Twitter Blogger :

Diberdayakan oleh Blogger.

Who's the blogger?

Foto saya
Truth is about discovery and fun adventure.
Minggu, 16 Juni 2013
Kala saya masuk ke gerbang kampus, secara insiatif saya mengangkat hormat kepada Satuan Pengaman menggunakan tangan kiri (tangan kanan memegang setir sepeda motor) hehehe...

Ketika saya turun dari motor, saya kerap tak sengaja bertemu beberapa petugas ruangan yang berwajah letih, namun saya tak ragu untuk menyapa senyum (kalau bisa saya jabat tangannya dan sedikit bergurau). Setelah itu saya melangkah menuju ruangan perawatan komputer di lantai dasar gedung B, beberapa Insinyur Komputer dan Informatika sedang sibuk merawat komputer dan memastikan para mahasiswa bisa nyaman memakai fasilias komputer sebagai sarana pembelajaran.

Sebelum kita lanjut, mari kita doakan dan mengucap terima kasih pada Satpam, Perawat Kebersihan Kampus dan Teknisi Perawat Komputer sebagai orang-orang yang berandil besar bagi kenyamanan dan keamanan kita di kampus, kalau ada penghargaan pengabdian dari Universitas, saya rasa tiga golongan ini sangat berhak menerimanya.

Setelah dari parkiran, saya melangkah ke basement gedung B atau kerap disebut Food Court, disana rumah saya di sudut kampus. Biasanya di suatu meja dalam beberapa langkah jauh sebelum ke pintu studio, saya bertemu sejawat dari Fakultas Desain Komunikasi Visual seperti Udenk, Gilang, Peking, Jabal, Ayodia, Gania, Fika, Ghusan Ari, Ogink, Muthiq, Adnan, Kamal, Indra, Ridho, Galih, Welli, Andi, Reksi dll.

Setelah agak dekat, saya bertemu para sejawat yang stay dekat ayunan, atau dikenal dengan Jangkrik Boss FC seperti Argo, Mukhlis, Ibonk, Adhi, Galih, Tiko, Budhi, Yudhis, Guntur, Batam, Farid, Putri, Siti, Rani dll. Setelah saya dekat dengan pintu UtamaTV, tentu saja saya bertemu keluarga ketiga saya dari Fakultas Bahasa yang notabene juga crew UtamaTV. Itu baru lingkungan yang sangat dekat dengan rumah di sudut kampus atau fc.

Saya tidak bermaksud ria dalam mengumbar sepak terjang saya yang lebih banyak dicap penggurau yang gila di kampus daripada bintang mahasiswa. Saya sadar, saya bukan termasuk golongan mahasiswa dengan IPK dewa, bukan mahasiswa berparas tampan, bukan mahasiswa yang digilai banyak sekali mahasiswi, tidak handal membuat humor basah, bukan preman kampus yang senang andil dengan keramaian.

Saya hanya punya senyuman, senang bercengkrama, sikap yang terkadang irasional dan menjunjung etika pria. Alhamdullilah hal-hal tsb adalah berkah dari Allah SWT yang dititipkan pada saya, realitanya rata-rata orang berpengaruh di sudut kampus hafal wajah atau nama saya.

Oke mari kita masuk intisari yang mendasari pengalaman saya diatas :

Pernah satu waktu teman saya dari suatu jurusan, meminta saya agar mengenalkannya pada mahasiswa jurusan Bahasa Inggris untuk menerjemahkan paper berbahasa Inggris, saya langsung terheran, mengapa yang satu gedung tidak saling mengenal? Padahal fakultas mereka satu gedung. Okeh, silahkan anda jawab tidak ada gunanya. Tapi lihat lagi apa keperluan pihak pertama.

Fenomena kedua. Pernah saya mengikuti suatu kepanitiaan kampus, ada seorang mahasiswa divisi A, dan mahasiswa divisi B jurusan desain, yang siap menanti perintah yang berhubungan dengan Seni Grafis, namun apa yang terjadi?

Pihak A membuat kaus team panitia yang terdapat ketidak-sesuai-an kaidah grafis, atau singkatnya berlebihan untuk kesan keren, bahkan lambang vector konyol yang menurut hemat saya tidak perlu, saya sempat geram dan setuju bila ada perkelahian dalam panitia.

Saya simpulkan, pihak pertama meng-anggap dia lebih dekat dengan staff inti dan dekat dengan pihak besar yang menaungi panitia kami, maka bebas berkreasi tanpa menghormati pihak yang seharusnya bekerja di bidangnya. Bahkan tidak bekerja sama atau berkonsultasi. Karena apa? Dasarnya karena tidak ada silaturahmi dan koordinasi jaringan yang baik.

Jaringan pertemanan yang terbatas hanya pada lingkungan yang nyaman bagi individu, secara permisif saya sebut CUPU, paradigma selama ini kita mengenal bahwa culun punya hanya diartikan sebagai orang yang aneh serta menjadi bulan-bulanan orang-orang merasa gaul dan merasa punya aliansi solid mengaku gaul. Dinamika hidup mengajari saya pribadi bahwa, esensi CUPU diartikan sebagai orang yang membatas diri terhadap pergaulannya dan nyaman dengan pergaulan yang ada.

Sepertinya tidak ada kendala eksternal apabila elemen-elemen kampus mulai menanamkan mindset bahwa semua satu negara adalah satu saudara yang tidak ragu untuk berkenalan berjabat tangan dan membuat aliansi satu sama lain. Dewasa saat ini berbagai cara untuk mempererat silaturahmi dan kerja-sama, kita rasa bukanlah persoalan baru. 

Justru saya sering prihatin atau seringkali ingin tertawa, bila ada seseorang yang hanya berani berkata lantang di kandang, atau seringkali kita sebut dengan katak dalam tempurung.

0 komentar: