Twitter Blogger :

Diberdayakan oleh Blogger.

Who's the blogger?

Foto saya
Truth is about discovery and fun adventure.
Minggu, 16 Juni 2013
Bagi angkatan 2010 dan sebelumnya. Tentunya kita mesti ingat dengan sederet pengalaman seru ketika memasuki masa orientasi dan pengenalan kampus atau lazim dengan sebutan acara ospek. Seiring dengan perkembangan zaman serta citra lembaga pendidikan, tujuan awal dari ospek seringkali dilupakan yakni memperkenalkan norma dan kehidupan yang lebih serius daripada masa di SMA.

Salah satu Implikasi-nya dibuktikan, oleh satu Divisi yang melatih mental dan adab di kampus, namun tidak menghilangkan esensi memberikan sistem kedewasaan dini bagi para mahasiswa baru. Divisi ini bisa terbilang adalah Divisi yang paling bergengsi bagi sebagian mahasiswa, dari penampilan dan lagaknya saja sudah membuat berbagai mahasiswa yang tidak ikut serta dalam kepanitiaan iri untuk ikut terlibat.

Entah apa yang terjadi dengan budaya atau acara ini, semakin tahun dari tahun angkatan saya masuk kuliah, tradisi semakin buram dan puncaknya pada tahun 2012, benar-benar tidak ada kegiatan acara ospek yang diisi dengan acara pengenalan kampus, acara permainan karakter mahasiswa sampai tidak ada, acara pengenalan dari tahun 2012 ini hanya diisi dengan duduk mendengarkan ceramah para petinggi kampus dari kalangan Dosen.

Revolusi ini mungkin terdengar sepele bagi perspektif pejabat tinggi, dikarenakan seletingan dan pengaduan dari beberapa pihak, entah apalagi. Padahal ospek adalah rangakaian penting yang membuat mahasiswa/i baru sadar dengan efektif akan etika kebebasan dalam berperilaku pada lingkungan sekitar, tentunya dengan asumsi bahwa para pelaku dalam kepanitiaan ospek adalah orang-orang terpilih dengan tanggung jawab, dedikasi, rasa cinta dan komitmen kuat dalam menjalaninya.

Bila dirasa revolusi penghapusan ospek adalah cara tepat dalam bertata krama menyambut para mahasiswa/i baru. Para maba/miba lambat laun akan segera merasakan dampak buruk dari pengenalan etika bersikap, contohnya di kelas General English saya kemarin, walau Dosennya sangat ramah, namun tak sedikit mahasiswa yang masuk ketika perkuliahan segera selesai. Entah di kelas lain, namun di kelas ini saya berani memberi kesaksian dengan mengundang beberapa teman sekelas yang bisa saya percayai.
Kala saya masuk ke gerbang kampus, secara insiatif saya mengangkat hormat kepada Satuan Pengaman menggunakan tangan kiri (tangan kanan memegang setir sepeda motor) hehehe...

Ketika saya turun dari motor, saya kerap tak sengaja bertemu beberapa petugas ruangan yang berwajah letih, namun saya tak ragu untuk menyapa senyum (kalau bisa saya jabat tangannya dan sedikit bergurau). Setelah itu saya melangkah menuju ruangan perawatan komputer di lantai dasar gedung B, beberapa Insinyur Komputer dan Informatika sedang sibuk merawat komputer dan memastikan para mahasiswa bisa nyaman memakai fasilias komputer sebagai sarana pembelajaran.

Sebelum kita lanjut, mari kita doakan dan mengucap terima kasih pada Satpam, Perawat Kebersihan Kampus dan Teknisi Perawat Komputer sebagai orang-orang yang berandil besar bagi kenyamanan dan keamanan kita di kampus, kalau ada penghargaan pengabdian dari Universitas, saya rasa tiga golongan ini sangat berhak menerimanya.

Setelah dari parkiran, saya melangkah ke basement gedung B atau kerap disebut Food Court, disana rumah saya di sudut kampus. Biasanya di suatu meja dalam beberapa langkah jauh sebelum ke pintu studio, saya bertemu sejawat dari Fakultas Desain Komunikasi Visual seperti Udenk, Gilang, Peking, Jabal, Ayodia, Gania, Fika, Ghusan Ari, Ogink, Muthiq, Adnan, Kamal, Indra, Ridho, Galih, Welli, Andi, Reksi dll.

Setelah agak dekat, saya bertemu para sejawat yang stay dekat ayunan, atau dikenal dengan Jangkrik Boss FC seperti Argo, Mukhlis, Ibonk, Adhi, Galih, Tiko, Budhi, Yudhis, Guntur, Batam, Farid, Putri, Siti, Rani dll. Setelah saya dekat dengan pintu UtamaTV, tentu saja saya bertemu keluarga ketiga saya dari Fakultas Bahasa yang notabene juga crew UtamaTV. Itu baru lingkungan yang sangat dekat dengan rumah di sudut kampus atau fc.

Saya tidak bermaksud ria dalam mengumbar sepak terjang saya yang lebih banyak dicap penggurau yang gila di kampus daripada bintang mahasiswa. Saya sadar, saya bukan termasuk golongan mahasiswa dengan IPK dewa, bukan mahasiswa berparas tampan, bukan mahasiswa yang digilai banyak sekali mahasiswi, tidak handal membuat humor basah, bukan preman kampus yang senang andil dengan keramaian.

Saya hanya punya senyuman, senang bercengkrama, sikap yang terkadang irasional dan menjunjung etika pria. Alhamdullilah hal-hal tsb adalah berkah dari Allah SWT yang dititipkan pada saya, realitanya rata-rata orang berpengaruh di sudut kampus hafal wajah atau nama saya.

Oke mari kita masuk intisari yang mendasari pengalaman saya diatas :

Pernah satu waktu teman saya dari suatu jurusan, meminta saya agar mengenalkannya pada mahasiswa jurusan Bahasa Inggris untuk menerjemahkan paper berbahasa Inggris, saya langsung terheran, mengapa yang satu gedung tidak saling mengenal? Padahal fakultas mereka satu gedung. Okeh, silahkan anda jawab tidak ada gunanya. Tapi lihat lagi apa keperluan pihak pertama.

Fenomena kedua. Pernah saya mengikuti suatu kepanitiaan kampus, ada seorang mahasiswa divisi A, dan mahasiswa divisi B jurusan desain, yang siap menanti perintah yang berhubungan dengan Seni Grafis, namun apa yang terjadi?

Pihak A membuat kaus team panitia yang terdapat ketidak-sesuai-an kaidah grafis, atau singkatnya berlebihan untuk kesan keren, bahkan lambang vector konyol yang menurut hemat saya tidak perlu, saya sempat geram dan setuju bila ada perkelahian dalam panitia.

Saya simpulkan, pihak pertama meng-anggap dia lebih dekat dengan staff inti dan dekat dengan pihak besar yang menaungi panitia kami, maka bebas berkreasi tanpa menghormati pihak yang seharusnya bekerja di bidangnya. Bahkan tidak bekerja sama atau berkonsultasi. Karena apa? Dasarnya karena tidak ada silaturahmi dan koordinasi jaringan yang baik.

Jaringan pertemanan yang terbatas hanya pada lingkungan yang nyaman bagi individu, secara permisif saya sebut CUPU, paradigma selama ini kita mengenal bahwa culun punya hanya diartikan sebagai orang yang aneh serta menjadi bulan-bulanan orang-orang merasa gaul dan merasa punya aliansi solid mengaku gaul. Dinamika hidup mengajari saya pribadi bahwa, esensi CUPU diartikan sebagai orang yang membatas diri terhadap pergaulannya dan nyaman dengan pergaulan yang ada.

Sepertinya tidak ada kendala eksternal apabila elemen-elemen kampus mulai menanamkan mindset bahwa semua satu negara adalah satu saudara yang tidak ragu untuk berkenalan berjabat tangan dan membuat aliansi satu sama lain. Dewasa saat ini berbagai cara untuk mempererat silaturahmi dan kerja-sama, kita rasa bukanlah persoalan baru. 

Justru saya sering prihatin atau seringkali ingin tertawa, bila ada seseorang yang hanya berani berkata lantang di kandang, atau seringkali kita sebut dengan katak dalam tempurung.
Saya pernah mengikuti mata kuliah Pajak yang didosen oleh DR. H. Oyok Abunyamin, S.H., M.Si. pada saat pertemuan pertama, beliau menyampaikan pentingnya pendidikan bagi kelangsungan daya negeri ini baik individu/kelompok. Selain Keluarga, Ide dan Kepercayaan, Ilmu adalah harta yang mahal di dunia ini.

Mari kaji satu hal yang disampaikan Pak Oyok, Ilmu. Ilmu mungkin bisa didapatkan dimana saja, bahkan otodidak memahami pentingnya Ilmu formal. Disana ada Sistem efisien yang lazim disebut Pendidikan. Korelasi-nya dengan Negara Bisnis Cikutra adalah merujuk pada pelaku pertama yang menjadi tombak dalam misi lembaga pendidikan, sebagai pembuka jalan menuju kecintaan pada ilmu, yaitu DOSEN.

Saya memahami resiko terburuk (seperti Drop Out, nilai saya dilucuti, di anak-tiri-kan dll) karena membuat tulisan ini secara kritis, bahkan cenderung mengungkap sisi arogansi profesi Dosen. Serta akan sangat wajar apabila ada Dosen yang menggugat saya dan saya siap bertanggung jawab menghadapi anda.

Mari kita kaji beberapa objeknya, adalah salah satu mata kuliah saya di semester Ganjil tahun 2013 (kebetulan mata kuliah yang ingin saya spesialisasi-kan), penilaian secara objektif merupakan Dosen senior yang memiliki reputasi skala internasional bahkan penelitian beliau bukan hal yang main-main, mungkin masih ada Dosen lainnya yang saya cap menyebalkan dari sisi gaya komunikasinya, namun beliau yang satu ini kerap menjatuhkan mental para mahasiswa secara alami dengan beberapa cara, yakni pembawaan masam ketika selama jam belajar, mengkritik dengan melimpahkan kesalahan adalah milik mahasiswa dll.

Bolehlah kalau misalnya ada pendapat mengatakan, Kesalahan dibuat oleh Mahasiswa dan Kebenaran berasal dari Dosen, apakah ini yang namanya mendidik? Apa itu pendidikan bagi Dosen? Apakah pendidikan itu membina, mentari bagi rabunnya karakter seorang Mahasiswa? Apa hakikat pendidikan di negeri ini? Merangsang orang untuk maju atau menekan mental agar menimbulkan rasa sentimentil dan rasa acuh pada ilmu yang diberikan?

Apa jadinya bila dua pihak tersebut keluar dari geografis pendidikan? Yang ada minimal serapah, seletingan, bahkan lebih buruk lagi? karma kepada pihak pertama, hal itu yang menjadi kekhawatiran saya sebagai manusia biasa, tentu saja saya selalu berusaha menghindari amarah serapah yang keluar dari dendam,saya tak mau sampai Ujung tombak di dunia pendidikan ini merasakan hal yang pahit di kemudian hari.

Ketika hal ini terjadi di sekolahan, sebagian besar anak murid yang cuek minimal bisa bolos sekolah dan mengandalkan kebijakan sekolah agar lulus/naik kelas, atau bagi pelajar yang peduli, bisa mengadukannya kepada Guru Bimbingan Konseling.

Nah! Di lingkungan perguruan tinggi? Dimana kita bisa mengadu? Kalaupun ada, dimana informasi kita bisa mengaspirasikannya? Saya sendiri jujur angkat-tangan bagi contoh objek ini, saya khawatir dengan hengkangnya beliau dapat mengancam akreditasi kampus. Bila kita balikan lagi pertanyaannya, sumber daya apa yang menaikan akreditas kampus? Tentu karya mahasiswanya sendiri. Siapa yang berperan dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Mahasiswa? Pacar? Teman Nongkrong? Jangan konyol! Jawabannya adalah Pengajar alias Dosen yang berperan sebagai etalase bagi kecintaan pada keilmuan.
 
Ada satu hikmah kecil bagi saya, suatu saat kala saya cukup kenyang menikmati Ilmu, Karir dan Menafkahi Anak-Istri. Saya akan mengambil karir sampingan menjadi Dosen. Saya ingin mengajar mata kuliah Metode Kuantitatif, Oh! Bagaimana kalau Metode Penelitian Manajemen Pemasaran? Filsafat? atau Rekayasa Fisika? Sistem Mekanika? (kalau saya jadi kuliah lagi di jurusan Teknik, Amin Ya Allah! Aminkan kawan-kawan!!) hehehe.... #serius
Seringkali saya mendapati beberapa skateboarder sedang menghabiskan waktu di lapangan basket di depan pustakaloka, para ilustrator jalanan sedang menggambar pada kanvas, dengan gemulai di meja FC atau meja Kopma, baseballer yang berteriak home! Run! di jalan belakang gor badminton. Dan beberapa komunitas positif dan produktif yang saya juga tak sempat menghitung lebih lanjut.

Bahkan ada seorang pemusik yang namanya sudah merambah ke China yang pasti sebagian besar penikmat musik blues terutama di Bandung telah akrab dengan namanya. Untuk clue beliau adalah angkatan 2005, yang dimana jarang ada panitia kampus yang mengundang untuk main di acara kampus. Padahal berdasarkan informasi dari komunitas ruang putih, Kakang angkatan 2005 ini adalah salah satu Generasi pewaris musikalitas Blues-Rock tanah air. Mari kita lihat Kakang kita disini dan beritanya ke macau.

Sepertinya tidak usah saya teruskan panjang lebar tentang hal ini, cukup dipikirkan atau ditindak-lanjuti satu pihak besar yang bisa mengembangkan para komunitas penggiat ini agar lebih baik, atau dibiarkan menjadi harta karun yang bisa saja direbut oleh negara lain.
Emansipasi? Slueh....!! Saya sebenarnya malas membicarakan hal ini, budaya kita mengatakan, bahwa suatu hal melecehkan bila para pria membicarakan kapabilitas kaum ini secara terang-terangan.

Tunggu sebentar! Saya menguraikan hal ini berdasarkan perspektif umum alias objektif, tanpa asa nepotism dan tanpa asumsi status single. Untuk para kaum hawa! Baca sampai selesai dan nalar baik-baik. Tutup saja blog ini bila anda langsung berprasangka, tidak ada gunanya bila anda melanjutkan membaca.

Tapi tenang Nyai-nyai! Kajian ini alamiah jadi motto/slogan tambahan selain 'Friendly Campus for Future Business Pro', yakni tempat cuci mata favorit.

Contohnya bila saya melawat ke negeri tetangga, sebut saja Negara Teknik Ganesha, Negara Ciwaruga, Negara Teknik Suci, Negara Bahasa Cihampelas, Negara Jatinangor dll.

Berikut ilustrasi topik ketika saya memperkenalkan diri dengan warga negara tetangga ;

Tetangga ♂   : Maneh saha bro? #jabat_tangan
Saya ♂           : Yongki, geroan weh Yongkrw (baca : yongkru) lurr...
Tetangga ♂   : Kuliah dimana? #alay_sia
Saya ♂           : Widyatama lurr... apal?
Tetangga ♂   : an**r, diditu awewe-na gareulis euy! #kenalkeun_lah #bagi_pin_bbm_na
Saya ♂           : (‘-___-) #hayang _nu_jiga_kumaha? #marukan_aing_germo

Lucunya, pernah saya mengalami hal ini :
Tetangga ♀   : Namanya siapa? #jabat_tangan
Saya ♂           : Yongki, si ganteng entah!
Tetangga ♀   : Kuliah dimana? #beungeut
Saya ♂           : Ih Kepoo deh...!! xD
Tetangga ♀   : (‘-___-) #kepret
Saya ♂           : STIEB, di Cikutra, tau?
Tetangga ♀   : Oh Widyatama, entar aku ekstensi/S2 mau di sana #nyaan
Saya ♂           : (^___^) #alus_teh_lurr


Saya yakin Ilustrasi tersebut bukan hanya saya yang mengalaminya, ilustrasi tersebut didasar objek-objek berupa mamalia omnivora memiliki otak bervolume 1350 ca, akal, budi pekerti dengan penampakan signifikan, diberkahi kulit pipi manis merona, bibir padat dihiasi lipbalm segar, mata indah dengan tatapan menggoda, wajah yang ditutupi bedak, bokong yang ditutupi jeans ketat bahkan maaf sekitar tengah yang dialas pakaian ketat berwarna mencolok. Jangan selalu salahkan pria jika banyak kasus kriminal jurusan pelecehan seksual di negeri ini.

Saat visual tersebut jelas di depan mata, muncul imaji di otak dan menstimulasi hasrat serta tak jarang syahwat yang didukung oleh konsumsi film perangsang nafsu biologis, hal ini pun berdampak pada reproduksi testosteron bagi sebagian besar pria yang menahan untuk tetap bersikap sopan dan kalem dengan cara mengurung diri kamar mandi sekitar beberapa menit bersama objek yang terbuat dari lemak kambing.

Paragraf barusan hanya ilustrasi panjang lebar, yang saya maksudkan menguji daya nalar anda secara positif agar reproduksi testoteron kaum adam tetap terawat dan tidak terbuang sia-sia. Jelasnya ada hal kecil yang membuat mata dan cara pandang terhadap saudari-saudari di Negara Bisnis Cikutra ketika 2 visual objek terakhir mendukung objek pertama. Paling tidak bagi budaya kita yang timur sotaw tanggung, hal tersebut menimbulkan cemoohan munafik.

Itu manusiawi dan tak jarang saya mengalaminya dalam kurun waktu satu jam di tempat #gubrag. Jika dipikir lagi memang hal tersebut adalah hak individu dan tak lazim disalahkan karena sudah menjadi budaya publik di Indonesia.

Mari kita impikan, kalau ada forecast cerah, kala karakter para pelaku tersebut terasah menjadi karakter Wanita Sebenarnya, walau jujur saya tak tahu bagaimana karakter Wanita Sebenarnya, namun dalam perspektif pribadi. Wanita mungkin terlihat menggoda dan Indah namun ada hal luar biasa selain kecantikannya.

Mari kita bayangkan lagi akan ada citra baru bahwa kampus ini adalah ‘Kampus pencetak Wanita luar biasa’. Bagaimana dengan pria? Relatif hemat saya, pria memiliki peran menjaga sistem, otomatis memacu kualitas diri agar lebih dari wanitanya.

Namun bila ada pertanyaan tentang bagaimana aplikasi yang bisa diterapkan ke dalam sistem? Pemerintahan Mahasiswa bisa giat mengadakan seminar tentang kampanye ‘inner talent’ (contoh kasar, bagi wanita). Para pria fokus kepada pengembangan karakter pribadi dan karya kerja (contoh bagi pria). Hindari terlalu banyak berbasa-basi yang membuat wanita tidak nyaman dengan tingkah mupeng. Hal itu juga mempengaruhi paradigma sebagian besar wanita.

Apakah hal yang buruk? Terserah budaya/sistem yang ada dan kuantitas pengaruh pada setiap individu hawa, namun jangan sekali-kali sistem disalah-gunakan karena kodrat kita (pria) adalah membuat wanita menjadi istimewa.

Kembali lagi ke topik, sistem pendidikan disini bisa dibilang fleksibel, bahkan bila pengembangan di bidang lain, terutama di bidang sumber daya individu, sistem yang ada belum terlalu siginifikan bila kita terfokus pada bidang pengembangan karakter Para Hawa. Maka dari itu, hal ini bisa menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintahan Negara Bisnis Cikutra sekaligus mengembangkan sumber daya yg sering ditanyakan warga negara tetangga dan menjadikan brand tambahan bagi Negara Bisnis Cikutra.