
Z = kemampuan skill objek X dan sarana.
Disini saya tidak mencoba untuk merendahkan kaum perempuan, karena saya sadari Wanita yang kecantikan alami adalah harta karun dunia.
Berkat Wanita anggun, Don Juan berhenti jadi playboy, tapi berkat Wanita sensual, Julius Caesar menjadi Jenderal Perang yang jatuh drastis.
Kembali lagi ke kelas C120, enam mahasiswa di kelas mencurahkan pandangan ke mahasiswi ini, kami serba salah bila harus menyebutkan kata-kata kotor! daripada kami berpikir kotor lebih jeuh, ada baiknya kami mengambil hikmah, bahwa semoga saja mahasiswi ini memaklumi para lelaki biasa.
.regards yongkru
Minggu, 26 Februari 2012
Minggu malam tanggal 25/02, di jalan cikutra 204A Bandung, aba-aba Pak Krisna Murti untuk mengakhiri Seminar Terlama 39 Jam diikuti oleh meriahnya tepuk tangan dari para audience. Scene tepuk tangan ini adalah bagian kecil rangkaian yang dibuat Universitas Widyatama sebagai pemilik rekor Seminar terlama di Indonesia.
Saya, Bos Gagan, Igo dan Ivan sedang duduk di belakang mewakili pihak dokumentasi dari UTamaTv, sedangkan Helmi dan Budi mengambil scene di sisi kanan panggung. Kebersamaan kami tidak hanya sampai situ saja, sesudah berakhirnya acara pada jam 12 malam, kami melanjutkan kegiatan para bujangan senang dengan cara bermain kartu remi di luar studio UTamaTv.
Seperti kata pepatah orang Amerika bahwa bermain di meja judi pada hakikatnya adalah mempererat silaturahmi antar pemain dan ajang obrolan sarat tantangan, bedanya dengan kami saat ini adalah, kami menghilangkan unsur judi pada permainan lalu mengganti essensinya dengan keakraban dan gurauan.
Gurauan yang variatif seputar 'Ivan Homo', 'Igo telat angkat' dan saya yang 'Gay Suspicious' memunculkan satu pertanyaan miris seputar peneltian wanita yang basicly from true story di semester kemarin, untuk jelasnya mari kita flashback sebentar :
=====================================================================================
Kelas Pak Arri Hutomo di Mata Kuliah 'Teori Pengambilan Keputusan' pada hari jumat di kelas K202 berlangsung sedikit ricuh karena komando untuk membuat kelompok baru saja diluncurkan Pak Arri.
Kericuhan yang terjadi disebabkan bukan karena arogansi antar mahasiswa yang berdebat siapa paling ganteng, melainkan perkenalan antar mahasiswa yang dibuat harus sesegera mungkin agar terciptanya kerjasama yang kondusif antar anggota kelompok.
Saya menjabat tangan satu-persatu teman baru yang mengisi kelompok saya, kalau saya masih ingat, kelompok saya terdiri dari : (secara urutan jabat tangan) :
1.Alfi Sahrin (sebenarnya sudah lama kenal).
2.Nurul Huda Hidayat.
3.Vina Ria
4.saya lupa lagi, karena gadis asing berpakaian glamour girlie ini mengaku bernama 'SIAPA AJA BOLEH...' dengan intonasi yang centil. Kalau saja waktu itu Pak Arri tidak ada di kelas saya akan berkata lagi "Siapa elu cewek aneh!?" saya hanya tersenyum pahit mendengar perkataan gadis yang tidak masuk ke dalam relativitas tipikal perempuan idaman saya. (malah maaf... sama sekali tidak menarik bagi saya).
=====================================================================================
Contoh kasus nyata diatas menimbulkan pertanyaan "Tuh cewek kok bisa-bisanya ngomong kayak gitu?" kepada para sejawat yang sedang memegang kartu. Otomatis pertanyaan ini saya titik beratkan pada Bos Gagan yang secara usia sudah 3 tahun di atas saya. Bos Gagan menjawab "Seperti itulah wanita, ingin digoda".
Setelah itu saya memberikan sample kasus lagi (maaf, saya tidak bermaksud ria atau sombong), pengalaman ini tentang seorang gadis yang pernah menanyakan beberapa pertanyaan ganjil kepada saya :
Kita sebut namanya Sofia, Sofia ini adalah gadis cantik seangkatan saya, bahkan sekarang sudah memperoleh gelar S.E., dulu saya berkenalan via pacarnya (mantan tepatnya saat ini), semenjak perkenalan itu malah saya lebih dekat dengan Sofia ketimbang dengan pacarnya.
=====================================================================================
Pada suatu siang saya sedang mengurus rencana studi di ruang Prodi FBM (Program Studi Fakultas Bisnis dan Manajemen), kebetulan saat itu Sofia juga hendak menghadap pembimbingnya, sambil menunggu Bapak Pipin Sukandi, S.E., M.M. (Dosen wali saya) datang, otomatis saya duduk di samping sofia dengan posisi mesra (maksudnya kami mengobrol dengan teknis seperti berbisik untuk menjaga keheningan ruangan prodi).
Obrolan ngalor-ngidul sampai Sofia bertanya aneh pada saya (sekali lagi saya tidak bermaksud ria atau sombong) :
1."Kamu udah punya pacar yong?" Belum Fi, aku masih mengidap penyakit kegantengan.
2."Pernah jadian gak dikampus?" Enggak, ditolak sering! silahkan tanya Boy atau Fahmy (sejawat dekat saya di kampus).
3."Kepikiran gak jadian sama yang seumuran?" Bukannya enggak pengen, cewek yang mau ama saya gak ada. T_T.
4.Kami membisu
5..... giliran saya yang bertanya, "Emang kenapa Fi?"
6."Gak apa-apa" jawabnya sambil tertunduk lalu langsung membisu, setelah itu saya beranikan memegang tangannya dan dia tidak melepaskan tangannya dari genggaman saya.
= Sofia = Saya
Sewaktu itu saya mengerti dengan keadaan Sofia yang mungkin menginginkan lelaki yang sesuai dengan hasratnya, karena dari gerakan tubuh, bahasa tubuh dan pertanyaan ganjil tersebut, Sofia mengundang saya untuk mendekatinya. Di pikiran saya saat itu adalah :
1.Saya tidak tampan.
2.Saya tidak berkendara roda empat.
3.Saya tidak punya Black*erry.
4.IPK saya jeblok (Silahkan konfirmasi di akademik kampus saya, itupun kalau anda tak punya malu).
5.Sofia gadis cantik.
6.Sofia gadis sexy (tingginya hampir sama dengan saya).
7.Sofia gadis cerdas berkualitas (seorang Foto Model dan Model Catwalk).
8.Saya kurang pantas mendapatkan wanita secantik Sofia.
9.dan Masih banyak Lelaki yang lebih tampan dan menjamin Sofia daripada saya.
=====================================================================================
Dari kasus Sofia di atas Bos Gagan, Helmi dan Igo memberikan satu petunjuk yang menjadi judul catatan hari ini yaitu "MELAWAN KODRAT".
Kodrat disini dianalogikan seperti remote,
1.Laki-laki hanya ada dua tombol, yaitu Hiburan dan Nafsu (simple).
2.Sedangkan perempuan seperti tombol Remote DVD (banyak dan ribet).
Baru kali ini saya sadari faktor besar pada kejombloan saya, karena saya sendiri berprinsip sebagai lelaki yang tak kalah ribet dengan perempuan, padahal kampus saya mempunyai akreditasi sebagai kampus SLJJ (setiap langkah jatuh tjinta) dan Setia (Setiap tikungan ada wanita).
Oh My God, Ya Allah... Ampuni hambamu ini, besok saya takkan berpikir seribet perempuan.
.regards Yongkru
Label:
college,
confession,
emotional composition,
social dilema
|
0
komentar
Senin, 20 Februari 2012
Sekitar sebulan lalu, ditulis kisah tentang Astrid yang mungkin hidupnya fluktuatif oleh tingkah tanduk lazim seorang manusia berlibido. Namun edisi yang lalu saya belum membahas secara lengkap tentang Astrid, terutama korelasi kebenaran dari seorang Irfan.
Sekarang-lah saatnya saya narasikan sebuah cerpen tentang seorang Astrid dan Irfan, saya tidak bermaksud untuk menjatuhkan, namun niat jelek Astrid ini sempat membuat saya menghela nafas panjang, komposisi sikap Astrid cocok untuk dijadikan pembelajaran baru mengenai struktur tingkah laku manusia.
Kamis, 09 Februari 2012
Bukan karena
rasa bosan saya mengubah bahasa catatan menjadi Indonesia, bukan pula karena
TOEFL score yang belum mencapai angka 550. Bukan juga karena tidak menemukan
judul pas untuk hari ini.
Hakikatnya hari ini terasa kenangan tentang ruang pergaulan saya dahulu kala, berhubung konten sekarang sangat Vulgar dan penuh dengan kebencian, ada baiknya sebelumnya mari kita berdoa (serius).
Ya Allah…. Hamba dulu seorang pesimis yang kini paranoid dengan kesombongan, maka izinkan hamba bercerita sekalipun dendam ini hamba endapkan selama 5 tahun. Hamba tak berniat membagi kebencian, namun hamba hanya ingin mengungkap kebenaran dari fakta yang telah terjadi.
PERLU ANDA INGAT bahwa tidak semua yang terlibat di dalam pergaulan ini saya cap berunsur borjuis.
Langkah Kaki tertuju ke Food Court kampus bersama sejawat saya yang bernama Ilyas Mudjib untuk menunggu kelas Ilyas berikutnya. Di food court saya bertemu ‘Ivan Noerman’ sejawat kampus sekaligus produser tv kampus. Ivan juga membawa seorang temannya. Tak disangka melalui Ivan, takdir mempertemukan saya dengan kawan lama yang saya samarkan namanya.
Hakikatnya hari ini terasa kenangan tentang ruang pergaulan saya dahulu kala, berhubung konten sekarang sangat Vulgar dan penuh dengan kebencian, ada baiknya sebelumnya mari kita berdoa (serius).
Ya Allah…. Hamba dulu seorang pesimis yang kini paranoid dengan kesombongan, maka izinkan hamba bercerita sekalipun dendam ini hamba endapkan selama 5 tahun. Hamba tak berniat membagi kebencian, namun hamba hanya ingin mengungkap kebenaran dari fakta yang telah terjadi.
PERLU ANDA INGAT bahwa tidak semua yang terlibat di dalam pergaulan ini saya cap berunsur borjuis.
Langkah Kaki tertuju ke Food Court kampus bersama sejawat saya yang bernama Ilyas Mudjib untuk menunggu kelas Ilyas berikutnya. Di food court saya bertemu ‘Ivan Noerman’ sejawat kampus sekaligus produser tv kampus. Ivan juga membawa seorang temannya. Tak disangka melalui Ivan, takdir mempertemukan saya dengan kawan lama yang saya samarkan namanya.
Ketika teman Ivan memperkenalkan nama “Leon…”, saya tercengang habis-habisan sambil bertanya “Leon 2007….!? SMA Taruna Bakti…!? Temennya Capruk, Ramadhan, Naya, Ubay, Anjani, Sekar dkk?” dia mengangguk heran ketika terus saya serang dengan pertanyaan bertubi-tubi, sampai saya yakinkan Leon bahwa saya bukan orang asing baginya “ini Yongki yang dulu bro…”
Jabat tangan yang dalam dan teriakan tawa kami ledakan di depan ruangan Utama TV setelah 5 tahun tak bertemu. Rupanya Leonard satu almamater dengan saya dan sedang dalam masa skripsi, Leonard merupakan kawan lama saya di salah satu Pelatihan Pemulihan Nurani (tentu saya samarkan namanya).
Pelatihan Pemulihan Nurani disini akan saya singkat menjadi Perani, Dunia sosial alumni Perani ini sempat membuat hidup saya berwarna dan sampai detik ini hati kecil saya berbisik untuk kembali ke dunia ini. Untuk memperjelasnya saya akan flashback 8 tahun kebelakang.
Tahun 2004. Alkisah.
Perdananya
Ayah saya mengikuti kegiatan ini di Jakarta dengan hasil perubahan aspek Spiritualitas
dan Emosionalitas. Alhamdullilah…. Berkat itu keluarga (termasuk saya) sering
menghadiri pelatihan tersebut dan merasa hidup lebih tenang, tentunya yang
intens mengikuti pelatihan ini bukan hanya kami, para Alumni lain juga merasakannya.
Seiring
intensitas pelatihan tersebut di Bandung terciptalah kehidupan sosial di luar pelatihan
yang menarik dan elegan.
Tahun 2005. Semakin ramainya Dunia Remaja Perani.
Tahun 2005. Semakin ramainya Dunia Remaja Perani.
Di Bandung, pelatihan
ini terselenggara sesuai usianya, ada Remaja, Dewasa, Mahasiswa hingga
anak-anak. Tatkala itu saya sangat bersyukur mengikutinya karena saya punya ruang
lingkup baru dengan suasana agamis dan elegan. Setiap ada pelatihan saya jarang
absen sekalipun sedang hari sekolah.
Intensitas pelatihan yang diadakan juga merambah ke level Remaja/Teens, waw…. Saya semakin bahagia karena banyak mendapat teman baru. Dan tercipta lagi kehidupan Dunia sosial Perani di usia remaja (kalau tak salah, saat inilah saya berkenalan dengan Leonard).
Intensitas pelatihan yang diadakan juga merambah ke level Remaja/Teens, waw…. Saya semakin bahagia karena banyak mendapat teman baru. Dan tercipta lagi kehidupan Dunia sosial Perani di usia remaja (kalau tak salah, saat inilah saya berkenalan dengan Leonard).
Namun karena
biaya pelatihan ini tidaklah murah, maka 90% para Alumni kegiatan ini bisa
dikatakan adalah masyarakat menengah keatas.
Pelatihan demi pelatihan saya hadiri dengan status alumni dan makin banyaknya peserta pelatihan, pihak penyelenggara membutuhkan bantuan teknis di lapangan, maka para alumni yang aktif mengikuti pelatihan bersedia untuk turut serta dalam panitia lapangan yang disebut ATS (Alumni Training Support, nama asli).
Tahun 2006. Lahirnya Alumni Perani Remaja
Pelatihan demi pelatihan saya hadiri dengan status alumni dan makin banyaknya peserta pelatihan, pihak penyelenggara membutuhkan bantuan teknis di lapangan, maka para alumni yang aktif mengikuti pelatihan bersedia untuk turut serta dalam panitia lapangan yang disebut ATS (Alumni Training Support, nama asli).
Tahun 2006. Lahirnya Alumni Perani Remaja
Syukur kepada
Sang Maha Kuasa karena alumni dari taraf usia remaja semakin banyak, untuk
menghimpun lalu mengorganisir ruang lingkup di kalangan remaja, dibuatlah wadah
silaturahmi yang disebut Alumni Perani Remaja (APR, lagi-lagi harus saya
samarkan namanya). Di waktu inilah tumbuh cikal bakal kecanggungan saya di
Dunia Sosial Perani.
Secara material saya bukanlah anak orang kaya berkendaraan, sewaktu itu saya hanyalah pejalan kaki yang hobi nebeng pulang. Hingga di satu waktu salah seorang APR yang sempat menjabat sebagai Ketua APR merasa kesal, karena saya adalah penebeng yang teramat merepotkan.
Ada satu sahabat seperjuangan yang harus saya samarkan lagi namanya (Pampam), Pampam secara darah mungkin bukan kerabat ataupun saudara, namun saya masih mengingat persahabatan kami ketika Dunia Sosial APR belum muncul. Setiap ada pelatihan di level Professional, Reguler, Mahasiswa, Teens ataupun Kids saya tidak merasa kesepian karena saya punya teman selevelan.
Semakin lama…. lingkungan APR yang terlihat didepan mata seakan tak lagi menunjukan kualitas kecerdasan Emosi dan Spiritual. Para APR aktif berpengaruh yang saya idamkan sebagai pemersatu semua golongan ternyata sudah berbentuk blok borjuis. Saya tak mau harus menggunakan kendaraan roda empat untuk bisa masuk kembali ke APR ini.
Pampam dan Ketua APR kedua semakin lama semakin merasa risih dengan kehadiran saya, yang saya perhatikan disini adalah tertutupnya pintu APR setelah Pampam berkata ‘SOSOK SAYA yang kata Pampam sok senior, MEMBUAT SEBAL PARA APR berpengaruh’.
SENIOR SEBELAH MANA YA PAM? APA SAYA PERNAH MENGUMBAR DENGAN AROGAN BAHWA SAYA ADALAH ALUMNI TEENS 14 JAKARTA?
Sayang…. Pertanyaan tersebut tidak sudi saya jawab karena saya tulus mencintai lingkungan ini dan merasa ingin APR selalu ada bagi seluruh Alumni Perani (tanpa adanya blok borjuis), tapi kok kamu juga masuk blok borjuis ya Pam?.
2006 – Sekarang bersama Leonard dan sepenggal Kemunafikan saya.
Secara material saya bukanlah anak orang kaya berkendaraan, sewaktu itu saya hanyalah pejalan kaki yang hobi nebeng pulang. Hingga di satu waktu salah seorang APR yang sempat menjabat sebagai Ketua APR merasa kesal, karena saya adalah penebeng yang teramat merepotkan.
Ada satu sahabat seperjuangan yang harus saya samarkan lagi namanya (Pampam), Pampam secara darah mungkin bukan kerabat ataupun saudara, namun saya masih mengingat persahabatan kami ketika Dunia Sosial APR belum muncul. Setiap ada pelatihan di level Professional, Reguler, Mahasiswa, Teens ataupun Kids saya tidak merasa kesepian karena saya punya teman selevelan.
Semakin lama…. lingkungan APR yang terlihat didepan mata seakan tak lagi menunjukan kualitas kecerdasan Emosi dan Spiritual. Para APR aktif berpengaruh yang saya idamkan sebagai pemersatu semua golongan ternyata sudah berbentuk blok borjuis. Saya tak mau harus menggunakan kendaraan roda empat untuk bisa masuk kembali ke APR ini.
Pampam dan Ketua APR kedua semakin lama semakin merasa risih dengan kehadiran saya, yang saya perhatikan disini adalah tertutupnya pintu APR setelah Pampam berkata ‘SOSOK SAYA yang kata Pampam sok senior, MEMBUAT SEBAL PARA APR berpengaruh’.
SENIOR SEBELAH MANA YA PAM? APA SAYA PERNAH MENGUMBAR DENGAN AROGAN BAHWA SAYA ADALAH ALUMNI TEENS 14 JAKARTA?
Sayang…. Pertanyaan tersebut tidak sudi saya jawab karena saya tulus mencintai lingkungan ini dan merasa ingin APR selalu ada bagi seluruh Alumni Perani (tanpa adanya blok borjuis), tapi kok kamu juga masuk blok borjuis ya Pam?.
2006 – Sekarang bersama Leonard dan sepenggal Kemunafikan saya.
Rasanya saya
tak perlu lagi menjelaskan panjang lebar cerita tentang kenangan masam di
Perani ini, saya sangat salut pada Leonard karena beliau termasuk kedalam
kategori ‘BUKAN APR blok BORJUIS’. Baru sekali ini saya bercerita pada Leon
bagaimana kebencian saya pada APR.
Dulu saya merasa sangat agamis karena berada di lingkungan Perani, namun kini hakikatnya diri saya jauh berbeda dengan yang dulu.
Untuk Putri Ketua Alumni Perani Jabar pertama (dengan hormat)….. dulu saya salut sekaligus kagum pada sosok sederhana anda sampai pernah saya mencintai sosok anda sebagai ‘Gadis istimewa yang sederhana’. Semoga sosok anda yang sekarang tidak berubah.
Saya masih ingat nasihat anda di Gedung Wahana Bakti Pos 5 tahun lalu, agar saya tetap mempertahankan kepercayaan diri, tapi kenapa….??? Anda seperti BUTA pada golongan orang-orang biasa seperti saya….??? APAKAH ANDA MERASA NYAMAN DI LINGKUNGAN BLOK BORJUIS….!?
Dulu saya merasa sangat agamis karena berada di lingkungan Perani, namun kini hakikatnya diri saya jauh berbeda dengan yang dulu.
Untuk Putri Ketua Alumni Perani Jabar pertama (dengan hormat)….. dulu saya salut sekaligus kagum pada sosok sederhana anda sampai pernah saya mencintai sosok anda sebagai ‘Gadis istimewa yang sederhana’. Semoga sosok anda yang sekarang tidak berubah.
Saya masih ingat nasihat anda di Gedung Wahana Bakti Pos 5 tahun lalu, agar saya tetap mempertahankan kepercayaan diri, tapi kenapa….??? Anda seperti BUTA pada golongan orang-orang biasa seperti saya….??? APAKAH ANDA MERASA NYAMAN DI LINGKUNGAN BLOK BORJUIS….!?
Ketika saya
berada diambang kebencian, saya sangat berharap agar anda bisa mempersatukan
seluruh golongan, namun sangat disayangkan….. orang yang dipercaya bukanlah
‘anda’.
Kini saya tidak tahu lagi kabar Perani, hanya ada rasa keBENCIan ketika saya ingat nama APR, tapi saya sadari saya munafik karena :
Kini saya tidak tahu lagi kabar Perani, hanya ada rasa keBENCIan ketika saya ingat nama APR, tapi saya sadari saya munafik karena :
SAYA MERINDUKAN
KEHIDUPAN SEDERHANA DI APR TERDAHULU. Rasa yang sama ketika Alumni Teens bisa
dihitung jari (Saya, Pampam, Anda, Shinta….)
Saya merindukan senyuman lima sentimeter kiri kanan.
Saya merindukan pelukan doa dari berbagai Alumni.
Saya merindukan teriakan semangat para ATS.
TAPI saya trauma dan paranoid dengan sikap kesombongan blok borjuis.
Untuk Putri Ketua Alumni Jabar pertama dan Ketua APR Pertama yang dulu pernah saya benci “MAAFKAN SAYA YANG SOK INI.” Saya dulu teramat mencintai lingkungan ini, sampai akhirnya teramat benci pada lingkungan ini. Saya berharap jangan ada lagi orang yang teramat membenci APR seperti saya.
.Ya Allah….. lindungi hamba dari sikap kesombongan dan ampuni orang-orang yang memasukan unsur borjuis di lingkungan para Alumni.
.Regards Yongki Yessa.
Saya merindukan senyuman lima sentimeter kiri kanan.
Saya merindukan pelukan doa dari berbagai Alumni.
Saya merindukan teriakan semangat para ATS.
TAPI saya trauma dan paranoid dengan sikap kesombongan blok borjuis.
Untuk Putri Ketua Alumni Jabar pertama dan Ketua APR Pertama yang dulu pernah saya benci “MAAFKAN SAYA YANG SOK INI.” Saya dulu teramat mencintai lingkungan ini, sampai akhirnya teramat benci pada lingkungan ini. Saya berharap jangan ada lagi orang yang teramat membenci APR seperti saya.
.Ya Allah….. lindungi hamba dari sikap kesombongan dan ampuni orang-orang yang memasukan unsur borjuis di lingkungan para Alumni.
.Regards Yongki Yessa.
Label:
confession,
emotional composition,
social dilema
|
0
komentar
Langganan:
Komentar (Atom)




