Twitter Blogger :
Diberdayakan oleh Blogger.
Blog saya yang lain
Who's the blogger?
Kamis, 01 Desember 2011
Needy = virus yang memabukan pikiran, menggerogoti intuisi, menghapus perlahan jiwa seorang pria sebenarnya/idaman.
1-12-2011 pukul empat dini hari dengan posisi duduk di depan laptop, ditemani secangkir kopi, sebatang rokok mild dan gema shalawat sebelum adzan shubuh berkumandang, seakan tak henti adzan mengingatkan saya tentang kebesaranNya.
Dua jam sebelumnya saya masih berada di atas kasur dengan posisi berbaring untuk istirahat, mendengarkan deras hujan dan dilindungi selimut tebal. Masih terlintas di pikiran tentang objek dan subjek yang akan saya informasikan pada anda.
Perlu anda ingat bahwa saya men-tag orang-orang pilihan yang tau kata ‘needy’, saya tak bermaksud untuk menggurui, memberi saran atau memberi arahan. Ini hanya curhatan saya tentang buruknya mood saya ketika rasa needy menjerat .
Apabila anda menyangka ini hanya gurauan/anekdot konyol atau anda mengkomen dengan cercaan, hinaan dan candaan bocah sd, lekas tinggalkan catatan saya ini. Karena anda hanya membuang waktu.
Sesudah lewat tanggal delapan oktober dua ribu sebelas, saya mendapat ilmu baru, rekan-rekan seperjuangan baru dan fikiran baru. Dunia serasa menatap saya dan sangat sayang apabila saya melewatkannya secara sia-sia.
Satu per satu gadis yang saya temui saya jadikan putri raja di negeri dongeng, tak pelak juga saya lebih menghargai segala yang saya punya termasuk tingkah laku saya yang masih ‘Rock n Roll’. Lima kalimat yang selalu saya ingat dan jadikan prinsip (saya rasa anda sudah mengetahui lima prinsip tersebut).
Sebenarnya di kampus saya ada satu gadis tak lajang yang memenuhi kriteria, namun perjuangan lelaki pendampingnya patut saya hargai sampai kini. Akhirnya awal november saya menemukan gadis yang bisa menjadi tempat berlabuhnya masa audisi saya.
Adalah Fera (saya sengaja menyamarkan namanya), Mahasiswi angkatan 2011 di kampus saya, rambutnya hitam lurus dan kulitnya indah. Bisa dibilang dia tipikal gadis yang cocok untuk saya, tampilan sopan dan tingkah laku sederhananya membuat fikiran tak bosan untuk mengingat senyumnya.
Karena saya ingin mencintai semua wanita, maka Fera saya putuskan menjadi wanita kedua yang saya spesialkan (yang pertama tentu Ibunda saya sendiri), semenjak hari itu tulisan yang saya buat dan nyanyian blues yang saya dendangkan tak lepas dari sosoknya yang anggun.
Bila bertemu saya menjaga sosok dan wibawa sebagai kakak angkatan, tapi saya tak tau hingga kapan saya harus bersikap sebagai ‘kakak angkatan’, saya ingin menghubunginya secara pribadi namun saya takut disangka terburu-buru, saya ingin meneleponnya namun sebelumnya saya sudah gugup, saya ingin mengobrol empat mata namun saya takut terkesan butuh.
Dua hari dalam seminggu, dua jam dalam dua hari adalah momen untuk bertatap muka padanya, saya sendiri sering bingung kapan waktu yang tepat untuk ngobrol secara intim. Rayuan/flirting singkatlah menjadi senjata andalan menuju medan penjelajahan naluri. Benar saja kata syair dangdut zaman dulu ‘makan tak enak, tidur tak nyenyak’, saya mengalami hal yang serupa dengan syair lagu tersebut.
Setiap hari kami tak sengaja tatap muka untuk sejenak. Tak terasa sudah tiga minggu Fera mengendap di pikiran, saya semakin tak waras mengontrol diri agar bertanggung jawab sebagai seorang lelaki. Saya merasakan bahwa intuisi sebagai seorang PW lenyap entah kemana, semula saya menyangka bahwa ilmu saya sudah menjadi natural/insting.
Berhubung saya punya insomnia parah, malam sabtu (26-11-2011) saya benar-benar tak bisa memejamkan mata karena saya masih berpikir :
kapan saya bisa ngobrol intim dengannya?
kapan saya buat dia berkeluh kesah tentang hari-harinya?
kapan dia mengeluh kepada saya tentang mata kuliahnya?
kapan dia meminta saya untuk memeluknya?
kapan dia menghubungi saya dan berkata “akang lagi ngapain”…?
kapan bisa saya kecup keningnya ketika saya mengantarkan dia pulang?
Ahhhhhh F**king shitttt!!! Saya pejamkan mata saya dalam-dalam dan mencoba menjawab pertanyaan tersebut di pikiran saya.
Setelah lama saya bertanya hanya ada satu jawaban muncul di benak saya! KAMU NEEDY…. terucap kembali kalimat tersebut di fikiran saya KAMU NEEDY… KAMU DIKUASAI ILUSIMU SENDIRI TANPA TINDAKAN…. satu kata yang merusak pikiran saya KAMU NEEDY, hanya ada FERA,FERA DAN FERA.
Saya pukul keras-keras tembok kamar berkali-kali hingga keluar peluh kekecewaan. Tapi tetap saja saya harus mengakui bahwa saya NEEDY.
Saya duduk termenung sejenak, ‘apa yang sudah saya lakukan?’ Kenapa saya tak mau gagal, biasanya tak ada wanita yang menolak untuk berbincang intim dengan saya! kenapa saya yakin bahwa gadis belia ini akan menolak berbincang intim dengan saya?.
Ternyata saya sadar bahwa saya sudah terjebak dengan ilusi saya sendiri dan KURANG ACTION, walau sudah berkali-kali saya tekankan pada diri saya tentang lima prinsip, tetap saja PERASAAN NEEDY itu ada.
Keesokan sorenya baru saya ajak fera berbicara empat mata. Dalam durasi lima menit di basement Gedung B Universitas Widyatama saya sampaikan perasaan saya dan tentunya saya sudah siap dengan segala resiko.
Saya : Fera, Akang suka sama kamu.
Fera : oh…. ya udah kang gak apa-apa! suka ama orang lain kan biasa.
Saya : ngeceng atau suka itu emang hobi manusia biasa, apalagi yang jomblo kayak akang. Tapi bayang-bayang wajah kamu udah bikin hari-hari sama kerjaan akang keganggu
Fera : ……
Dia yang saat itu memakai baju cream tersipu malu seperti anak tk yang diiming-imingi boneka hello kitty.
Semenjak saat itu hingga kini saya masih berusaha menghapus bayang-bayangnya di pikiran saya dengan satu alasan klasik ; MASIH TERLALU BANYAK IKAN DI LAUT.
Saat ini saya tak tahu apakah kemampuan saya sebagai PW masih ada atau tidak, saya merasa needy telah menjadi penyakit yang menggerogoti insting saya sehingga saya harus membuka kembali modul,artikel dan materi.
Saya ambil hikmah berharga dari kejadian saya ini, sebelum kita menaruh perasaan kita harus mengambil perasaan target terlebih dahulu dan NEEDY itu nyaris sama dengan perasaan munafik ‘lain di mulut, lain di hati’. Kita mudah berucap ‘saya tidak needy’ tapi kalau hati sudah dalam mendambakannya, gejala needy menjadi jelas.
Semoga rekan-rekan pembaca semua bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari pengalaman/kegagalan saya ini.
1-12-2011 pukul empat dini hari dengan posisi duduk di depan laptop, ditemani secangkir kopi, sebatang rokok mild dan gema shalawat sebelum adzan shubuh berkumandang, seakan tak henti adzan mengingatkan saya tentang kebesaranNya.
Dua jam sebelumnya saya masih berada di atas kasur dengan posisi berbaring untuk istirahat, mendengarkan deras hujan dan dilindungi selimut tebal. Masih terlintas di pikiran tentang objek dan subjek yang akan saya informasikan pada anda.
Perlu anda ingat bahwa saya men-tag orang-orang pilihan yang tau kata ‘needy’, saya tak bermaksud untuk menggurui, memberi saran atau memberi arahan. Ini hanya curhatan saya tentang buruknya mood saya ketika rasa needy menjerat .
Apabila anda menyangka ini hanya gurauan/anekdot konyol atau anda mengkomen dengan cercaan, hinaan dan candaan bocah sd, lekas tinggalkan catatan saya ini. Karena anda hanya membuang waktu.
Sesudah lewat tanggal delapan oktober dua ribu sebelas, saya mendapat ilmu baru, rekan-rekan seperjuangan baru dan fikiran baru. Dunia serasa menatap saya dan sangat sayang apabila saya melewatkannya secara sia-sia.
Satu per satu gadis yang saya temui saya jadikan putri raja di negeri dongeng, tak pelak juga saya lebih menghargai segala yang saya punya termasuk tingkah laku saya yang masih ‘Rock n Roll’. Lima kalimat yang selalu saya ingat dan jadikan prinsip (saya rasa anda sudah mengetahui lima prinsip tersebut).
Sebenarnya di kampus saya ada satu gadis tak lajang yang memenuhi kriteria, namun perjuangan lelaki pendampingnya patut saya hargai sampai kini. Akhirnya awal november saya menemukan gadis yang bisa menjadi tempat berlabuhnya masa audisi saya.
Adalah Fera (saya sengaja menyamarkan namanya), Mahasiswi angkatan 2011 di kampus saya, rambutnya hitam lurus dan kulitnya indah. Bisa dibilang dia tipikal gadis yang cocok untuk saya, tampilan sopan dan tingkah laku sederhananya membuat fikiran tak bosan untuk mengingat senyumnya.
Karena saya ingin mencintai semua wanita, maka Fera saya putuskan menjadi wanita kedua yang saya spesialkan (yang pertama tentu Ibunda saya sendiri), semenjak hari itu tulisan yang saya buat dan nyanyian blues yang saya dendangkan tak lepas dari sosoknya yang anggun.
Bila bertemu saya menjaga sosok dan wibawa sebagai kakak angkatan, tapi saya tak tau hingga kapan saya harus bersikap sebagai ‘kakak angkatan’, saya ingin menghubunginya secara pribadi namun saya takut disangka terburu-buru, saya ingin meneleponnya namun sebelumnya saya sudah gugup, saya ingin mengobrol empat mata namun saya takut terkesan butuh.
Dua hari dalam seminggu, dua jam dalam dua hari adalah momen untuk bertatap muka padanya, saya sendiri sering bingung kapan waktu yang tepat untuk ngobrol secara intim. Rayuan/flirting singkatlah menjadi senjata andalan menuju medan penjelajahan naluri. Benar saja kata syair dangdut zaman dulu ‘makan tak enak, tidur tak nyenyak’, saya mengalami hal yang serupa dengan syair lagu tersebut.
Setiap hari kami tak sengaja tatap muka untuk sejenak. Tak terasa sudah tiga minggu Fera mengendap di pikiran, saya semakin tak waras mengontrol diri agar bertanggung jawab sebagai seorang lelaki. Saya merasakan bahwa intuisi sebagai seorang PW lenyap entah kemana, semula saya menyangka bahwa ilmu saya sudah menjadi natural/insting.
Berhubung saya punya insomnia parah, malam sabtu (26-11-2011) saya benar-benar tak bisa memejamkan mata karena saya masih berpikir :
kapan saya bisa ngobrol intim dengannya?
kapan saya buat dia berkeluh kesah tentang hari-harinya?
kapan dia mengeluh kepada saya tentang mata kuliahnya?
kapan dia meminta saya untuk memeluknya?
kapan dia menghubungi saya dan berkata “akang lagi ngapain”…?
kapan bisa saya kecup keningnya ketika saya mengantarkan dia pulang?
Ahhhhhh F**king shitttt!!! Saya pejamkan mata saya dalam-dalam dan mencoba menjawab pertanyaan tersebut di pikiran saya.
Setelah lama saya bertanya hanya ada satu jawaban muncul di benak saya! KAMU NEEDY…. terucap kembali kalimat tersebut di fikiran saya KAMU NEEDY… KAMU DIKUASAI ILUSIMU SENDIRI TANPA TINDAKAN…. satu kata yang merusak pikiran saya KAMU NEEDY, hanya ada FERA,FERA DAN FERA.
Saya pukul keras-keras tembok kamar berkali-kali hingga keluar peluh kekecewaan. Tapi tetap saja saya harus mengakui bahwa saya NEEDY.
Saya duduk termenung sejenak, ‘apa yang sudah saya lakukan?’ Kenapa saya tak mau gagal, biasanya tak ada wanita yang menolak untuk berbincang intim dengan saya! kenapa saya yakin bahwa gadis belia ini akan menolak berbincang intim dengan saya?.
Ternyata saya sadar bahwa saya sudah terjebak dengan ilusi saya sendiri dan KURANG ACTION, walau sudah berkali-kali saya tekankan pada diri saya tentang lima prinsip, tetap saja PERASAAN NEEDY itu ada.
Keesokan sorenya baru saya ajak fera berbicara empat mata. Dalam durasi lima menit di basement Gedung B Universitas Widyatama saya sampaikan perasaan saya dan tentunya saya sudah siap dengan segala resiko.
Saya : Fera, Akang suka sama kamu.
Fera : oh…. ya udah kang gak apa-apa! suka ama orang lain kan biasa.
Saya : ngeceng atau suka itu emang hobi manusia biasa, apalagi yang jomblo kayak akang. Tapi bayang-bayang wajah kamu udah bikin hari-hari sama kerjaan akang keganggu
Fera : ……
Dia yang saat itu memakai baju cream tersipu malu seperti anak tk yang diiming-imingi boneka hello kitty.
Semenjak saat itu hingga kini saya masih berusaha menghapus bayang-bayangnya di pikiran saya dengan satu alasan klasik ; MASIH TERLALU BANYAK IKAN DI LAUT.
Saat ini saya tak tahu apakah kemampuan saya sebagai PW masih ada atau tidak, saya merasa needy telah menjadi penyakit yang menggerogoti insting saya sehingga saya harus membuka kembali modul,artikel dan materi.
Saya ambil hikmah berharga dari kejadian saya ini, sebelum kita menaruh perasaan kita harus mengambil perasaan target terlebih dahulu dan NEEDY itu nyaris sama dengan perasaan munafik ‘lain di mulut, lain di hati’. Kita mudah berucap ‘saya tidak needy’ tapi kalau hati sudah dalam mendambakannya, gejala needy menjadi jelas.
Semoga rekan-rekan pembaca semua bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari pengalaman/kegagalan saya ini.
Label:
college,
confession,
social dilema,
suspect target
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar