Twitter Blogger :
Blog Archive
-
▼
2013
(8)
-
▼
Juni
(7)
- Realita Liar, Part VI - Krisis Etika Sikap Mahasiswa
- Realita Liar, Part V - Budaya Jaringan dan hakikat...
- Realita Liar, Part IV - Aspirasi kepada Yth Pengajar
- Realita Liar, Part III - Komunitas Hobi
- Realita Liar, Part II - Sumber Daya Asmara
- Realita Liar, Part I - TV Komunitas
- Realita Liar, untuk pengembangan Kampus (Intro)
-
▼
Juni
(7)
Diberdayakan oleh Blogger.
Blog saya yang lain
Who's the blogger?
Minggu, 16 Juni 2013
Kala saya masuk ke gerbang kampus, secara
insiatif saya mengangkat hormat kepada Satuan Pengaman menggunakan tangan kiri
(tangan kanan memegang setir sepeda motor) hehehe...
Ketika saya turun dari motor, saya kerap tak
sengaja bertemu beberapa petugas ruangan yang berwajah letih, namun saya tak
ragu untuk menyapa senyum (kalau bisa saya jabat tangannya dan sedikit bergurau).
Setelah itu saya melangkah menuju ruangan perawatan komputer di lantai dasar
gedung B, beberapa Insinyur Komputer dan Informatika sedang sibuk merawat
komputer dan memastikan para mahasiswa bisa nyaman memakai fasilias komputer
sebagai sarana pembelajaran.
Sebelum kita lanjut, mari kita doakan dan
mengucap terima kasih pada Satpam, Perawat Kebersihan Kampus dan Teknisi
Perawat Komputer sebagai orang-orang yang berandil besar bagi kenyamanan dan
keamanan kita di kampus, kalau ada penghargaan pengabdian dari Universitas,
saya rasa tiga golongan ini sangat berhak menerimanya.
Setelah dari parkiran, saya melangkah ke
basement gedung B atau kerap disebut Food Court, disana rumah saya di sudut kampus.
Biasanya di suatu meja dalam beberapa langkah jauh sebelum ke pintu studio,
saya bertemu sejawat dari Fakultas Desain Komunikasi Visual seperti Udenk,
Gilang, Peking, Jabal, Ayodia, Gania, Fika, Ghusan Ari, Ogink, Muthiq, Adnan, Kamal,
Indra, Ridho, Galih, Welli, Andi, Reksi dll.
Setelah agak dekat, saya bertemu para sejawat
yang stay dekat ayunan, atau dikenal dengan Jangkrik Boss FC seperti Argo,
Mukhlis, Ibonk, Adhi, Galih, Tiko, Budhi, Yudhis, Guntur, Batam, Farid, Putri,
Siti, Rani dll. Setelah saya dekat dengan pintu UtamaTV, tentu saja saya
bertemu keluarga ketiga saya dari Fakultas Bahasa yang notabene juga crew
UtamaTV. Itu baru lingkungan yang sangat dekat dengan rumah di sudut
kampus atau fc.
Saya tidak bermaksud ria dalam mengumbar
sepak terjang saya yang lebih banyak dicap penggurau
yang gila di kampus daripada bintang mahasiswa. Saya sadar, saya bukan
termasuk golongan mahasiswa dengan IPK dewa, bukan mahasiswa berparas tampan, bukan
mahasiswa yang digilai banyak sekali mahasiswi, tidak handal membuat humor
basah, bukan preman kampus yang senang andil dengan keramaian.
Saya
hanya punya senyuman, senang bercengkrama, sikap yang terkadang irasional dan
menjunjung etika pria. Alhamdullilah hal-hal tsb
adalah berkah dari Allah SWT yang dititipkan pada saya, realitanya rata-rata orang
berpengaruh di sudut kampus hafal wajah atau nama saya.
Oke mari kita masuk intisari yang mendasari pengalaman saya diatas :
Pernah satu waktu teman saya dari suatu jurusan,
meminta saya agar mengenalkannya pada mahasiswa jurusan Bahasa Inggris untuk
menerjemahkan paper berbahasa Inggris, saya langsung terheran, mengapa yang
satu gedung tidak saling mengenal? Padahal fakultas mereka satu gedung. Okeh,
silahkan anda jawab tidak ada gunanya. Tapi lihat lagi apa keperluan pihak
pertama.
Fenomena kedua. Pernah saya mengikuti suatu kepanitiaan
kampus, ada seorang mahasiswa divisi A, dan mahasiswa divisi B jurusan desain,
yang siap menanti perintah yang berhubungan dengan Seni Grafis, namun apa yang
terjadi?
Pihak A membuat kaus team panitia yang
terdapat ketidak-sesuai-an kaidah grafis, atau singkatnya berlebihan untuk
kesan keren, bahkan lambang vector konyol yang menurut hemat saya tidak perlu,
saya sempat geram dan setuju bila ada perkelahian dalam panitia.
Saya simpulkan, pihak pertama meng-anggap dia
lebih dekat dengan staff inti dan dekat dengan pihak besar yang menaungi
panitia kami, maka bebas berkreasi tanpa menghormati pihak yang seharusnya
bekerja di bidangnya. Bahkan tidak bekerja sama atau berkonsultasi. Karena apa?
Dasarnya karena tidak ada silaturahmi dan koordinasi jaringan yang baik.
Jaringan pertemanan yang terbatas hanya pada
lingkungan yang nyaman bagi individu, secara permisif saya sebut CUPU, paradigma selama ini kita mengenal
bahwa culun punya hanya diartikan sebagai orang yang aneh serta menjadi
bulan-bulanan orang-orang merasa gaul dan merasa punya aliansi solid mengaku
gaul. Dinamika hidup mengajari saya pribadi bahwa, esensi CUPU diartikan
sebagai orang yang membatas diri terhadap pergaulannya dan nyaman dengan
pergaulan yang ada.
Sepertinya tidak ada kendala eksternal
apabila elemen-elemen kampus mulai menanamkan mindset bahwa semua satu negara
adalah satu saudara yang tidak ragu untuk berkenalan berjabat tangan dan
membuat aliansi satu sama lain. Dewasa saat ini berbagai cara untuk mempererat
silaturahmi dan kerja-sama, kita
rasa bukanlah persoalan baru.
Justru saya sering
prihatin atau seringkali ingin tertawa, bila ada seseorang yang hanya berani berkata
lantang di kandang, atau seringkali kita sebut dengan katak dalam tempurung.
Label:
college,
emotional composition,
social dilema
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar