Twitter Blogger :
Blog Archive
-
▼
2013
(8)
-
▼
Juni
(7)
- Realita Liar, Part VI - Krisis Etika Sikap Mahasiswa
- Realita Liar, Part V - Budaya Jaringan dan hakikat...
- Realita Liar, Part IV - Aspirasi kepada Yth Pengajar
- Realita Liar, Part III - Komunitas Hobi
- Realita Liar, Part II - Sumber Daya Asmara
- Realita Liar, Part I - TV Komunitas
- Realita Liar, untuk pengembangan Kampus (Intro)
-
▼
Juni
(7)
Diberdayakan oleh Blogger.
Blog saya yang lain
Who's the blogger?
Minggu, 16 Juni 2013
Bagi angkatan 2010 dan sebelumnya.
Tentunya kita mesti ingat dengan sederet pengalaman seru ketika memasuki masa
orientasi dan pengenalan kampus atau lazim dengan sebutan acara ospek. Seiring
dengan perkembangan zaman serta citra lembaga pendidikan, tujuan awal dari
ospek seringkali dilupakan yakni memperkenalkan norma dan kehidupan yang lebih
serius daripada masa di SMA.
Salah satu Implikasi-nya dibuktikan, oleh satu Divisi
yang melatih mental dan adab di kampus, namun tidak menghilangkan esensi
memberikan sistem kedewasaan dini bagi para mahasiswa baru. Divisi ini bisa
terbilang adalah Divisi yang paling bergengsi bagi sebagian mahasiswa, dari
penampilan dan lagaknya saja sudah membuat berbagai mahasiswa yang tidak ikut
serta dalam kepanitiaan iri untuk ikut terlibat.
Entah apa yang terjadi dengan
budaya atau acara ini, semakin tahun dari tahun angkatan saya masuk kuliah,
tradisi semakin buram dan puncaknya pada tahun 2012, benar-benar tidak ada
kegiatan acara ospek yang diisi dengan acara pengenalan kampus, acara permainan
karakter mahasiswa sampai tidak ada, acara pengenalan dari tahun 2012 ini hanya
diisi dengan duduk mendengarkan ceramah para petinggi kampus dari kalangan
Dosen.
Revolusi ini mungkin terdengar sepele bagi perspektif pejabat tinggi, dikarenakan seletingan dan pengaduan dari beberapa pihak, entah apalagi. Padahal ospek adalah rangakaian penting yang membuat mahasiswa/i baru sadar dengan efektif akan etika kebebasan dalam berperilaku pada lingkungan sekitar, tentunya dengan asumsi bahwa para pelaku dalam kepanitiaan ospek adalah orang-orang terpilih dengan tanggung jawab, dedikasi, rasa cinta dan komitmen kuat dalam menjalaninya.
Bila dirasa revolusi penghapusan ospek adalah cara tepat dalam bertata krama menyambut para mahasiswa/i baru. Para maba/miba lambat laun akan segera merasakan dampak buruk dari pengenalan etika bersikap, contohnya di kelas General English saya kemarin, walau Dosennya sangat ramah, namun tak sedikit mahasiswa yang masuk ketika perkuliahan segera selesai. Entah di kelas lain, namun di kelas ini saya berani memberi kesaksian dengan mengundang beberapa teman sekelas yang bisa saya percayai.
Label:
college,
confession,
social dilema
|
0
komentar
Kala saya masuk ke gerbang kampus, secara
insiatif saya mengangkat hormat kepada Satuan Pengaman menggunakan tangan kiri
(tangan kanan memegang setir sepeda motor) hehehe...
Ketika saya turun dari motor, saya kerap tak
sengaja bertemu beberapa petugas ruangan yang berwajah letih, namun saya tak
ragu untuk menyapa senyum (kalau bisa saya jabat tangannya dan sedikit bergurau).
Setelah itu saya melangkah menuju ruangan perawatan komputer di lantai dasar
gedung B, beberapa Insinyur Komputer dan Informatika sedang sibuk merawat
komputer dan memastikan para mahasiswa bisa nyaman memakai fasilias komputer
sebagai sarana pembelajaran.
Sebelum kita lanjut, mari kita doakan dan
mengucap terima kasih pada Satpam, Perawat Kebersihan Kampus dan Teknisi
Perawat Komputer sebagai orang-orang yang berandil besar bagi kenyamanan dan
keamanan kita di kampus, kalau ada penghargaan pengabdian dari Universitas,
saya rasa tiga golongan ini sangat berhak menerimanya.
Setelah dari parkiran, saya melangkah ke
basement gedung B atau kerap disebut Food Court, disana rumah saya di sudut kampus.
Biasanya di suatu meja dalam beberapa langkah jauh sebelum ke pintu studio,
saya bertemu sejawat dari Fakultas Desain Komunikasi Visual seperti Udenk,
Gilang, Peking, Jabal, Ayodia, Gania, Fika, Ghusan Ari, Ogink, Muthiq, Adnan, Kamal,
Indra, Ridho, Galih, Welli, Andi, Reksi dll.
Setelah agak dekat, saya bertemu para sejawat
yang stay dekat ayunan, atau dikenal dengan Jangkrik Boss FC seperti Argo,
Mukhlis, Ibonk, Adhi, Galih, Tiko, Budhi, Yudhis, Guntur, Batam, Farid, Putri,
Siti, Rani dll. Setelah saya dekat dengan pintu UtamaTV, tentu saja saya
bertemu keluarga ketiga saya dari Fakultas Bahasa yang notabene juga crew
UtamaTV. Itu baru lingkungan yang sangat dekat dengan rumah di sudut
kampus atau fc.
Saya tidak bermaksud ria dalam mengumbar
sepak terjang saya yang lebih banyak dicap penggurau
yang gila di kampus daripada bintang mahasiswa. Saya sadar, saya bukan
termasuk golongan mahasiswa dengan IPK dewa, bukan mahasiswa berparas tampan, bukan
mahasiswa yang digilai banyak sekali mahasiswi, tidak handal membuat humor
basah, bukan preman kampus yang senang andil dengan keramaian.
Saya
hanya punya senyuman, senang bercengkrama, sikap yang terkadang irasional dan
menjunjung etika pria. Alhamdullilah hal-hal tsb
adalah berkah dari Allah SWT yang dititipkan pada saya, realitanya rata-rata orang
berpengaruh di sudut kampus hafal wajah atau nama saya.
Oke mari kita masuk intisari yang mendasari pengalaman saya diatas :
Pernah satu waktu teman saya dari suatu jurusan,
meminta saya agar mengenalkannya pada mahasiswa jurusan Bahasa Inggris untuk
menerjemahkan paper berbahasa Inggris, saya langsung terheran, mengapa yang
satu gedung tidak saling mengenal? Padahal fakultas mereka satu gedung. Okeh,
silahkan anda jawab tidak ada gunanya. Tapi lihat lagi apa keperluan pihak
pertama.
Fenomena kedua. Pernah saya mengikuti suatu kepanitiaan
kampus, ada seorang mahasiswa divisi A, dan mahasiswa divisi B jurusan desain,
yang siap menanti perintah yang berhubungan dengan Seni Grafis, namun apa yang
terjadi?
Pihak A membuat kaus team panitia yang
terdapat ketidak-sesuai-an kaidah grafis, atau singkatnya berlebihan untuk
kesan keren, bahkan lambang vector konyol yang menurut hemat saya tidak perlu,
saya sempat geram dan setuju bila ada perkelahian dalam panitia.
Saya simpulkan, pihak pertama meng-anggap dia
lebih dekat dengan staff inti dan dekat dengan pihak besar yang menaungi
panitia kami, maka bebas berkreasi tanpa menghormati pihak yang seharusnya
bekerja di bidangnya. Bahkan tidak bekerja sama atau berkonsultasi. Karena apa?
Dasarnya karena tidak ada silaturahmi dan koordinasi jaringan yang baik.
Jaringan pertemanan yang terbatas hanya pada
lingkungan yang nyaman bagi individu, secara permisif saya sebut CUPU, paradigma selama ini kita mengenal
bahwa culun punya hanya diartikan sebagai orang yang aneh serta menjadi
bulan-bulanan orang-orang merasa gaul dan merasa punya aliansi solid mengaku
gaul. Dinamika hidup mengajari saya pribadi bahwa, esensi CUPU diartikan
sebagai orang yang membatas diri terhadap pergaulannya dan nyaman dengan
pergaulan yang ada.
Sepertinya tidak ada kendala eksternal
apabila elemen-elemen kampus mulai menanamkan mindset bahwa semua satu negara
adalah satu saudara yang tidak ragu untuk berkenalan berjabat tangan dan
membuat aliansi satu sama lain. Dewasa saat ini berbagai cara untuk mempererat
silaturahmi dan kerja-sama, kita
rasa bukanlah persoalan baru.
Justru saya sering
prihatin atau seringkali ingin tertawa, bila ada seseorang yang hanya berani berkata
lantang di kandang, atau seringkali kita sebut dengan katak dalam tempurung.
Label:
college,
emotional composition,
social dilema
|
0
komentar
Saya pernah mengikuti mata kuliah Pajak yang
didosen oleh DR. H. Oyok Abunyamin, S.H., M.Si. pada saat pertemuan pertama,
beliau menyampaikan pentingnya pendidikan bagi kelangsungan daya negeri ini baik
individu/kelompok. Selain Keluarga, Ide dan Kepercayaan, Ilmu adalah harta yang
mahal di dunia ini.
Mari kaji satu hal yang disampaikan
Pak Oyok, Ilmu. Ilmu mungkin bisa didapatkan dimana saja, bahkan otodidak memahami pentingnya Ilmu formal. Disana ada Sistem efisien yang lazim
disebut Pendidikan. Korelasi-nya dengan Negara Bisnis Cikutra
adalah merujuk pada pelaku pertama yang menjadi tombak dalam misi lembaga
pendidikan,
sebagai pembuka jalan menuju kecintaan pada ilmu, yaitu DOSEN.
Saya memahami resiko terburuk (seperti Drop
Out, nilai saya dilucuti, di anak-tiri-kan dll) karena membuat tulisan ini
secara kritis, bahkan cenderung mengungkap sisi arogansi profesi Dosen. Serta
akan sangat wajar apabila ada Dosen yang menggugat saya dan saya siap bertanggung jawab menghadapi anda.
Mari kita kaji beberapa objeknya, adalah salah
satu mata kuliah saya di semester Ganjil tahun 2013 (kebetulan mata kuliah yang
ingin saya spesialisasi-kan), penilaian secara objektif merupakan Dosen senior
yang memiliki reputasi skala internasional bahkan penelitian beliau bukan hal
yang main-main, mungkin masih ada Dosen lainnya yang saya cap menyebalkan dari
sisi gaya komunikasinya, namun beliau yang satu ini kerap menjatuhkan mental
para mahasiswa secara alami dengan beberapa cara, yakni pembawaan masam ketika
selama jam belajar, mengkritik dengan melimpahkan kesalahan adalah milik
mahasiswa dll.
Bolehlah kalau misalnya ada pendapat
mengatakan, Kesalahan dibuat oleh
Mahasiswa dan Kebenaran berasal dari Dosen, apakah ini yang namanya
mendidik? Apa itu pendidikan bagi Dosen? Apakah pendidikan itu membina, mentari
bagi rabunnya karakter seorang Mahasiswa? Apa hakikat pendidikan di negeri ini?
Merangsang orang untuk maju atau menekan mental agar menimbulkan rasa sentimentil
dan rasa acuh pada ilmu yang diberikan?
Apa jadinya bila dua pihak tersebut keluar
dari geografis pendidikan? Yang ada minimal serapah, seletingan, bahkan lebih
buruk lagi? karma kepada
pihak pertama, hal itu yang menjadi kekhawatiran saya sebagai manusia biasa,
tentu saja saya selalu berusaha menghindari amarah serapah yang keluar dari dendam,saya
tak mau sampai Ujung tombak di dunia pendidikan ini merasakan hal yang pahit di
kemudian hari.
Ketika hal ini terjadi di sekolahan, sebagian
besar anak murid yang cuek minimal bisa bolos sekolah dan mengandalkan
kebijakan sekolah agar lulus/naik kelas, atau bagi pelajar yang peduli, bisa
mengadukannya kepada Guru Bimbingan Konseling.
Nah! Di lingkungan perguruan tinggi? Dimana
kita bisa mengadu? Kalaupun ada, dimana informasi kita bisa mengaspirasikannya?
Saya sendiri jujur angkat-tangan bagi contoh objek ini, saya khawatir dengan
hengkangnya beliau dapat mengancam akreditasi kampus. Bila kita balikan lagi
pertanyaannya, sumber daya apa yang menaikan akreditas kampus? Tentu karya
mahasiswanya sendiri. Siapa yang berperan dalam meningkatkan kualitas Sumber
Daya Mahasiswa? Pacar? Teman Nongkrong? Jangan konyol! Jawabannya adalah
Pengajar alias Dosen yang berperan sebagai etalase bagi kecintaan pada keilmuan.
Ada satu hikmah kecil
bagi saya, suatu saat kala saya cukup kenyang menikmati Ilmu, Karir dan
Menafkahi Anak-Istri. Saya akan mengambil karir sampingan menjadi Dosen. Saya ingin
mengajar mata kuliah Metode Kuantitatif, Oh! Bagaimana kalau Metode Penelitian Manajemen
Pemasaran? Filsafat? atau Rekayasa Fisika? Sistem Mekanika? (kalau saya jadi
kuliah lagi di jurusan Teknik, Amin Ya Allah! Aminkan kawan-kawan!!) hehehe....
#serius
Label:
college,
confession,
social dilema,
suspect target,
true story tale
|
0
komentar
Seringkali saya mendapati beberapa
skateboarder sedang menghabiskan waktu di lapangan basket di depan pustakaloka,
para ilustrator jalanan
sedang menggambar pada kanvas, dengan gemulai di meja FC atau meja Kopma,
baseballer yang berteriak home!
Run! di jalan belakang gor
badminton. Dan
beberapa komunitas positif dan produktif yang saya juga tak sempat menghitung
lebih lanjut.
Bahkan ada seorang pemusik yang namanya sudah
merambah ke China yang pasti sebagian besar penikmat musik blues terutama di
Bandung telah akrab dengan namanya. Untuk clue beliau adalah angkatan 2005,
yang dimana jarang ada panitia kampus yang mengundang untuk main di acara kampus.
Padahal berdasarkan informasi dari komunitas ruang putih, Kakang angkatan 2005
ini adalah salah satu Generasi pewaris musikalitas Blues-Rock tanah air. Mari kita lihat Kakang kita disini dan beritanya ke macau.
Sepertinya tidak usah
saya teruskan panjang lebar tentang hal ini, cukup dipikirkan atau
ditindak-lanjuti satu pihak besar yang bisa mengembangkan para komunitas
penggiat ini agar lebih baik, atau dibiarkan menjadi harta karun yang bisa saja
direbut oleh negara lain.
Label:
college
|
0
komentar
Langganan:
Komentar (Atom)
