Twitter Blogger :

Diberdayakan oleh Blogger.

Who's the blogger?

Foto saya
Truth is about discovery and fun adventure.
Selasa, 27 Desember 2011
27 Desember 2011
Langkah kaki terjurus ke kosant sejawat saya yang bernama Ade Setia Permana alias Mang Udenk, yang merupakan Pentolan Fakultas Desain Komunikasi Visual di kampus. Begitu saya buka kamar, semerbak aroma keringat kucing, aroma fermentasi ampas kopi dan tumpukan pakaian kucel membuat saya serasa di pasar cimol.

Cuek dan kecewa adalah perasaan tepat untuk saya, karena teman sejawat saya yang membuat saya dicurigai sebagai 'Gay' tidak berada dikosan. Spekulasi saya dia sedang berada di kampung halamannya menikmati minggu tenang sebelum menjelang UAS (Ujian Agak Serius). Maka dengan cuek kembali, saya mengsetting kosan menjadi 'House Mode' (dalam konteks berarti Anggap rumah sendiri).

Entah apa yang bisa saya mulai untuk menyamankan kondisi saya di kamar kosant ini, entah dari tumpukan baju yang tak karuan, kasur berantakan atau diri saya yang belum mandi di sore itu. Kekacauan tata letak barang dikosan ini sama rasanya seperti jiwa saya yang tengah bertikai karena pemikiran masa kecil yang salah, mari kita flashback ketika saya masih berada di Taman Kanak-kanak.

Tahun 1994. Iron Man kartun menjadi tontonan favorit Putra Sulung Pak H.Sadri, bocah lincah bermata sipit tersebut melakukan tarian konyol ala Boyband masa kini, bedanya lirik yang bocah ini bacakan adalah "ciunkkk ciunkkk laser penghancur.... terbangggg...." ketika bocah ini nekat melakukan scene melompat sambil berteriak "jurus terbang...", 'gumprakkk...' pecahlah miniatur kereta api miliknya tatkala dia mendarat dengan posisi bokong terlebih dahulu.

Refleklah bocah ini melakukan teknik scream ala vokalis metal untuk menahan sakit bokong tersebut, miniatur kereta api yang baru dibeli ayahnya kemaren sore sudah tak bernyawa. Bagian yang masih bernyawa hanya Dinamo kecil bertenaga 3Voltage dengan kecepatan 1 km/jam, isak teriakan akan mainannya yang hancur semakin menjadi-jadi ketika Ayahnya berkata "makanya punya mainan itu jangan dirusakin!".

Andai saja lidah saya sudah terlatih seperti saat ini, dikala itu saya akan berkata "nanti yongki bikin kereta beneran berbahan bakar ingus pah!". Sebenarnya bisa saja saya satukan kembali mainan tersebut dengan Lem perekat. Tapi tangan saya lebih penasaran dengan isi dari Dinamo tersebut yang terdiri dari kawat tembaga berdiameter 0.4 mm, gulungannya antara 21-25 per balok dll (Pelajaran Elektronika kelas 2 SMP, saya tak ingat komponen yang lainnya).

Sesudah Dinamo tersebut saya bongkar dengan asal-asalan karena Penasaran dengan isinya, terdengar satu suara menggemaskan dari balik pintu yang berbunyi "yongkii ii ii ii ii iiii.... maen yuk!" ucap gadis kecil yang saya ingat bernama Lirana. "masuk aja ana, aku lagi maen kereta-keretaan" jawab saya yang masih memegang obeng.

Lirana masuk ke rumah memakai... (bisalah anda bayangkan dikala seorang gadis cilik belum mengenal Rok Mini, Jeans Ketat apalagi G-S*ring). Dia membawa tas berisikan mainan yang berlainan gender dengan saya seperti :

1.Miniatur peralatan masak, seperti wajan, kompor, panci plastik dll.
2.Boneka Bayi Barbie lengkap dengan dot palsu dan gendongan.
3....saya tak ingat lagi....

"kamu lagi ngapain?" tanya lirana.
"ini keretanya rusak! nanti penumpangnya gak ada yang bisa naek" kata saya tanpa memalingkan muka.
"oh! kamu pasti capek! sebentar, aku bikinin masakan yah!" ucap lirana.

= saya tak ingat apa yang selanjutnya saya bicarakan, tapi ada beberapa obrolan yang masih saya ingat =

"cita-cita kamu mau jadi apa?" tanya lirana yang sedang pura-pura memasak
"aku mau jadi Insinyur, aku mau bikin iron man supaya aku bisa dagang robot terbang. kalau kamu?" tanya saya yang untuk pertama kalinya memalingkan muka ke arah Lirana.
"aku pengen bisa main mamah-papahan sama kamu sampai gede" jawab Lirana sambil tersenyum lugu.
"........." jelasnya saya tak mengerti apa yang telah dikatakannya lalu meneruskan tanggung jawab saya sebagai 'penghancur mainan kereta api'

Setelah saya menyelesaikan pendidikan TK saya, Keluarga saya hijrah ke Bandung sampai saat ini. Ucapan terakhir Lirana yang masih saya ingat sampai saat ini adalah "nanti kita mamah-papahan lagi kalau kamu udah jadi Insinyur"

Namun perjalanan karir saya sebagai 'Penghancur Mainan' tak berhenti sampai saat itu saja, Di Lingkungan terdekat saya banyak sekali anak-anak pengoleksi mainan, contohnya sejawat masa kecil saya yang bernama Hari (sayang... namanya yang sekarang sulit anda eja dikarenakan dia sudah menggapai mimpinya menjadi Anak Alay. Untuk pihak terkait semoga anda sadar betapa saya merindukan sosok anda yang tidak 4L4Y)

Ketika banyak bocah pengoleksi mainan di lingkungan saya, paradigma saya adalah ; 'bocah gaul adalah pengoleksi mainan dan bocah pintar tidak akan mengutak-ngatik mainan kepunyaannya' apalagi sampai membongkar isi Dinamo. OKEyyy... nampaknya harus saya turuti paradigma tersebut.

Berhubung saat itu pengoleksi mainan didominasi oleh kaum adam, lahirlah paradigma baru berbunyi ; 'bocah keren tidak banyak bergaul dengan gadis kecil' BAIKLAH... naluri saya ikut terbawa dengan paradigma tersebut.

Paradigma tersebut lama-kelamaan menjadi mindset sampai saya bersekolah, saya sering minder apabila ada gadis yang dekat dengan saya karena saya takut dicap 'bocah cupu', maka solusi saya adalah 'jauhi anak gadis manapun'. Sampai usia 17+ saya masih memegang Mindset tersebut. Dampak besarnya sampai saat ini seJUJURnya saya tidak pandai bergaul dengan anak gadis (kecuali wanita dewasa atau gadis yang dari sananya berkarakter pengertian)

Semakin berkembangnya hormon maskulin dalam tubuh saya dan semakin indahnya perkembangan fisik seorang anak gadis, membuat naluri saya memanggil hasrat untuk menyukai lawan jenis, maka paradigma nomor 2 berganti dengan 'Bocah Keren itu disukai para gadis'.

Ketika saya bingung memilih tempat kuliah, lahir satu paradigma lagi bahwa 'saya ingin kuliah di fakultas dengan banyaknya kuantitas mahasiswi'. Namun apa yang saya temukan sekarang?

1.Panggilan hasrat masa kecil
2.Kesadaran bahwa ada waktunya untuk tidak berstatus 'lajang'
3.Betapa bodohnya apabila seorang manusia mengikuti hawa nafsu dan tidak mendengarkan hati kecil.

Kebingungan antara paradigma ini memuncak dan sering berbenturan dengan cita-cita kecil saya. Hingga pengalaman ini saya sharing kepada pembaca sekalian. Kamar Kosant tiba-tiba didatangi oleh seorang kurcaci berjaket hitam dan mengeluarkan suara "panto kosant aing aya nu muka!" dan selesailah notes saya ini dibarengi datangnya sang tuan rumah bernama Udenks.

KESIMPULAN : ikuti kata hati lalu bertikailah melawan nafsu atau anda setengah menyesal. Dan hati-hati apabila anda membuat Paradigma (Kerangka pikiran .kamus besar bahasa indonesia).

btw apabila Lirana belum menikah dan membaca notes ini, semoga dia tidak menarik janjinya karena saya belum melanggar janji tersebut.

0 komentar: