Twitter Blogger :

Diberdayakan oleh Blogger.

Who's the blogger?

Foto saya
Truth is about discovery and fun adventure.
Minggu, 16 Juni 2013
Saya pernah mengikuti mata kuliah Pajak yang didosen oleh DR. H. Oyok Abunyamin, S.H., M.Si. pada saat pertemuan pertama, beliau menyampaikan pentingnya pendidikan bagi kelangsungan daya negeri ini baik individu/kelompok. Selain Keluarga, Ide dan Kepercayaan, Ilmu adalah harta yang mahal di dunia ini.

Mari kaji satu hal yang disampaikan Pak Oyok, Ilmu. Ilmu mungkin bisa didapatkan dimana saja, bahkan otodidak memahami pentingnya Ilmu formal. Disana ada Sistem efisien yang lazim disebut Pendidikan. Korelasi-nya dengan Negara Bisnis Cikutra adalah merujuk pada pelaku pertama yang menjadi tombak dalam misi lembaga pendidikan, sebagai pembuka jalan menuju kecintaan pada ilmu, yaitu DOSEN.

Saya memahami resiko terburuk (seperti Drop Out, nilai saya dilucuti, di anak-tiri-kan dll) karena membuat tulisan ini secara kritis, bahkan cenderung mengungkap sisi arogansi profesi Dosen. Serta akan sangat wajar apabila ada Dosen yang menggugat saya dan saya siap bertanggung jawab menghadapi anda.

Mari kita kaji beberapa objeknya, adalah salah satu mata kuliah saya di semester Ganjil tahun 2013 (kebetulan mata kuliah yang ingin saya spesialisasi-kan), penilaian secara objektif merupakan Dosen senior yang memiliki reputasi skala internasional bahkan penelitian beliau bukan hal yang main-main, mungkin masih ada Dosen lainnya yang saya cap menyebalkan dari sisi gaya komunikasinya, namun beliau yang satu ini kerap menjatuhkan mental para mahasiswa secara alami dengan beberapa cara, yakni pembawaan masam ketika selama jam belajar, mengkritik dengan melimpahkan kesalahan adalah milik mahasiswa dll.

Bolehlah kalau misalnya ada pendapat mengatakan, Kesalahan dibuat oleh Mahasiswa dan Kebenaran berasal dari Dosen, apakah ini yang namanya mendidik? Apa itu pendidikan bagi Dosen? Apakah pendidikan itu membina, mentari bagi rabunnya karakter seorang Mahasiswa? Apa hakikat pendidikan di negeri ini? Merangsang orang untuk maju atau menekan mental agar menimbulkan rasa sentimentil dan rasa acuh pada ilmu yang diberikan?

Apa jadinya bila dua pihak tersebut keluar dari geografis pendidikan? Yang ada minimal serapah, seletingan, bahkan lebih buruk lagi? karma kepada pihak pertama, hal itu yang menjadi kekhawatiran saya sebagai manusia biasa, tentu saja saya selalu berusaha menghindari amarah serapah yang keluar dari dendam,saya tak mau sampai Ujung tombak di dunia pendidikan ini merasakan hal yang pahit di kemudian hari.

Ketika hal ini terjadi di sekolahan, sebagian besar anak murid yang cuek minimal bisa bolos sekolah dan mengandalkan kebijakan sekolah agar lulus/naik kelas, atau bagi pelajar yang peduli, bisa mengadukannya kepada Guru Bimbingan Konseling.

Nah! Di lingkungan perguruan tinggi? Dimana kita bisa mengadu? Kalaupun ada, dimana informasi kita bisa mengaspirasikannya? Saya sendiri jujur angkat-tangan bagi contoh objek ini, saya khawatir dengan hengkangnya beliau dapat mengancam akreditasi kampus. Bila kita balikan lagi pertanyaannya, sumber daya apa yang menaikan akreditas kampus? Tentu karya mahasiswanya sendiri. Siapa yang berperan dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Mahasiswa? Pacar? Teman Nongkrong? Jangan konyol! Jawabannya adalah Pengajar alias Dosen yang berperan sebagai etalase bagi kecintaan pada keilmuan.
 
Ada satu hikmah kecil bagi saya, suatu saat kala saya cukup kenyang menikmati Ilmu, Karir dan Menafkahi Anak-Istri. Saya akan mengambil karir sampingan menjadi Dosen. Saya ingin mengajar mata kuliah Metode Kuantitatif, Oh! Bagaimana kalau Metode Penelitian Manajemen Pemasaran? Filsafat? atau Rekayasa Fisika? Sistem Mekanika? (kalau saya jadi kuliah lagi di jurusan Teknik, Amin Ya Allah! Aminkan kawan-kawan!!) hehehe.... #serius

0 komentar: