Senin, 01 November 2010
“Skali Yongkru??” kata saya dengan gerakan agak terburu-buru.
“Tetap Yongkru!!!”
“good! I love your style bro!” jawab saya pada beberapa sejawat 2010,2011 dan beberapa 2009 yang menebarkan sapaan hangat pada saya di kampus.
Setelah itu saya pergi untuk melanjutkan kegiatan. Itulah salah satu ciri khas saya yang diciptakan oleh beberapa pentolan 2010, saya rasa mereka para orang jujur yang akan menjadi orang senang di kemudian hari AMIN.
Tanpa bermaksud nepotisme, orang-orang tersebut adalah Acel, Bule, Eka, Putra, Didit, Fikri, Andre…. (yang lainnya saya tak ingat, tapi semoga saja yang lain akan hidup senang di kemudian hari AMIN). “Thanks all… skali yongkru??”
Alhamdullilah berkat nama Yongkru tersebut, orang-orang mudah untuk mengingat dan menyapa saya. Tapi tak sedikit yang tahu bahwa dulunya saya dijauhi dan tak sedikit yang masih mengecap saya sebagai ‘orang belagu’. Saya ulangi :
'SAYA DULU DICAP ‘BELAGU, SOMBONG DAN OVER IDEALIS’
Salah satu tulisan yang pernah saya kirimkan di Grup Medic Farma 2010 adalah “TERIMA KASIH, saya mendapat keluarga baru dan pelajaran pribadi dinamis”, perkataan tersebut sempat diledek oleh Sang Koordinator. Tapi saya tak menggubrisnya karena pernyataan itu serius.
Maka catatan ini bisa anda katakan sebagai catatan eksplisit. Alkisah ketika pertama kalinya saya menginjakan kaki di Cikutra 204A.
Universitas Widyatama saat itu (saya lupa tanggalnya, yang pasti sedang bulan puasa) dipenuhi oleh unsur warna putih-abu dan beberapa biru tua. Saya datang terlambat setengah jam dikarenakan alasan standar yaitu ‘menunda’ atau familiar dengan budaya buruk Indonesia (nyantai kayak di pantai).
“adek-adek 2009 yang baru datang! silahkan hampiri mentor-mentornya” ucap Teteh kordinator mentor yang memakai toak kepada para barisan Mahasiswa Baru 2009.
“oh my God! Saya bergabung dengan adik-adik kelas saya!” kata saya yang melirik kanan-kiri di barisan kelompok 24.
“sia kadieu bal!” ucap satu suara mengagetkan di sebelah saya, dia adalah orang yang pertama kali saya kenal di kampus yang sampai sekarang menjadi Sahabat/Rekan Kerja/Kawan Nongkrong.
“sia angkatan jebot nyak?” ucap pria berjenggot itu kembali sambil merangkul saya, oh apalagi ini? Sepertinya syndrome anak muda yang sok jagoan masih ada di strata perguruan tinggi.
“enyak! Urang aslina 2007!” balas saya, gayanya yang berisik membuat saya berani menjawab, uniknya orang bertampang pencopet ini tau bahwa saya bukan 2009 asli.
“kalem bal! urang ge 2006 aslina mah!”
“oh! Alus! Ngaran maneh saha?”
“Dik-dik!” huahahahahahahaha…. Sebenarnya saya tertawa dalam hati, gila! Vulgar sekali nama orang ini, andaikan dia berkenalan dengan orang inggris, mungkin gamparan telak mendarat di pipinya. Setelah itu saya melanjutkan perbincangan bersama Putra Ciwidey yang kini berganti panggilan menjadi ‘Boy’.
Selanjutnya ketika saya digiring masuk GSG, saya dikejutkan kembali oleh sepupu Dik-dik yang tak kalah berisiknya, sampai sekarang juga beliau menjadi Sahabat saya. Untung saja sikapnya cukup asik, hal ini dibuktikan oleh wajarnya nama panggilannya yaitu ‘Fahmy’.
Dan asiknya lagi fahmy adalah angkatan 2007, beliau harus bersyukur karena saya sempat percaya dia asli 2009 dan sampai sekarang wajahnya masih cocok memakai seragam SMA. Sampai sekarang dua sahabat saya ini menjadi Sahabat/Rekan Kerja, kini kami punya rumah kedua yang bernama UKM Kewirausahaan.
Tapi mungkin sampai sekarang mereka tak tahu bahwa saya dulu menaruh rasa jijik kepada mereka karena sifatnya yang fleksibel dan dinamis. Ya! Dulu saya membenci sifat fleksibel karena saya dulu menganggap bahwa membuka diri adalah memperlihatkan kelemahan. Maka dulu bisa dikatakan saya hanya punya 2 teman, yaitu Boy dan Fahmy. Sedangkan teman-teman lama di kampus sudah disibukan oleh kegiatan masing-masing.
Adalah Massa 2009, Event Organizer tahunan yang diselenggarakan angkatan baru di kampus, saya rasa dengan pengalaman terdahulu, saya bisa berkontribusi dengan maksimal disini.
Rekan-rekan saya di massa saling membuka diri, memperlihatkan kebolehan dan bersikap apa-adanya sedangkan menurut saya sikap tersebut adalah pangkal dari kelemahan. Sebelumnya saya mohon maaf kepada para Rekan-rekan saya di massa, khususnya kepada Dicky Bagja Ramadhan (Ketua Angkatan 2009) dan Julian Sina (Koordinator Divisi saya di Massa 2009).
Tak jarang juga rekan-rekan saya tersebut secara alami mengubah saya untuk membuka diri, saya masih menolak secara angkuh dan arogan.
Dampaknya sampai saat ini, tak sedikit alumni Massa 2009 yang menaruh rasa jijik kepada saya (dan saya tahu siapa saja orangnya). Mungkin saja pendapat saya berbeda dan saya jamin bisa efektif, tapi saya telat tersadar bahwa pendapat saya dulu terkesan arogan daripada terkesan problem solver.
Maka massa 2009 bisa saya beri kesan tidak terlalu manis untuk saya pribadi.
Berlanjut setelah itu saya mengikuti Divisi Medic PPK-Mabim 2010, dengan rasa percaya diri saya mengikutinya karena saya punya pengalaman di SMP. Niat saya hanya ingin berkontribusi berbekal pengalaman yang saya punya. Tidak lebih!
Kembali lagi saya menemukan suasana berbeda dengan yang saya inginkan, disini saya dihadapkan kembali dengan suasana fleksible, sederhana dan sama rasa. Walau tak ada satupun yang menegur saya, tapi stuck saya semenjak masuk kuliah memuncak di divisi ini, mulailah muncul pertanyaan dalam hati. Kenapa tak ada satupun senyum pedulu pada saya? Tak cukupkah kontribusi dengan berbekal kemampuan saya?.
Semua kosong.
Hampa.
Tak ada gairah.
Kemampuan saya menjadi Setan Kesombongan.
Yang ada hanya idealisme sampah.
Dan saya dibutakan oleh Kesombongan.
Seketika itu lamunan saya berakhir dengan benturan kepala saya ke tembok, dan hati kecil saya bicara ‘KAMU PUNYA KELUARGA BARU yang bernama DIVISI MEDIK 2010”. Semenjak saat itu sampai saat sekarang, saya sangat mencintai Divisi ini dan saya sangat sedih Kekeluargaan ini tidak berlanjut di PPK-Mabim 2011.
Saya takkan sempurna dan bukan orang baik, saya hanya berusaha lebih baik dari hari ke hari, saya tak mau menyalahkan orang-orang yang memandang saya sebagai orang menyebalkan.
Maafkan yongki yang pernah arrogant ini….. saya tak mau meratap atas kesalahan terdahulu, maka jangan sungkan untuk mengungkapkan kekesalan anda kepada sikap arogan saya terdahulu.
Kesimpulan : Kelebihan tanpa kerendahan hati bisa berubah menjadi sampah dan kesombongan. Kesombongan sama seperti membawa kentang busuk yang membuat diri anda tak nyaman.
Semoga rekan-rekan semua bisa mendapat hikmah dari pengakuan radikal ini.
.Regards Yongki Yessa a.k.a. Yongkru
.Regards Yongki Yessa a.k.a. Yongkru
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar